Stop Pembongkaran! Rumah Tua Perkebunan Karet Karawaci

December 10th, 2008

Cikini, Warta Kota
Atas nama hukum, Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu) mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menghentikan pembongkaran rumah tua perkebunan karet di Karawaci, Tangerang.

Rumah tua berarsitektur campuran Indische-Belanda dan Tionghoa itu terletak di Jalan Imam Bonjol RT 04/03 No 142, Karawaci, Kota Tangerang.

Dasar penghentian pembongkaran itu tak lain adalah payung hukum berupa UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB). Jika pembongkaran tak segera dihentikan, Walibatu khawatir Tangerang akan menjadi kota yang amnesia. Kamis (11/12) ini, surat permohonan itu diharapkan sudah diterima Wali Kota Tangerang Wahidin Halim.

Demikian hasil diskusi yang digelar Walibatu di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (10/12). Diskusi ini menghadirkan dedengkot Walibatu Adolf Heuken yang adalah penulis buku-buku sejarah Jakarta, Pia Alisyahbana, Budi Lim (arsitek yang biasa mengonservasi bangunan), Yori Antar (arsitek), dan Mahandis Yoanata.

“Ini adalah kasus klasik. Kita selalu saja kehilangan contoh arsitektur luar yang sudah menjadi arsitektur Indonesia. Kita nggak bisa lagi bergantung pada pemerintah atau aturan hukum. Kita harus bergerak mengampanyekan penyelamatan bangunan tua, termasuk bangunan kebanggaan Oey Djie San ini,” kata Budi Lim.

Kampanye penyelamatan yang sudah sangat mendesak ini tak lain adalah dengan mengirimkan surat kepada pemilik wilayah tersebut. “Kita memohon kepada wali kota untuk menghentikan pembongkaran dan menjamin terpeliharanya bangunan cagar budaya, karena itu adalah bagian dari sejarah Tangerang dan peradaban Kota Tangerang,” tutur Dharmawan Handonowarih, anggota Walibatu, saat membacakan surat permohonan.

Dalam diskusi juga terlontar agar Walibatu mengajak semua elemen yang peduli pada bangunan bersejarah untuk ikut menyuarakan antipembongkaran bangunan bersejarah. Menghimpun tanda tangan adalah salah satu cara meski cara lain, yaitu menduduki kawasan bangunan bersejarah di Karawaci, menjadi cara paling efektif.

“Itu hak kita dan memang ada UU-nya bahwa bangunan bersejarah dilindungi. Jangan sampai kita terlambat bertindak dan Tangerang menjadi kota amnesia, kehilangan sejarah,” timpal Yori Antar.

Membiarkan
Alasan Pemkot Tangerang yang terkesan ‘membiarkan’ pembongkaran karena belum memiliki peraturan (Warta Kota, 6/12), seperti yang sudah dimiliki Provinsi DKI (SK Gubernur No 475 Tahun 1993 tentang Bangunan Cagar Budaya dan Perda No 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya), tak bisa diterima begitu saja. Sebab, ada UU BCB yang sudah ada sejak 16 tahun lalu.

Adolf Heuken menekankan pentingnya pemahaman nilai sejarah bangunan perkebunan karet itu. Pasalnya, bangunan tersebut punya tiga gaya arsitektur yang unik, yakni China, Indische, dan Jawa. Bangunan itu menandakan titik perkembangan pembukaan hutan.

“Gedung atau bangunan ini bisa bercerita, karena menjadi bukti sejarah yang nyata bagaimana dulu hutan dibuka dan dijadikan perkebunan di luar Jakarta. Kalau hilang, kita menjadi bangsa yang bodoh, tidak punya ingatan akan sejarahnya,” tandas Heuken tentang bangunan yang kepemilikannya juga belum jelas itu. (pra).

Sumber: Harian Warta Kota, 10 Desember 2008

Comments are closed.