Archive for 2008

Bangunan Peninggalan Budaya Tionghoa Mengenaskan

Monday, June 9th, 2008

SEJARAH Kota Jakarta atau Batavia tak hanya identik dengan sejarah kebudayaan Betawi, tetapi jauh sebelumnya sudah ada kebudayaan China peranakan atau Tionghoa. Sebelum kemerdekaan RI, peninggalan kebudayaan Tionghoa yang bersejarah masih banyak meninggalkan jejak di bangunan rumah, kelenteng, gedung, dan masjid yang berarsitektur Tionghoa, tapi sekarang sudah banyak yang hancur. Rusak karena dilindas kepentingan segelintir orang.

Bahkan, yang sudah dinyatakan sebagai cagar budaya pun, seperti Gedung Candra Naya, yang pernah dipakai Sin Ming Hui atau Perhimpunan Sinar Baru pada tahun 1946 itu, kondisinya tidak terawat. Beda dengan daerah lain seperti Padang atau Medan, bangunan bersejarah Tionghoa masih terawat. Di banyak kota-kota di China sendiri, bangunan tua sejak zaman Dinasti Yuan (1279-1368) masih terawat baik.

Kenyataan itu terungkap dalam seminar Chinese Houses: The Architectural Heritage of a Nation di Museum Bank Indonesia, Jakarta Kota, Senin (9/6). Tampil sebagai narasumber Sejarawan Adolf Heuken SJ, Pengamat Budaya Tionghoa David Kwa, dan Profesor Emeritus di State University of New York, Ronald G Knapp.

Heuken mengatakan, sebelum tahun 1740 rumah orang Tionghoa masih banyak di Batavia atau Kota Jakarta. Di masa kolonial Belanda, rumah Tionghoa banyak yang dibakar dan dibongkar. Namun demikian masih ada peninggalan bersejarah yang dapat ditemukan sekarang, walau tak banyak. Itu pun kondisinya memprihatinkan.

“Bangunan tua berarsitektur Tionghoa yang tersisa dan masih terawat hanya berupa klenteng. Sedangkan rumah-rumah berarsitektur Tionghoa di kawasan Senen, Glodok, Pinangsia, walau masih ada yang tersisa, kondisinya memprihatinkan. Ini sangat disayangkan sekali, karena dari dulu banyak juga sumbangan etnik Tionghoa dalam pembangunan Kota Jakarta,” ujarnya.

Menurut Heuken yang menulis buku Historical Sites of Jakarta (2000) dan Gereja-gereja Tua di Jakarta dan Masjid-masjid Tua di Jakarta (2003), arsitektur Tionghoa tidak hanya ditemukan di rumah, gedung, dan klenteng Tionghoa, tetapi juga ditemukan pada bangunan Masjid, seperti pada bangunan Masjid Kebun Jeruk, Masjid Tambora, dan Masjid Angke. Jika di Masjid Kebun Jeruk dan Tambora dengan pengaruh Tionghoa cukup kuat, maka di Masjid Angke juga ada pengaruh arsitektur Belanda.

David Kwan mengatakan, peninggalan bersejarah etnik Tionghoa yang terbesar dan terlengkap di Jakarta adalah Gedung Candra Naya, yang didirikan tahun 1946. Namun, sekarang tinggal sepotong. Tanah dan Gedung Candra Naya sudah dibeli oleh salah satu raksasa bisnis negeri ini. Di sepanjang jalan Gadjah Mada, hanya tersisa tiga bangunan yang berarsitektur Tionghoa, salah satunya SMA 2.

Menurut Kwa, jika tak ada upaya pelestarian dari pemerintah, peninggan bersejarah etnik Tionghoa mungkin tinggal nama. Kepada peserta seminar, Kwa menjelaskan tiga ciri utama bangunan berarsitektur Tionghoa, yakni di ujung atapnya melengkung seperti busur, simbol ekor walet. Ini pertanda pemilik bangunan adalah kalangan pejabat Tionghoa.

Kemudian ada sepasang singabatu. Sepasang singabatu tidak hanya dipasang di klenteng, tetapi juga di rumah-rumah. Lalu, atapnya bergaya pelana. Ini rumah masyarakat Tionghoa kebanyakan, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah lain seperti Semarang, Medan, dan lainnya.

Menurut David Kwa, Gedung Candra Naya adalah contoh bangunan berarsitektur Tionghoa yang ada pengaruh Hindia Belanda, seperti ada penyangga atap dari besi yang khas Belanda. Sementara di Tiongkok tidak ada penyangga besi. Lantai dari marmer, pintu/jendela berukuran besar, jendela dengan tempias.

Sedang Ronald Knapp memaparkan tentang bangunan-bangunan tua di China sejak Dinasti Yuan (1279-1368), sampai sekarang masih terpelihara baik, baik di Fujian Quangdong, Jiangxi, Zhehiang, Shicuan, Taipei dan kota-kota lainnya. Bahkan, dengan perkembangan jumlah penduduk atau keluarga, bangunan-bangunan baru di sekitar bangunan tua mengikuti pola arsitektur yang sudah ada.

Bangunan baru tersebut seperti meneruskan pola-pola bangunan lama, jelas Knapp, sembari menyangkan foto pembanding situasi bangunan dulu dan kondisi bangunan tersebut sekarang.

Sumber: Kompas, 9 Juni 2008

DKI, Tolong Perhatikan Candra Naya

Monday, June 9th, 2008

JAKARTA,SENIN – Wujud bangunan bersejarah Tjandra Naja (Candra Naya) di kawasan Gajah Mada yang kini tidak utuh lagi dinilai belum menjadi perhatian pemerintah kota DKI Jakarta. Peneliti kebudayaan peranakan Cina David Kwa meminta pemerintah untuk mendukung pelestarian warisan budaya Tionghoa sebagai bagian dari budaya Indonesia ini dengan membebaskan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk bangunan tersebut dan mendukungnya dengan biaya pemeliharaan.

“Kami berencana mengambil alih sebenarnya, sebelum semuanya hilang, tapi nggak kuat bayarnya (PBB),” ujar David usai seminar mengenai rumah tradisional Tionghoa di Museum Bank Indonesia (BI), Senin (9/6).

David mengatakan bahwa PBB yang dikenakan kepada bangunan Candra Naya sebesar Rp 30 juta per tahun. Memang, diakui David, bangunan tersebut dulunya adalah tempat tinggal pejabat atau orang penting di zamannya, namun perlakuan tersebut harusnya berbeda untuk saat ini karena keturunan Majoor der Chineezen Khouw Kim An, pemilik awal Candra Naya, belum tentu orang berada.

“Makanya kalau mau dilestarikan ya mereka diberi fasilitas, daripada dibeli pengusaha. Ini aset, kawasan bersejarah, jangan sampai aset kita hilang,” ujar David. Menurut David, kondisi bangunan bersejarah Candra Naya saat ini dalam keadaan rusak berat. Ibarat tubuh manusia, yang tersisa hanyalah bagian torsonya, sedangkan bagian lainnya telah “diamputasi”.

Dari keseluruhan bangunan yang membentuknya sebagai suatu kesatuan, yaitu bangunan utama, dua bangunan kiri dan kanan serta bangunan belakang, hanya bangunan utama yang tersisa. David juga mengatakan, menurut kabar terakhir yang diterimanya, bangunan utamanya pun rencananya akan dipindahkan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). “Bikin replika pun tak berguna karena teknik membangunnya saja sudah pasti berbeda dengan yang asli,” tandas David. (LIN)

Sumber: Kompas, 9 Juni 2008