Vincke Passer, Riwayatmu Kini

August 12th, 2005

Oleh: Risharada Simorangkir

Usia Pasar Senen saat ini sekitar 270 tahun. Bukan usia muda lagi. Namun, bukan jaminan Pasar Senen menjadi pasar yang kondusif bagi penjual dan pembeli. Pasar dengan nama asli Vincke Passer yang dibangun pada masa Hindia Belanda, sekitar tahun 1735, oleh Justinus Cornellis Vincke itu, kini sarat beban. Banyak kemajuan, tetapi juga sangat banyak masalah.

MUNGKIN, Justinus Cornellis Vincke, yang juga membangun Pasar Tanah Abang, tidak bisa menduga sebelumnya bahwa kawasan Pasar Senen menjadi lokasi yang sangat potensial untuk perputaran bisnis. Bahkan kawasan itu dijuluki kawasan “segi tiga emas” yang nilai ekonominya terus melambung dari tahun ke tahun.

Namun kawasan Senen tempo “doeloe” pun sesungguhnya sudah diarahkan menjadi kawasan yang penting untuk sebuah kota.

Tahun 1735, Vincke mantan pejabat VOC membangun sendiri jalan Jl Prapatan sebagai poros Timur-Barat yang menghubungkan Pasar Tanah Abang dengan Pasar Senen, yang kemudian berkembang sebagai poros perekonomian pada saat itu. Apalagi Weltevreden kemudian menjadi kedudukan resmi gubernur jenderal dan pemerintahannya.

Menurut data dari Kawasan Pengembangan Kota Jakarta (Batavia) di Zaman Belanda (1908), pada awal abad ke-19, di sekitar Istana Weltevreden (di sekeliling Pasar Senen dan Lapangan Banteng, yang lokasinya kini menjadi Rumah Sakit Angkatan Darat), sudah menggantikan kawasan Kota sebagai pusat militer dan pemerintahan. Ini langkah penting dalam pengembangan Kota Jakarta selanjutnya.

Karena itu, makin banyak orang yang tinggal di sekitar kawasan. Apalagi dengan masuknya teknologi mesin uap, kereta api, dan juga kendaraan bermotor.

Disebut Pasar Senen karena pada awalnya pasar itu hanya buka setiap hari Senin. Namun kini, perputaran bisnis di kawasan itu berlangsung setiap hari dan hampir 24 jam sehari.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin, guna menampung seniman-seniman yang banyak berkerumun waktu itu di Pasar Senen, Bang Ali membangun Gelanggang Remaja Planet Senen (GRPS). Menyusul kemudian pembangunan Gedung Pasar Senen, Gedung Parkir, Pasar Inpres, dan terminal bus.

Pada masa kepemimpinan Wiyogo Atmodarminto (1987-1992), dibangunlah sebuah superblok modern, Atrium Senen. Ini jadi pemantik gengsi kawasan Senen. Apalagi sejumlah tenant internasional berani investasi di sana, seperti Yaohan, Mark&Sepncer, dan lainnya.

Hanya sayangnya, kegemilangan kawasan Senen tak berlangsung lama. Gerai Yaohan dan Mark&Sepncer kemudian menarik diri dari kawasan itu bahkan dari negeri ini. Banyak alasan yang melatari kepergian mereka. Mulai dari meluruhnya perekonomian Ibukota hingga aneka kerawanan yang hadir bersamaan dengan munculnya pedagang dan penjaja informal yang sejak krisis ekonomi 1998, jumlahnya terus berlipat.

Sebenarnya, banyak kisah yang melingkupi pasar itu sejak dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia. Sejak Pasar Senen dibangun tahun 1960-1970, telah mengalami dua kali kebakaran besar, yaitu tanggal 23 November 1996 dan 26 Januari 2003. Namun, hal itu tak membuat pasar yang dikelola oleh PT Pembangunan Jaya dan PD Pasar Jaya itu surut beraktivitas.

Bagaikan gula dikerubuti semut, Pasar Senen sangat diminati para pedagang legal maupun ilegal. Sejak krisis moneter pada tahun 1998, Pasar Senen makin dipadati oleh pedagang informal atau biasa disebut dengan pedagang kaki lima (PKL).

Para PKL ini memanfaatkan trotoar yang memang sempit, bahkan mengambil setengah badan jalan sehingga menimbulkan kesemrawutan, kemacetan, dan kriminalitas yang tidak dapat dibendung lagi. Keadaan ini menurunkan secara drastis nilai ekonomi kawasan Senen.

Inilah salah satu masalah besar yang dihadapi Pemkot Jakarta Pusat dalam menata kawasan tersebut. Meskipun letaknya strategis, kawasan ini sering dihindari pengunjung.

Lebih baik berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan yang bertebaran di seantero Jakarta, yang kondisinya lebih nyaman, aman dan harganya tidak terlalu mahal.

Kondisi ini yang menjadi alasan Pemprov DKI menata dan merekstrukturisasi tata ruang kawasan Senen agar dapat memberikan prospek yang lebih baik bagi masyarakat pada masa-masa mendatang.

CBD
Menurut Kepala Badan Pembangunan Kota (Bapeko) Jakarta Pusat, Saptasari Edinigtyas, kawasan Senen akan dikembangkan menjadi Kawasan Bisnis Terpadu atau Central Business District (CBD) yang berwawasan lingkungan dan memiliki keunggulan kompetitif di tingkat global.

“Dengan demikian, kawasan itu kelak dapat menjadi salah satu magnitude pertumbuhan ekonomi Jakarta dalam jasa perdagangan dan keuangan, yang mempunyai keunggulan kompetitif, sehingga dapat bersaing dengan kawasan bisnis ibukota lainnya,” kata Saptasari Edinigtyas dalam percakapan dengan Pembaruan belum lama ini.

Ragam fasilitas yang diharapkan dapat disediakan di CBD ini, antara lain hunian, perkantoran, sopping mall, dan sebagainya. Semuanya didukung dengan sejumlah fasilitas publik, seperti terminal bus, terminal kereta api, gelanggang remaja, taman, dan lain-lain.

Misi pengembangan kawasan, jelas untuk meningkatkan nilai tambah kawasan Senen dengan menjadikannya sebagai pusat perdagangan, perkantoran, dan hunian menengah atas. “Akan disediakan fasilitas pendukung bagi perwujudan Jakarta sebagai services city yang memiliki competitiveadvantage berskala global,” katanya.

Jadi, erbagai fasilitas itu akan diintegrasikan, baik perdagangan, perkantoran, dan hunian yang didukung fasilitas transportasi kota yang terintegrasi pula.

“Dengan sendirinya, berbagai upaya itu bisa mereduksi jumlah kawasan rawan kemacetan lalu lintas dan kriminalitas. Sekaligus juga mereduksi populasi pedagang kaki lima dan usaha informal lainnya, melaluio peningkatan keberdayaan mereka,” ujar Saptasari.

Berangkat dari tujuan itu, diadakan sayembara dengan sasaran “Konsep Perencanaan dan Perancangan/Design Penataan Kawasan Senen”. Sayembara itu dimenangkan oleh Maryanti Kusuma Asmara dengan tajuk “Life in Tomorrow Senen”.

“Saat ini, Pemkot Jakarta Pusat sedang menyusun Urban Design Gate Line (UDGL) yang merupakan panduan penataan Kawasan Senen. sejalan dengan penyusunan UDGL ini, juga sedang disusun tim yang akan bekerja dalam proyek ini,” kata Saptasari.

Sekalipun sudah ada pemenangnya, namun proyek ini tidak dapat langsung dikerjakan karena masih harus mematangkan dan memadukan konsep penataan hasil sayembara dengan konsep penataan yang dimiliki oleh pemegang saham Pasar Senen.

Proyek ini akan dikerjakan oleh tim yang terdiri dari orang-orang yang memiliki saham di Pasar Senen, antara lain, PD Pasar Jaya, PT Pembangunan Jaya, PT KA, dan Departemen Perhubungan.

“Mengenai dana, belum dapat dipastikan. Dana ini bukan hanya berasal dari Pemkot Jakpus, tetapi juga dari stakeholder atau pemegang saham,” kata Saptasari.

Jika UDGL selesai, tidak tertutup kemungkinan adanya investor yang akan berinvestasi pada proyek ini. “Sekarang saja sudah banyak yang tertarik dan menanyakan proyek ini. Menurut rencana proyek ini akan mulai dikerjakan pada awal tahun 2006,” katanya.

Kampiun Asing
Kepentingan menata kawasan Senen, tentu saja bukan melihat kepentingan lokal sesaat saja. Tapi, bagaimana Kota Metropolitan Jakarta bisa bersaing dengan kota-kota lain di berbagai negara yang berpacu memajukan diri dan menarik investor.

Apalagi saat ini, sebagai konsekwensi berbagai kemajuan, terjadi semacam penyeragaman bentuk kota-kota metropolitan di dunia karena globalisasi dan pasar bebas, yang relatif hanya dikendalikan oleh beberapa perusahaan multinasional saja.

Bagi Jakarta, ini sebuah ancaman serius. “Diferensiasi Jakarta di hadapan kota-kota metropolitan lainnya di dunia, masih sangat lemah, bahkan kurang menguntungkan bagi banyak investor,” kata Saptasari.

Akibatnya, Kota Jakarta hanya menjadi tempat banjiran produk-produk mancanegara. Pasar potensialnya dikelola dengan baik oleh para kampiun asing itu, sementara investasi mereka masih ditempatkan di negara jiran karena tariff barrier antarnegara, terutama di Asia Tenggara pasca-AFTA hanya berkisar antara 0-5 persen saja.

Konsekwensinya, deretan pengangguran di Ibukota ini dan juga pelimpahan sektor informal dari waktu ke waktu, semakin menjadi-jadi. *

Sumber: Suara Pembaruan, 12 Agustus 2005

Comments are closed.