Archive for 2009

Pugar Cagar Budaya Hilangkan Bentuk Asli

Wednesday, February 11th, 2009

JAKARTA (Pos Kota) – Pengawasan bangunan cagar budaya lemah. Di kawasan Menteng Jakpus, banyak cagar budaya yang dipugar menghilangkan bentuk aslinya.

Padahal, bangunan tersebut dilindungi surat keputusan (SK) Gubernur Kepala Daerah No D/IV/6098/d/33/1975 mengenai Penataan Kawasan Menteng serta Peraturan Daerah (Perda) No 9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya.

Bangunan yang menghilangkan gaya arsitektur aslinya, salah satunya terdapat di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Bangunan itu kini menjadi bangunan bergaya arsitektur modern.

Rumah tersebut awalnya milik dua mantan tokoh nasional yang kemudian berpindah tangan kepada seorang pengusaha. Rumah tersebut, masuk dalam katagori rumah cagar budaya, yaitu cagar budaya golongan B dan C.

Kasi Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kecamatan Menteng, Pupung, menegaskan bangunan yang sedang dipugar di Jl Tengku Umar itu termasuk dalam bangunan cagar budaya, baik golongan B atau C. Pemugaran tersebut dalam pengawasan Suku Dinas Pengawasan Penertiban Bangunan (Sudin P2B).

Dari data, di kawasan Menteng terdapat cagar budaya katagori A. Antara lain rumah dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla, rumah dinas Duta Besar AS, Masjid Sunda Kelapa, Gedung Bappenas, Gereja GPIB Paulus.

Untuk Golongan B, banyak terdapat di Jl Diponegoro dan Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Sedangkan lainnya, rata-rata rumah yang berada di Menteng banyak masuk dalam katagori C dan D.

Arya Abieta, pemerhati bangunan tua dari Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia, mengatakan, bangunan yang masuk dalam kategori cagar budaya dilindungi secara hukum, termasuk rumah-rumah yang berada di kawasan Menteng.

DIANCAM PIDANA
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, Arie Budiman, Rabu (11/2), menyatakan di DKI Jakarta terdapat 273 bangunan cagar budaya (kategori A,B dan C) yang dilindungi.

Saat ini, Arie sedang menginventarisir dari aspek fisik sejumlah bangunan cagar budaya yang mengalami kerusakan ringan, sedang, dan tinggi.

Pelanggaran terhadap ketentuan diancam pidana. Hal ini diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Pihak yang merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya atau membawa, memindahkan, mengambil, mengubah bentuk atau warna, memugar, atau memisahkan benda cagar budaya tanpa izin dari pemerintah dipidana dengan penjara selama-lamanya 10 tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.

Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Ahmad Husin Alaydrus menegaskan, setiap terjadi pemugaran terhadap cagar budaya maka hal itu merupakan bentuk pelanggaran.
(john/sir/g)

Sumber: Harian Pos Kota, 11 Pebruari 2009

Material Rumah Tua Karawaci Ditemukan

Wednesday, February 11th, 2009

Mencegah Warga Tangerang dari Amnesia Sejarah

Keterangan gambar: Sejumlah aparat Pemerintah Kota Tangerang, Selasa (10/2), bersama Sekretaris Wilayah Daerah Kota Tangerang HM Harry Mulya Zein dan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata H Tabrani melihat kondisi bangunan rumah tua peninggalan Oey Djie San yang rusak berat, dipereteli dan dijual komponennya. Bangunan tua di Karawaci ini terletak di atas tanah sekitar 2 hektar.

Tangerang, Kompas – Setelah diberitakan media massa dalam dan luar negeri, serta dilakukan pencarian berhari-hari, material bangunan tua yang dibangun awal abad 18 di Karawaci, Kota Tangerang, akhirnya ditemukan kembali. Material antik itu berupa keramik lantai dan paseban terbuat dari jati.

”Keramik dan paseban ditemukan kembali di tempat terpisah. Keramik lantai ditemukan di Tomang, Jakarta, Minggu kemarin, sedangkan paseban yang terbuat dari kayu jati ditemukan di Bali,” kata Agus Siswanto yang sehari-hari menunggui rumah tua peninggalan tuan tanah Oey Djie San itu.

Penemuan material rumah tua tersebut diungkapkan Agus, Selasa (10/2), ketika menerima kunjungan Sekretaris Wilayah Daerah Kota Tangerang HM Harry Mulya Zein, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Kota Tangerang H Tabrani, dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

”Semua material yang ditemukan kembali itu sekarang disimpan Pak Candra, pembeli terakhir. Nanti akan dipasang lagi,” kata Agus.

Harry berpendapat, bangunan tua ini sudah seharusnya dilestarikan. Pemilik terakhir bisa tetap merawat bangunan ini walaupun dengan membuka restoran.

Hal senada dikatakan Tabrani. ”Peninggalan sejarah seperti bangunan tua ini bisa dimanfaatkan untuk wisata. Apalagi lokasinya di tepi Sungai Cisadane, bisa dilengkapi dengan wisata air,” tutur Tabrani.

Namun, sayangnya, kata Tabrani, sebagian bangunan sudah hancur dibongkar, terutama di bagian belakang. ”Meskipun demikian, bangunan masih bisa didandani dengan biaya yang besar,” tuturnya.

Rumah ini merupakan peninggalan tuan tanah terakhir yang masih tersisa di sekitar Jakarta. Bangunan tua itu mulai dibongkar dan dipereteli sekitar September 2008 atas suruhan ahli waris.

Bagian-bagian bangunannya telah dijual kepada pihak lain. Dua patung singa yang berada di samping paseban bagian belakang yang sudah dibongkar juga diangkut dan dijual kepada pihak lain. Seorang warga yang tinggal di kompleks rumah peninggalan Oey Djie San itu menuturkan, patung singa itu dibeli pihak lain untuk menghiasi bangunan sebuah kuil. Patung singa itu hingga kemarin belum ditemukan.

Tabrani yang menyusuri tepian Cisadane hingga Kedaung Watan, Selasa kemarin, seusai mengunjungi rumah tua di Karawaci, menemukan benda-benda kuno bekas alat produksi penggilingan tebu dan sepenggal bangunan.

Penelusuran tepian sungai itu dilakukan untuk mencari situs-situs peninggalan sejarah yang kemungkinan masih bisa diselamatkan dan dikonstruksi kembali.

Amnesia Sejarah

Ketika rumah tua Oey Djie San dipereteli dan pemerintah setempat belum bertindak, kemarahan muncul dari mana-mana, terutama dari kalangan yang peduli peninggalan sejarah.

Mereka merasa kasihan terhadap Kota Tangerang dan warganya yang terancam amnesia sejarah (menderita lupa ingatan terhadap sejarah) awal terbentuknya kota sendiri jika benda peninggalan sejarah di kota ini terus dimusnahkan.

”Tangerang akan amnesia sejarah jika bangunan ini hilang. Kondisi ini harus dihindari,” kata Yori Antar, arsitek dan fotografer yang hadir dalam sebuah pertemuan yang membahas persoalan rumah tua peninggalan Letnan China Oey Djie San yang sedang dalam proses ”mutilasi”.

Pertemuan yang berlangsung 10 Desember 2008 di Bakoel Koffie, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, itu diselenggarakan Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu). Pertemuan itu, antara lain, dihadiri Budi Lim (arsitek) yang kini menugaskan seorang anggota stafnya untuk mendata bangunan peninggalan Oey Djie San, Pia Alisyahbana (tokoh masyarakat yang peduli pelestarian budaya), dan Adolf Heuken (penulis buku Historical Sites of Jakarta).

Dalam pertemuan itu Walibatu berpendapat, dari sisi arsitektur, bangunan ini merupakan bagian jejak sejarah arsitektur di Indonesia.

”Rumah utama bergaya arsitektur China, sedangkan rumah lain bergaya indis, gabungan unsur Eropa dan tropis,” demikian keterangan pers yang dikeluarkan Walibatu seusai pertemuan.

Sementara itu, sejarawan Mona Lohanda dalam buku Kapiten China of Batavia 1837-1942 menjelaskan, rumah tua di Karawaci itu dibangun pada awal abad ke-18 oleh Letnan China Oey Djie San yang menguasai perkebunan di Karawaci, Cilongok. (nas)

Sumber: Harian Kompas, 11 Februari 2009.