Pemkot Mesti Membantu Pemeliharaan

March 17th, 2004

BANDUNG, (PR).- Sekira 400 bangunan bersejarah di Kota Bandung, terutama yang dimiliki masyarakat kurang mendapat perhatian dari pemerintah kota (pemkot). Idealnya Pemkot Bandung juga memerhatikan hak-hak masyarakat pemiliknya, misalnya membantu dalam pemeliharaan bangunan.

“Di luar negeri, selain masyarakat dilarang membongkar bangunan bersejarah, pemerintah juga memberikan biaya pemeliharaan. Di Bandung baru sebatas larangan pembongkaran tapi biaya pemeliharaannya belum diperhatikan,” komentar Kepala Dinas Bangunan Kota Bandung Ubad Bachtiar kepada wartawan, Senin (15/3).

Menurut dia, bentuk perhatian Pemkot Bandung bisa pula berupa pembebasan pajak bangunan, dsb. Hanya saja, belum ada peraturan daerah atau dasar hukum yang mengatur soal itu. Dengan demikian pemeliharaan bangunan bersejarah milik masyarakat diserahkan kepada pemiliknya.

Ia mengatakan, pihaknya sudah mendiskusikan soal pemeliharaan bangunan bersejarah dengan Bandung Heritage, sehingga hak dan kewajiban pemilik bangunan bersejarah betul-betul diperhatikan.

Ubad membenarkan, selama 10 tahun terakhir jumlah bangunan bersejarah di Kota Bandung sudah berkurang dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari. “Ya ada bangunan bersejarah yang tiba-tiba sudah rata dengan tanah. Ada pula bangunan bersejarah di Jln. Riau yang dibongkar, akhirnya Dinas Bangunan dan Bandung Heritage merenovasi bangunan ini disesuaikan lagi dengan aslinya. Memang untuk mengubah struktur bangunan bersejarah, harus ada izin dari Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah (TKPRD),” jelas Ubad.

Mengenai Toko Dezon sebagai salah satu bangunan bersejarah yang akan dipakai menampung pedagang kaki lima, Ubad menyatakan, boleh saja sepanjang tidak mengubah art deco bangunan tersebut. Lagi pula penataan yang dilakukan cuma interior bagian dalam gedung saja.

Tentang kemungkinan gedung bersejarah itu menjadi kumuh, Ubad berpendapat, konsepnya lebih baik berbuat daripada tidak melakukan apa-apa. Minimal ada itikad baik untuk menyejahterakan masyarakat karena gedung itu tidak dipakai.

Aset daerah

Sementara itu, Kepala Dinas Tata Kota Bandung Taufik Rachman membenarkan, Pemkot Bandung belum mampu memberikan kontribusi kepada pemilik gedung untuk memelihara bangunan bersejarah miliknya.

“Untuk pemeliharaan bangunan-bangunan bersejarah meskipun belum ada perdanya, prinsipnya pertahankankanlah aset-aset daerah yang berada di Kota Bandung. Sebab, bangunan-bangunan bersejarah juga merupakan kekayaan budaya,” ujar Taufik.

Untuk ke depan, Taufik mengharapkan bangunan-bangunan bersejarah di Kota Bandung seperti di negara-negara maju, makin antik dan tua makin mahal harganya. Masyarakat seharusnya menyadari bangunan bersejarah punya nilai yang tidak dimiliki bangunan lain.

Soal Toko Dezon yang akan dipakai tempat penampungan PKL, Taufik mengatakan, itu bukan masalah sepanjang bagian luar bangunan tidak mengalami perubahan. Toko tersebut juga tidak berubah fungsi, masih tetap komersial.

“Di bagian dalam Dezon, kan hanya disekat-sekat saja untuk mengatasi persoalan PKL di tujuh titik. Pengaturannya juga cukup bagus, yaitu dikelompokkan untuk pedagang baju, pedagang asesoris, dsb., dan tidak ada pedagang basahan. Konsepnya cukup memerhatikan kebersihan,” tutur Taufik. (A-56)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Rabu, 17 Maret 2004


Mencari Jejak Keturunan Charles Prosper Wolff Schoemaker

March 1st, 2004

TERKADANG Tuhan memberi pertolongan melalui jalan yang tak terduga. Seperti yang terjadi ketika Perhimpunan Amatir Foto (PAF) Bandung berencana merayakan hari jadinya yang ke-80 pada Februari 2004 ini. Para pengurus PAF menginginkan agar keturunan dari salah seorang pendiri PAF, Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker (1882-1949), dapat hadir dalam perayaan hari jadi tersebut. Namun, yang menjadi kendala, tak seorang pun dari pengurus atau anggota PAF yang mengetahui keberadaan keturunan dari Prof. Schoemaker itu.

Walaupun tidak memiliki keterangan apa pun tentang di mana keturunan Schoemaker berada, hal itu tidak membuat gentar Solihin, salah seorang pengurus PAF. Sejak akhir Januari lalu, dengan ulet ia membuka situs genokologi di internet, untuk melacak garis keturunan Schoemaker. Ia pun menghubungi konsulat dan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia demi mendapatkan keterangan yang dibutuhkan.

Upaya Solihin menghasilkan sedikit titik terang, saat melalui internet diketahui keberadaan salah seorang keturunan Schoemaker yang tinggal di Belanda. Solihin segera menghubungi orang tersebut dan menceritakan rencana PAF, walaupun yang bersangkutan bukan keturunan langsung Wolff Schoemaker.

Tak disangka, beberapa waktu kemudian orang Belanda itu memberi tahu Solihin bahwa ada cucu langsung dari Wolff Schoemaker yang saat ini sedang berada di Jakarta. Kepada Solihin ia memberi tahu bahwa ia telah menceritakan rencana dan niat PAF untuk menghadirkan salah seorang keturunan langsung dari Wolff Schoemaker (cucu Schomaker), yang kemudian diketahui bernama Juan Schoemaker.

Juan Schoemaker ternyata sudah berada di Indonesia selama lebih dari enam bulan. Ia adalah seorang peneliti untuk Johns Hopkins University yang sedang bertugas di Indonesia. Tanpa kesulitan yang berarti Solihin akhirnya dapat menghubungi Juan Schoemaker dan menceritakan rencananya. Juan bersedia datang ke Bandung pada hari Minggu (22/2) untuk menghadiri tabur bunga di Pemakaman Kristen Pandu yang diselenggarakan oleh PAF.

Yang membuat kisah pencarian ini semakin menarik adalah ternyata tidak hanya Solihin dan PAF yang sibuk mencari keturunan Wolff Schoemaker. Juan pun ternyata sudah sejak lama mencari “akar keturunannya” yang ada di Indonesia.

Seperti dituturkan kepada “PR”, saat tabur bunga di Pemakaman Pandu, Minggu (2/2), Juan sebenarnya sangat penasaran mengenai keberadaan kakeknya atau kerabat lainnya yang ada di Indonesia. Berbagai upaya telah ia lakukan untuk menelusuri garis keturunannya, namun selalu menemukan jalan buntu. Informasi yang ia ketahui hanya sebatas bahwa Wolff Schoemaker adalah seorang arsitek dan pernah tinggal di Indonesia.

Sampai suatu saat, ia berkunjung ke New Zealand dan menginap di sebuah hotel. Kebetulan, saat itu ia bertemu dengan seorang arsitek dan mereka terlibat dalam sebuah obrolan. Secara iseng Juan menanyakan tentang Wolff Schoemaker. Orang tersebut ternyata mengenal nama Wolff Schoemaker dan memberi tahu bahwa Wolff Schoemaker merupakan arsitek ternama di Indonesia dan dimakamkan di Bandung.

Pada sebuah akhir pekan di bulan Juni 2003, Juan sengaja berkunjung ke Bandung hanya untuk mencari informasi tentang keberadaan makam kakeknya. Setiba di Bandung ia langsung menanyakan di mana letak pemakaman Kristen. Akhirnya ia dibawa ke Pemakaman Pandu. Namun, betapa kecewanya dia ketika di dalam arsip Pemakaman Pandu nama Wolff Schoemaker tidak tercatat.

Juan nyaris meninggalkan Bandung hari itu juga, namun ia merasa penasaran untuk menanyakan kepada pedagang bunga di Pemakaman Pandu. Ia berpikir siapa tahu para pedagang ini lebih tahu tentang orang-orang yang dimakamkan di Pandu. Ternyata para pedagang bunga itu memang mengetahui makam Wolff Schoemaker.

Akhirnya pencarian Juan mendapat hasil, ia dapat berdiri di hadapan pusara kakeknya, Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker di Pemakaman Pandu Bandung.

Pada bulan Agustus 2003, Juan kembali berangkat ke Indonesia. Kali ini untuk menjalankan tugasnya sebagai peneliti masalah sosial.

**

LALU bagaimana Juan Schoemaker bisa tahu PAF sedang mencari keturunan Wolff Schoemaker? Prosesnya pun terjadi secara kebetulan juga. Seperti dituliskan di atas, Juan pernah mengunjungi New Zealand dan bertemu dengan seorang arsitek. Arsitek tersebut kebetulan teman dari orang Belanda yang dihubungi Solihin. Ia memberi tahu temannya itu bahwa ada seseorang yang juga bernama belakang Schoemaker sedang mencari kakeknya yang bernama Wolff Schoemaker. Akhirnya diketahui bahwa orang Belanda itu ternyata saudara sepupu Juan. Arsitek itu kemudian memberi informasi keberadaan Juan.

Dua anggota keluarga yang pareumeun obor itu akhirnya melakukan kontak dan Juan kemudian tahu bahwa dirinya sedang “dicari” untuk menghadiri perayaan hari PAF. “Ini kedua kalinya saya datang ke makam kakek saya. Banyak kejadian yang terjadi secara kebetulan dalam perjalanan saya mencari garis keturunan dan kerabat saya. Dengan berbagai peristiwa ini membuat saya semakin bersemangat untuk terus mencari keberadaan kerabat-kerabat saya,” ujarnya.

Juan mengisahkan, ia dilahirkan di Paraguay dan sudah ditinggalkan ayahnya sejak usia tiga tahun. Ia kemudian bersekolah di Amerika Serikat dan menjadi warga negara di sana. Sejak masih muda Juan selalu penasaran tentang garis keturunannya. Yang ia tahu, ayahnya adalah keturunan Belanda yang lahir di sebuah negara bernama Indonesia, kemudian pindah ke Paraguay dan menikahi ibunya, seorang perempuan Paraguay asli. “Tetapi saya punya akar yang cukup kuat di Indonesia. Ayah saya lahir di Indonesia, kakek saya juga lahir di Indonesia, begitu juga nenek buyut saya lahir di Batavia. Saya juga merasa sangat bangga ternyata kakek saya merupakan tokoh terkenal,” tuturnya.

**

SIAPAKAH Wolff Schoemaker? Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, selain salah seorang pendiri PAF, ia adalah seorang arsitek Belanda yang terlibat dalam membentuk wajah Bandung tempo dulu. Berbagai bangunan bersejarah di Bandung merupakan hasil karyanya. Gereja Kathedral di Jln. Merdeka, Gereja Bethel di Jln. Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Gedung Asia Afrika dan Gedung PLN Bandung merupakan sebagian dari hasil karyanya. Wolff Schoemaker juga dikenal sebagai salah seorang guru Ir. Soekarno, saat proklamator kemerdekaan itu belajar di ITB.

Menurut David B. Soediono dari Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau Bandung Heritage, karya Wolff Schoemaker memiliki ciri-ciri khusus. Schoemaker, ujar David, selalu memasukkan unsur tradisional Indonesia ke dalam bangunan bergaya Barat. “Coba saja lihat di Bioskop Majestic, unsur tradisional terlihat relief di pintu masuknya. Contoh yang sama terlihat di Gedung Landmark,” jelasnya.

Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jabar, Ir. Ridwan Kurnia, karya Schoemaker di Bandung seharusnya tetap dipertahankan karena merupakan bagian dari sejarah. Menurutnya, ada beberapa karya Schoemaker yang telah diruntuhkan, termasuk bekas tempat tinggalnya di Jln. Sulanjana. Namun untung, walaupun sempat diratakan dengan tanah, pemilik baru lahan itu rela membangun kembali bangunan yang diratakan sesuai dengan aslinya setelah Ridwan memberi penjelasan tentang nilai sejarahnya. (Zaky/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 01 Maret 2004