Harmoni Tinggal Nama

March 20th, 2009

KOMPAS.com — Masuk ke kawasan Harmoni, melewati jembatan, pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor masih bisa memandang Patung Hermes. Patung itu ada di sisi kiri, dari arah Jalan Hayam Wuruk, dan tentunya di sisi kanan dari arah sebaliknya. Patung yang terbuat dari perunggu ini berbentuk sosok pria dengan kepala dan mata memandang ke atas, sementara tangan kanan seperti menunjuk ke langit.

Dalam mitologi Yunani, Dewa Hermes digambarkan sebagai dewa pelindung para pedagang. Bangsa Romawi menamakan Dewa Hermes sebagai Dewa Mercurius. Patung yang sudah puluhan tahun menempel pada jembatan Harmoni itu sempat raib di seputaran Agustus, nyaris 10 tahun lalu.

Setelah akhirnya ditemukan kembali, Pemprov DKI memutuskan untuk membuat replika patung tersebut. Patung Hermes yang asli diperkirakan dibuat di tahun 1900-an, kemudian dipasang di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta (MSJ) pada tahun 2000, sebagai atraksi tambahan buat museum ini, tentunya, sedangkan replika patung dipasang di jembatan Harmoni.

Menyebut Harmoni tentu, seharusnya, tak hanya Patung Hermes yang jadi tengara. Di sana pernah berdiri Gedung Harmoni, yang didirikan tahun 1810. Gedung tempat pesta warga Belanda itu dirobohkan pada Maret 24 tahun lalu. Lokasi Gedung Harmonie, begitu tertulis di tembok atas bagian muka gedung itu, dulu ada di pojokan Jalan Veteran dan Jalan Majapahit. Kini lahan bekas gedung itu menjadi bagian dari lahan parkir Sekretariat Negara

Dalam catatan sejarah, gedung Harmoni disebut merupakan tempat berkumpul masyarakat Hindia Belanda. Pendirian gedung itu dipelopori oleh Reinier de Klerk tahun 1776. Bangunan itu berdiri di Jalan Pintu Besar Selatan. Namun, karena kawasan itu semakin jorok, oleh Daendels bangunan itu dipindahkan agak lebih ke selatan. Ya di pojok Jalan Veteran dan Jalan Majapahit itulah kemudian bangunan baru didirikan.

Hotel des Indes adalah tengara lain yang menguatkan Harmoni sebagai kawasan yang sibuk. Hotel ini dilibas pembangunan tahun 1971. Hotel yang letaknya tak jauh dari Gedung Harmoni ini ada di Jalan Gajah Mada. Di lokasi ini kemudian berdiri Duta Merlin, pusat belanja.

Hotel des Indes resmi beroperasi pada 1856 di tanah yang masih milik Reiner de Klerk. Sejarah juga merekam, Hotel des Indes bisa disejajarkan dengan Hotel Raffles di Singapura. Jika hotel itu di Singapura masih berdiri kokoh dan menjadi hotel berbintang yang bergengsi, maka Hotel des Indes sudah tak berbekas. Tak ada yang bisa diperlihatkan kepada generasi penerus.

Yang tersisa dari Harmoni hanyalah nama Harmoni itu sendiri. Bangunan bersejarah yang mengitari Societeit de Harmonie lebur bersama tanah di sekitar kawasan itu. Gambar di masa lalu serta sejarah berbagai gedung mewah di abad 19 itu juga sulit ditemukan. Sepotong sejarah pun hilang, setidaknya sejarah bagi penerus bangsa ini. (PRA)

Sumber: Kompas, Jumat, 20 Maret 2009


Rakyat Solo “Membeli” Benteng Vastenburg

February 21st, 2009

Walau merupakan saksi sejarah perkembangan Kota Solo, Benteng Vastenburg yang dibuat tahun 1745 oleh Baron van Imhoff kondisinya memprihatinkan, Sabtu (22/12). Selain sudah menjadi milik perseorangan, di areal benteng ini rencananya akan dibangun hotel.

Oleh Ardus M Sawega

“Melalui mengamen, kami hendak mengumpulkan uang untuk “membeli” kembali Benteng Vastenburg. Kami yakin dan optimistis, akan mampu membeli Benteng Vastenburg,” kata Murtidjono (58), Kamis (19/2), di Solo.

Menurut Murtidjono, Banteng Vasterburg kini berada di tangan swasta. Tidak seperti SBY yang serba tidak punya optimisme, para seniman terbiasa hidup penuh optimisme, walau makan saja mungkin susah.

Ucapan Murtidjono soal optimisme dan Benteng Vasterburg dengan gaya cengengesan itu langsung disambut dengan tepuk tangan meriah.

Mantan Kepala Taman Budaya Jawa Tengah itu memimpin beberapa seniman untuk mbarang alias mengamen di Warung Pecel Wong Solo di Jalan Mr Supomo, Solo, Kamis (19/2) siang. Di teras warung itu, yang biasa digunakan kelompok siteran, mereka mengamen. Di dinding terpasang poster bertuliskan “Pengumpulan Dana untuk 'Membeli' Kembali Benteng Vastenburg”.

Suasana warung pecel yang biasanya nyaman dan tenteram itu mendadak agak gaduh dengan kehadiran enam personel pengamen amatir yang biasanya nongkrong di Wisma Seni TBS. Mengusung dua gitar akustik, satu gitar elektrik dan jimbe, mereka menyuguhkan lagu-lagu bergaya rock, baik dalam bahasa Jawa maupun Indonesia.

Lagu-lagu yang dibawakan dengan ketukan (beat) yang dinamis membuat orang ikut menggeleng-gelengkan kepala atau bertepuk tangan. Kodok, Cunong, Janthit, Murtidjono bergantian bernyanyi. Di antara mereka, Kodok Ibnu Sukodok panggilan akrab mantan Bengkel Teater Yogya ini membawakan lagu-lagu karyanya sendiri seperti “Padang- padang Bulan” yang merefleksikan hidup yang getir lewat vokalnya yang serak tetapi berkarakter.

Janthit Rusharjanto menjelaskan, acara ngamen rakyat Solo ini akan berlangsung di berbagai tempat di Kota Solo. Minggu (22/2) pagi, mereka akan tampil di depan Kantor KPU, Kompleks GOR Manahan. Selain itu, ada rencana untuk berkeliling di berbagai kota seperti Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bandung.

“Aksi ngamen ini sebagai sikap keprihatinan rakyat Solo yang tak rela Benteng Vastenburg dimiliki oleh swasta. Benteng itu adalah simbol perjuangan bangsa Indonesia menghadapi penjajahan Indonesia karena itu harus kembali kepada negara,” ujarnya.

Selama 1,5 jam ngamen di Warung Pecel Wong Solo, mereka mengumpulkan uang Rp 364.000. Uang tersebut akan masuk ke rekening bank dan setiap kali mendapat uang dari hasil ngamen akan diumumkan di media massa.

“Kalau ditanya target aksi ini apa? Ya, kami baru akan berhenti jika terkumpul dana Rp 600 miliar, seharga Benteng Vastenburg itu,” ujar Janthit.

Dia menegaskan, aksi itu lebih bersifat simbolik dengan tujuan menggugah solidaritas warga masyarakat untuk bersama-sama tergerak semangat nasionalismenya. Alasannya, Benteng Vastenburg memiliki nilai sejarah yang tinggi.

“Bukan untuk membeli kembali Benteng Vastenburg. Benteng itu bukan milik swasta atau siapa pun melainkan milik negara. Kalau kami membeli berarti kami mengakui ada pemiliknya (swasta),” kata Janthit.

Menurut Janthit, dalam waktu dekat pihaknya bekerja sama dengan Aliansi Penyelamat Aset Negara mengadakan diskusi soal Benteng Vastenburg di Kantor YAPPHI Solo.

Sumber: Harian Kompas, 21 Pebruari 2009