Warga Tolak Pembongkaran Bangunan Cagar Budaya

February 26th, 2008

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Masyarakat pemerhati bangunan cagar budaya Yogyakarta yang tergabung dalam gerakan warga Yogyakarta peduli cagar budaya (Gempar Budaya) hari ini melakukan aksi menolak penghancuran bangunan bersejarah sekolah Tionghoa tertua di Yogyakarta di kompleks Klenteng Poncowinatan.

“Kami juga akan mengajukan tuntutan kepada Dinas Perizinan Kota Yogyakarta yang jelas-jelas bermain dalam kasus perobohan situs budaya ini,” kata Koordinator Aksi, Jibril.

Sesuai Surat Keputusan Kepurbakalaan Nasional, kata Jibril, bangunan tersebut ditetapkan sebagai bangunan bersejarah dan cagar budaya. Bahkan pada 10 Februari 2007, Dinas Perizinan Kota Yogyakarta sudah mencabut IMB Yayasan Budya Wacana yang akan membangun dan merobohkan bangunan cagar budaya tersebut. Sejak akhir Januari 2008 sudah dipasang garis polisi pada bangunan baru, namun terlihat beberapa pekerja masih melakukan pengerjaan bangunan.

“Lima hari kemudian Dinas Perizinan membuat keputusan baru dan memperbolehkan IMB yang bermasalah. Ini jelas ada permainan dan secara hukum kami akan melakukan tuntutan,” kata Jibril.

Ketua Pelestari Klenteng Bakti Loka Ir Z Siput menambahkan, bangunan sekolah Tionghoa tertua di Yogyakarta dan Klenteng tertua di Yogyakarta tersebut awalnya hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII bagi warga Tionghoa di Yogyakarta sejak 150 tahun silam.

Di tanah seluas hampir satu hektare tersebut kemudian didirikan tempat peribadatan yang saat ini dikenal sebagai Klenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan. Secara iuran, jamaah Klenteng membangun sekolah tahun 1897 dan tidak diperuntukkan untuk kepentingan komersial. “Sekolah tersebut boleh dipakai siapa saja tanpa dipungut biaya asal tidak untuk kepentingan komersial,” tegas Siput.

Mulai tahun 1907-1938, kata Siput, bangunan sekolah dipakai oleh komunitas Tionghoa Hoe Kwan (THK) yang mendirikan sekolah bernama Tionghoa Hak Tong. Tahun 1928-1947 sekolah vakum dan hanya dipergunakan untuk kegiatan partikelir seperti pelatihan dan lain sebagianya.

Mulai tahun 1947-1958, gedung sekolah dipakaui oleh komunitas Chong Kuan yang mendirikan sekolah bernama Tee Shauw dan selanjutnya tahun 1958-1970 dipakai oleh Dinas Pengajaran Nasional.

“Mereka yang memakai semua gratis, tidak dipungut biaya, asal tidak dipergunakan untuk kepentingan komersial,” kata Siput. Baru mulai tahun 1970 hingga saat ini sekolah dipakai oleh Yayasan Budya Wacana. “Anehnya, dua bagian bangunan bersejarah malah dilelang masing-masing berupa Rp 35 juta dan Rp 135 juta,” kata dia. “Uangnya juga tidak tahu ke mana dan bangunan bersejarah itu juga dirobohkan,” tegas Siput.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, mengaku sampai saat ini pihaknya belum mendapat surat resmi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) yang menyatakan itu sebagai bangunan cagar budaya.

“Kami juga tidak tahu ada pelelangan bangunan, kalau ada oknum yang bermain, kita akan melakukan tindakan tegas sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata dia. (LN Idayanie/Muh Syaifullah)

Sumber: Tempo Interaktif, 26 Februari 2008

Comments are closed.