Archive for April, 2009

Kota Kolonial Lama Semarang

Friday, April 24th, 2009

Kota Kolonial Lama Semarang
Penulis L.M.F. Purwanto
Dari Jurnal Arsitektur U.K. Petra, Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 33 no. 1, Juli 2005:27-33.

Direview oleh Tanti Johana

Dalam penelitian perkembangan kota Semarang ini, penulis menggunakan pendekatan historikal dan studi pustaka.

Pelabuhan Semarang merupakan pelabuhan penting dan terkenal. Tercatat pedagang Cina datang pada permulaan abad 15, Portugis dan Belanda pada permulaan abad 16, Malaysia, India, Arab dan Persia pada awal abad 17. Mereka membangun pemukiman-pemukiman di sekitar pelabuhan.

Dahulu Semarang termasuk dalam wilayah pemerintahan Susuhunan Surakarta. Susuhunan meminjam uang dalam jumlah yang besar kepada pemerintah VOC, dengan menggadaikan Semarang kepada VOC.

Rakyat tidak terima Semarang dikendalikan di bawah pemerintahan VOC, mereka mengadakan perlawanan sehingga Belanda terpaksa membuat benteng Vijfhoek pada tahun 1600. Benteng ini berfungsi sebagai pusat militer VOC. Benteng dibangun mirip dengan yang ada di Eropa, salah satu cirinya adalah dibangun didekat sarana transportasi. Pembangunan didalamnya menggunakan tukang-tukang dan bahan bangunan yang di datangkan dari Belanda. Mulai saat itu berkembang arsitektur Belanda di Semarang.

Penandatanganan perjanjian antara Mataram dan VOC 15 Januari 1678 memberikan kekuasaan penuh kepada VOC atas pelabuhan Semarang. Atas jasa VOC membantu Mataram menumpas pemberontakan Trunojoyo. Mulai tahun 1705 Semarang menjadi milik penuh VOC. Suasana menjadi kembali tidak aman maka VOC merasa perlu melindungi pemukimannya dengan benteng, maka benteng di sisi timur kota lama dibongkar dan dibangun benteng baru.

Ketika suasana mulai kondusif, kota Semarang mulai berkembang di luar benteng.

Kota Semarang berkembang sangat pesat pada pertengahan abad 18.

Yang Tersisa dari Toko Buku Pertama di Batavia

Tuesday, April 21st, 2009

KOMPAS.com — Kalibesar di abad silam riuh dengan berbagai kegiatan ekonomi. Sebagai kawasan yang dibelah kanal dan dekat dengan pelabuhan, maka wajar saja demikian. Pasar pun bertumbuhan. Sebut saja pasar unggas, pasar bambu, dan pasar pisang. Yang disebut belakangan ini menjadi nama lain dari sebuah kawasan, yaitu Kalibesar Timur. Mengapa disebut pasar pisang, belum ada buku yang mengisahkan tentang itu. Tapi bisa jadi karena di seputaran Jalan Cengkeh (kini) yang letaknya dekat dari Jalan Kalibesar Timur itu terdapat pasar buah, salah satunya pisang.

Kali ini bukan pasar pisang yang ingin dibahas, tapi soal keberadaan toko buku pertama di Batavia. Di ujung Jalan Kalibesar Timur 3 dan Kalibesar Timur (di seberang Jalan Cengkeh), masih berdiri bangunan tua. Kira-kira letaknya ada di pojok kiri kalau kita melihat dari Jembatan Middelpunts ke arah selatan. Jembatan ini menghubungkan Jalan Kunir, Jalan Kalibesar Timur 3, Kalibesar Timur, Jalan Kalibesar Barat, Jalan Kopi, dan Jalan Roa Malaka.

Toko buku di bawah nama G Kolff & Co ini sudah mulai menjadi toko buku pada tahun 1848 di Buiten Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Selatan). Sebetulnya, Kolff datang belakangan karena pemilik perusahaan ini semula bernama Willem van Haren Noman. Tahun 1850, Gualtherus Johannes Cornelis Kolff tiba dari Holland dan bergabung dengan Noman. Tahun 1858, Noman kembali ke Belanda, maka selanjutnya Kolff sendirilah yang menjadi pemegang perusahaan.

Di tahun 1860, perusahaan percetakan dan penerbitan buku ini membeli tanah di lokasi yang sekarang karena dinilai lebih menguntungkan, seharga 28.000 gulden. Di sinilah kantor pusat perusahaan G Kolff & Co berada hingga 1921 ketika Kolff membeli tempat yang lebih luas di Jalan Pecenongan. Toko buku milik Kolff juga sudah ada di Noordwijk (Jalan Juanda) sejak 1894.

Kolff juga menjadi penyokong koran beken di masanya, 1850-an, Java Bode yang berafiliasi dengan koran De Locomotief (Semarang) dan Het Soerabaiasche Handelsblad (Surabaya). Di tahun 1885, Kolff bahkan membidani terbitnya koran yang lebih dari 50 tahun menemani warga di Batavia, Bataviaasch Nieuwsblad.

Tahun 1930, perusahaan ini makin berkibar ketika Ratu Belanda memberikan hak pada Kolff untuk menggunakan kata Koninklijke sehingga nama perusahaan itu menjadi NV Koninklijke Boekhandel en Drukkerij G Kolff & Co. Perusahaan ini menjadi penyedia buku-buku pendidikan terbesar di Hindia Belanda. Perusahaan ini bertahan hingga lebih dari satu abad, kini sudah tak ada lagi.

Membahas kisah-kisah sejarah Batavia di abad ke-19 khusus soal perusahaan penerbitan terbesar yang ditulis Scott Merrillees, seorang rekan, berkomentar, “G Kolff & Co itu sama seperti Kompas Gramedia-lah, kalau sekarang ini,” ujarnya. (WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto)

Sumber: Warta Kota, 21 April 2009