Situs Bersejarah Tidak Terawat - Bangunan Tua di Kota Bogor Mulai Didata
Friday, May 18th, 2007Serang, Kompas - Sejumlah situs dan benda bernilai sejarah yang berada di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, terbengkalai. Selain kumuh dan tidak terawat, sebagian situs dan benda bersejarah itu pun berubah fungsi, bahkan ada yang hilang. Peninggalan bersejarah yang tidak terawat itu di antaranya ditemukan di kawasan atau situs Banten Lama.
Berdasarkan pemantauan, Rabu (16/5), puing-puing reruntuhan bangunan di kawasan tersebut terlihat kotor. Reruntuhan bangunan Keraton Kaibon, Keraton Surosowan, Benteng Speelwijk, dan lainnya dibiarkan berlumut dan ditumbuhi rerumputan. Pada bagian luar bangunan peninggalan kerajaan Islam Banten pada abad XVI-XVIII Masehi itu juga terlihat kotor, dipenuhi sampah para pengunjung.
Begitu pula Jembatan Rante, yang berada di sebelah utara Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten Lama. Jembatan yang dulu digunakan sebagai tempat memeriksa kapal yang masuk dan keluar keraton itu tidak terawat. Sungai Banten yang berada di bawahnya bahkan telah menyempit dan berubah fungsi menjadi lahan pertanian dan kubangan air kotor.
Saat Banten berjaya beberapa abad lalu, lebar sungai itu mencapai 16 meter dan biasa dilalui kapal-kapal asing menuju pusat jual beli rempah-rempah di Kampung Pamarican.
Menurut warga, sungai bersejarah itu mulai menyempit sekitar tahun 1990-an dan saat ini lebarnya hanya satu meter hingga empat meter. “Dulu waktu saya kecil, airnya masih jernih dan masih lebar. Tapi sekarang sudah seperti sungai mati,” tutur Suhanda, warga Desa Banten, Kecamatan Kasemen.
Situs Karangantu
Kondisi serupa terjadi di situs Pelabuhan Karangantu, yang terlihat kumuh dan kotor. Saat ini kawasan Karangantu dipenuhi gubuk kumuh, baik yang digunakan untuk permukiman warga maupun tempat mengolah ikan. Muara sungai juga sudah menyempit sehingga sulit dilalui kapal-kapal besar.
Padahal, dulu, kawasan ini termasuk bandar besar di kawasan Asia Tenggara yang ramai disinggahi kapal-kapal asing dari Persia, Arab, Portugis, Inggris, Belanda, Gujarat, dan lainnya. Daerah itu juga digunakan sebagai pusat jual beli atau pasar rempah-rempah, bahan tekstil, dan hasil bumi baik dari dalam maupun luar negeri.
Kondisi situs Keraton Banten Girang yang diperkirakan dibangun sekitar abad X Masehi juga memprihatinkan. Selain tertimbun tanah rerumputan, kawasan Keraton Banten Hindu itu telah berubah fungsi menjadi permukiman penduduk.
Bangunan bersejarah lain yang dibiarkan terbengkalai adalah bangunan bekas Bendungan Pamarayan di perbatasan Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak. Bangunan yang dibangun pada tahun 1918 itu terlihat tak terawat serta dipenuhi lumut dan rumput. Padahal, bangunan yang memiliki 10 pintu air dengan diameter masing-masing 10 meter itu dulu digunakan untuk mengatur arus air Ciujung, yang mengalir dari daerah Lebak menuju Serang.
Bangunan tua di Bogor
Di Kota Bogor, Jawa Barat, dinas informasi pariwisata dan kebudayaan setempat mulai mendata dan mendokumentasi bangunan tua dan benda bersejarah. Hasil pendataan akan didokumentasikan, lalu dibukukan sebagai kado hari ulang tahun ke-525 Kota Bogor pada 4 Juni 2007.
“Setelah itu kami akan mengupayakan agar bangunan-bangunan atau benda-benda sejarah itu dilindungi undang-undang, sebagai obyek bersejarah. Paling tidak, kami mengupayakan ada peraturan daerah, yang bisa melindungi kelestariannya,” tutur Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Informasi Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Nurhadiaty.
Nurhadiaty menjelaskan, untuk proyek tersebut, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah aktivis pencinta lingkungan dan pemerhati di Kota Bogor. Sedikitnya 90 orang terlibat dalam proyek ini, yang dipecah dalam beberapa tim atau unit kerja.
Ia menambahkan, sejauh ini Pemerintah Kota Bogor belum pernah secara resmi mendata dan mendokumentasi bangunan tua dan khas atau benda-benda sejarah yang ada di kota itu. (NTA/RTS)
Sumber: Kompas, Jumat, 18 Mei 2007