Museum Bank Indonesia Didaftarkan Sebagai Peserta Asia Pacific Heritage Awards 2008

May 14th, 2008

Jakarta – Museum Bank Indonesia (BI) mendaftarkan diri untuk menjadi nominasi di ajang UNESCO Asia Pacific Heritage Award 2008. Sejak dilaksanakan pertama kali, pada tahun 2000, Indonesia pernah mengikuti dan mendapat nominasi pada tahun 2001.

Ajang penghargaan bagi bangunan-bangunan tua bernilai sejarah ini, memiliki lima kategori nominasi. Award of Excellence, Award of Distinction, Award of Merit, Honourable Mention, dan Jury Commendation for Innovation. Pada tahun 2001, Indonesia masuk nominasi untuk Award of Excellence, melalui Gedung Arsip Nasional. Sejak itu, Indonesia belum pernah lagi masuk sebagai peserta.

Tahun ini, Indonesia ingin kembali mencoba menembus ajang penghargaan internasional itu. Museum BI didaftarkan mewakili Indonesia. Selain Museum BI, Museum Batik di Pekalongan, Jawa Tengah, juga didaftarkan. Perihal pendaftaran itu disampaikan Bambang Eryudhawan, Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada acara Presentation and Discussion of The UNESCO Asia Pacific Heritage Awards, hari ini di Auditorium Museum BI, Jakarta.

“Sejak tahun 2001 hingga 2007, Indonesia belum lagi berhasil menembus penilaian, untuk kembali menjadi nominasi. Hal ini bukan dikarenakan kurangnya bangunan tua, yang dimiliki oleh Indonesia, tetapi karena kita belum punya rasa percaya diri yang cukup. Penyebabnya adalah banyak gedung tua di Indonesia ini yang tidak memenuhi syarat menjadi peserta Asia Pacific Heritage Award itu,” ujar Bambang.

Pada kesempatan lain, penasehat Regional UNESCO untuk Kebudayaan di Asia Pasifik, Richard Engelhardt, menyatakan bahwa ajang penghargaan yang digagas UNESCO itu memiliki beberapa tujuan, antara lain: untuk memotivasi, sekaligus menilai, sejauh mana usaha yang dilakukan untuk memelihara warisan sejarah, baik secara individu maupun organisasi. Dalam hal ini, warisan sejarah yang berupa bangunan tua.

Untuk itu akan dilangsungkan pula proses penjurian langsung oleh UNESCO. Prosesnya dimulai dari seleksi awal, hingga peninjauan bangunan yang telah didaftarkan. Penilaiannya meliputi fungsi bangunan bersejarah, desain arsitektur, interior, dan eksterior. Karenanya, kata Engelhardt, ada 13 syarat yang harus dipenuhi oleh bangunan tua yang jadi peserta. Di antaranya, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan bangunan tua di Indonesia, adalah gambar denah bangunan.

Syarat itulah yang antara lain membuat Indonesia kurang percaya diri. Kata Bambang, banyak bangunan tua di Indonesia telah dipugar, tetapi denah lamanya tidak dibuat. Akibatnya, ketika dibutuhkan denah itu tidak tersedia. Dan kemungkinan untuk membuat lagi juga tidak gampang. (anissa/whery)

Sumber: IDEA Online, 14 mei 2008

Comments are closed.