Bangunan Bersejarah di Pecinan Terancam Punah

July 24th, 2006

Jakarta, Kompas – Bangunan berlanggam Tionghoa di Pecinan kawasan Glodok-Pancoran, Jakarta Barat, terancam punah. Dalam pemantauan selama dua pekan terakhir hingga Sabtu (22/7), terlihat bangunan yang tersisa dalam keadaan kusam. Letaknya juga terimpit bangunan rumah toko modern yang tak memerhatikan estetika lingkungan.

Rumah kuno dari komunitas Tionghoa yang mulai bermukim di kawasan Glodok-Pancoran selepas tahun 1740 itu kini hanya tersisa di kawasan tertentu seperti di Blandongan, Toko Tiga, Pinangsia, Pasar Pagi, Jalan Perniagaan. Bangunan yang berasal dari abad XVIII-XIX itu tidak terkonsentrasi di satu lokasi.

Salah satu bangunan yang paling bersejarah adalah kediaman Keluarga Besar Souw, yakni keturunan Kapiten Souw Beng Kong. Souw Beng Kong adalah Kapitein der Chinezen pertama sekaligus peletak pembangunan kota Batavia modern yang kini menjadi Jakarta.

Saat ini bangunan rumah di dekat Pasar Perniagaan itu tidak menjadi pusat kegiatan wisata ataupun budaya. Lebih memprihatinkan lagi, sayap barat bangunan justru digusur untuk pembangunan Pasar Perniagaan. Yang tersisa hanya rumah induk dan bangunan sayap timur di atas lahan 5.000 meter.

Di dekat rumah keluarga Souw terdapat bangunan SMA Negeri 19 yang semula merupakan kompleks sekolah Ba Hua. Hingga tahun 1958, sekolah Ba Hua merupakan salah satu sekolah terbaik di Asia Tenggara dengan kurikulum Anglo-Chinese. Saat ini sekolah sezaman dengan kurikulum Anglo-Chinese seperti Ba Hua masih terdapat di Singapura dan Malaysia.

Bangunan tradisional yang masih dalam keadaan baik terdapat di Gang Batu dekat Jalan Perniagaan. Pada bangunan tradisional tersebut terpasang tulisan “Dijual” berikut nomor telepon agen yang menjadi perantara.

Sedang Didata

Menanggapi kondisi bangunan bersejarah di Pecinan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan menjelaskan, pihaknya kini sedang mendata bangunan tua di Pecinan terkait upaya revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta. Revitalisasi Kota Tua merupakan salah satu program unggulan Gubernur DKI Sutiyoso menjelang akhir masa jabatannya pada tahun 2007.

“Kami mengadakan survei awal secara quick scan pada tahun 2006 dan mendapati ada 40-an bangunan tua di kawasan tersebut. Banyak bangunan yang tidak masuk kategori A, tetapi sekarang sedang diupayakan konservasi dan pendataan lanjutan,” ujar Aurora.

Dia juga berjanji akan terus memperjuangkan konservasi Pecinan karena sejalan dengan prinsip heritage, yakni using the past for the future. “Ini berarti kami menginventarisasi bangunan tua dan mempertahankan bangunan bernilai sejarah yang turut membentuk wajah Kota Jakarta dalam wujud arsitektur Belanda, Inggris, langgam China, dan sebagainya tetap dapat dinikmati generasi mendatang. Walau fungsi bangunan itu mungkin sekarang berbeda dengan peruntukan pada masa lalu. Bangunan tua dijadikan modal sosial, ekonomi, dan budaya kini serta masa depan,” papar Aurora.

Salah seorang sesepuh warga Pancoran, Tian Li Tong, menyatakan, kalau bangunan tua yang tersisa tidak segera dikonservasi, dikhawatirkan sisa situs bersejarah di kawasan itu akan habis.

“Sayang daerah sini kurang mendapat perhatian meski penertiban Jalan Pancoran sudah dilakukan awal tahun,” kata Li Tong. (ong)

Sumber: Kompas, 24 Juli 2006

Comments are closed.