Langgam “Art Deco” Di Kota Kembang

March 5th, 2008

Bandung sempat dijuluki sebagai kota yang menjadi laboratorium arsitektur dunia. Hal tersebut dilandasi dengan banyaknya aliran arsitektur dunia yang tampak pada bangunan-bangunan yang ada di kota ini. Mulai dari aliran indische empire stijl hingga aliran art deco yang masih dikenal di Bandung hingga saat ini.

Semua ini, berawal dari rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda oleh Gubernur Jenderal J.P. de Graaf van Limburg Stirum dari Batavia ke Bandung pada tahun 1915. Bandung dianggap lebih nyaman untuk ditinggali, terlebih sejak seorang ahli kesehatan H. F. Tillema memaparkan makalah yang menyebutkan tentang buruknya sanitasi di kota-kota pantai. Ia juga menyebutkan kalau kelembaban yang tinggi serta suhu yang panas di kota-kota tersebut tidak cocok bagi warga Eropa.

“Sejak itu, Belanda mendatangkan banyak arsitek andal dari negaranya untuk membangun dan menata Bandung”, ungkap dosen arsitektur ITB, Dr. Dibyo Hartono. Awalnya, mereka membangun pusat militer yang dikonsentrasikan di pusat kota Bandung dan Cimahi. Selanjutnya, dibangun pula pusat pemerintahan yang ditandai dengan pendirian Gedung Sate pada tahun 1920 dan rampung empat tahun kemudian.

Belanda juga memikirkan sarana rekreasi untuk masyarakat. Oleh karena itu, mereka juga turut membangun tempat pemandian umum, bioskop, hotel, dan taman-taman kota. Kompleks perumahan untuk para pegawai pemerintahan baru dibangun setelahnya dan berlokasi tak jauh dari Gedung Sate.

Arsitek-arsitek yang berkarya di Bandung terpengaruh dengan gaya arsitektur yang tengah populer di Eropa saat itu. Ialah gaya art deco yang mereka usung dan kemudian diterapkan pada bentuk bangunan yang didirikan.

Istilah art deco sendiri baru dikenal di dunia arsitektur pada tahun 1966, saat digelar pameran bertema Les Annes di Paris. Gaya art deco diidentikkan dengan ragam bangunan yang menyertakan dekorasi khusus.

“Dekorasi bisa berupa kaca patri, warna cat, ornamen bentuk, hingga benda-benda yang mewakili kebudayaan Indonesia”, tutur Dibyo yang juga salah seorang penggiat Bandung Heritage. Pada dasarnya, art deco yang merupakan bagian dari gaya arsitektur modern lebih terbuka dengan perpaduan berbagai bentuk maupun gaya. Terlebih saat zaman makin modern, muncul pendapat yang menyatakan “ornament is a crime”. Dengan demikian, ornamen menjadi lebih sederhana dan disajikan dalam bentuk berupa pola zig-zag, geometris, atau berlapis-lapis.

Salah satu contoh yang bisa dinikmati hingga kini tampak pada bangunan Landmark di Jalan Braga dan bekas bioskop Majestic, yang kini menjadi Asia Africa Culture Center. Di kedua bangunan tersebut tampak ornamen Batara Kala yang diambil dari sebuah candi Hindu di Bali.
Langgam art deco di Bandung dipopulerkan oleh Prof. Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker dan Albert Frederik Aalbers. Karya Aalbers yang masih ada saat ini di antaranya Hotel Savoy Homann dan Vila Tiga Warna di Jalan Ir. H. Djuanda, kini dialihfungsikan menjadi sebuah bank.

Bisa jadi Savoy Homann menjadi karya Aalbers yang paling populer di Bandung. Hotel Homann yang pertama kali dibangun 1880 ini didesain ulang Aalbers tahun 1939. Gaya art deco di Homann dicirikan dengan dekorasi garis lurus yang tumbuh dari struktur horizontal dan vertikal beton, dikenal dengan streamline deco.

Pola ramping horizontal pada balkon yang fungsional tanpa ornamen berlebihan menunjukkan keindahan terpancar dari fungsi sesuai dengan prinsip arsitektur modern. Di bagian lobi, terdapat pula ornamen tambahan berupa ukiran dan relief yang mencerminkan ciri khas Indonesia.

Gedung lain yang bergaya art deco merupakan karya Wolff Schoemaker. Salah satunya adalah Hotel Preanger yang dirancang bersama muridnya Ir. Soekarno. Awalnya, hotel ini berupa guest house bergaya indische empire stijl yang dibangun pada tahun 1889 untuk para tuan tanah yang berkunjung ke Bandung. Kemudian, hotel ini direkonstruksi Prof. C.P. Wolff Schoemaker pada 1928.

Komposisi massa gedung bertingkat-tingkat dengan pola asimetris, dilengkapi menara pada bagian tengah yang dibuat tidak terlalu tinggi, tetapi sangat kaya dengan unsur dekoratif. Menara ini menjadi pusat perhatian yang sangat menarik dengan banyaknya ornamen berpola geometris, zig-zag, abstrak, dan berlapis-lapis pada bagian puncak dan sisi-sisinya. Pola zig-zag bersiku dan bentuk geometris lainnya yang diduga diadopsi dari budaya suku Maya dan Inca Indian diterapkan juga untuk desain kaca patri.

Bank Jabar merupakan bangunan karya Schoemaker lainnya yang bergaya art deco. Gedung ini dibangun tahun 1915 dengan bentuk kurva linier yang dinamis dan dilengkapi dengan menara seperti yang ada di Hotel Homann. Pola horizontal ramping yang berlapis-lapis pada bukaan atas terlihat lugas tanpa banyak unsur dekoratif lainnya.

Vila Isola yang berlokasi di Jalan Setiabudhi juga merupakan bangunan bergaya art deco buatan Schoemaker. Desain konsep dasar bangunan diinspirasi dari bentuk candi Hindu dan didominasi dinding lengkung. Bentuknya serbasimetris dan dibuat banyak jendela untuk melihat pemandangan. Jendela ke arah selatan menyuguhkan pemandangan Kota Bandung, sedangkan ke arah utara menampakkan keindahan Gunung Tangkubanparahu. (Novianti Nurulliah/Riesty Yusnilaningsih/Windy Eka Pramudya)

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 5 Maret 2008

Comments are closed.