Archive for 2008

20 Persen Benda Cagar Budaya Hilang

Monday, October 27th, 2008

Oleh: Ena

SOLO (Joglosemar): Pemkot Solo telah kehilangan 20 persen benda cagar budaya. Karena itu, upaya perlindungan dan pelestarian benda dan bangunan cagar budaya akan dimaksimalkan akhir tahun 2009.

“Program pertama adalah rekonstruksi Pura Mangkunegaran, termasuk Ngarsapura,” ujar Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) usai pembukaan konferensi WHC di Hotel Sunan Solo, Sabtu (25/10).

“Saya telah belajar banyak dari Kazan dan Lijiang, tentang bagaimana mereka mengonservasi sebuah kawasan sebagai salah satu tujuan tourism,” paparnya.

Jokowi menambahkan, Pemkot Solo telah menyiapkan draft Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) mengenai bangunan cagar budaya. Akhir tahun ini, Perda akan diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surakarta.

Terpisah, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik meminta kepada setiap kepala daerah untuk menyeleksi secara ketat pemberian izin mendirikan bangunan atau IMB.

“Walikota harus mengecek ke lapangan, adakah bangunan cagar budaya di lokasi bersangkutan. Kalau ada, bicarakan dulu, carikan solusi yang tepat,” papar Jero Wacik di Loji Gandrung, usai meresmikan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Sabtu (25/10).

Dipertahankan
Menurutnya, bangunan cagar budaya harus dipertahankan. Tetapi, keberadaannya diharapkan tidak menghambat penciptaan lapangan pekerjaan. Agar keduanya bersinergi, walikota harus mempunyai kriteria tertentu untuk bangunan yang akan di bangun di kawasan bangunan cagar budaya. Jaringan Kota Pusaka Indonesia dibentuk pada 11 September 2008 di Jakarta. Kota Solo ditunjuk sebagai koordinator Jaringan Kota Pusaka Indonesia. Hingga saat ini, anggotanya tercatat 12 kota, di antaranya Ternate, Blitar, Pangkal Pinang, Denpasar, Ambon, Surabaya, Medan, Pekalongan, Yogyakarta, Palembang, Pontianak dan Solo.

Jero Wacik berharap, semua walikota di Indonesia bergabung dalam JKPI sehingga nantinya keanggotaan Jaringan Kota Pusaka Indonesia bisa mencapai 50 kota. Keberadaan organisasi Jaringan Kota Pusaka Indonesia itu, kata Jero Wacik sangat penting karena bisa dijadikan sebagai forum untuk merumuskan solusi-solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh anggotanya terkait dengan pelestarian bangunan cagar budaya.

“Tugas mereka kemudian menyosialisasikan keputusan menteri (Kepmen) tentang benda cagar budaya, serta menyosialisasikan sanksi bagi mereka yang melakukan pencurian terhadap benda-benda cagar budaya,” tambahnya. (ena)

Sumber: Harian Joglo Semar, 27 Oktober 2008

Menanti Kejutan VOC Galangan

Monday, September 29th, 2008

Oleh Pradaningrum W

Di penghujung usia 50 tahun, Susilawati ingin menghapus kegusaran yang makin melilit perasaannya. Ia masygul karena sebagai pioner revitalisasi di kawasan Kota Tua, dirinya seperti tak berharga di depan banyak orang. Terlebih di depan pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Upaya Susilawati menghidupkan kawasan di seberang Pasar Ikan, Jalan Kakap, tak disambut dengan antusias oleh Pemprov DKI. Padahal pemerintah daerah adalah pihak yang paling berkepentingan dalam rangka menghidupkan kembali kawasan yang sudah lama mati itu.

Tahun 1998, perempuan yang akrab disapa Susi tersebut mulai menyulap bangunan bekas galangan kapal dari abad 17-18 menjadi Kafe/Restoran VOC Galangan tanpa mengubah bentuk bangunan itu sendiri. “Prosesnya lama. Enggak boleh begini-begitu. Kita ikutin sebab ini kan bangunan yang dilindungi, bangunan sangat tua,” kata Susi.

Jumlah rupiah yang digelontorkan untuk membeli lahan hingga memugar bangunan ini tentu mencapai miliaran. Itu 10 tahun lalu. Kini jumlah itu berlipat lima kali. Biaya perawatan, operasional, dan pajak bangunan, menjadi terasa begitu berat manakala dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan tak kunjung tiba. Misalnya, kebijakan soal kebersihan, sampah yang memadati sungai yang melalui galangan, bau yang ditimbulkan, keamanan, atau kebijakan untuk terbiasa mengadakan acara di kawasan itu. Intinya, ‘kehidupan’ tak segera diciptakan di kawasan itu.

“Begitu saya bikin ini (Kafe/Restoran VOC Galangan), terus di sebelah-sebelah bikin juga. Bisnis makanan mulai marak di sekitar sini,” ujar Susi. VOC Galangan punya nilai lebih karena dari lahan seluas 5.000 m2 tak semua dihabiskan menjadi kafe/restoran. Tempat ini bisa dijadikan sebagai tempat diskusi, seminar, festival budaya, bahkan pesta pernikahan. Apa pun bisa dilakukan di sini. Tapi pejabat Pemprov DKI seakan alergi untuk datang/mengadakan acara di sini. Macet selalu jadi kambing hitam.

“Saya udah nyaris putus asa. Anak-anak juga bilang, udah jual aja. Tapi saya sayang sama bangunan ini. Tiap hari saya di sini. Kadang saya cuma bengong, bagaimana ya supaya bangunan ini ‘hidup’. Saya masih berharap tempat ini bisa jadi ramai. Bisa menghidupkan kawasan ini. Jadi saya putuskan untuk melakukan perubahan pada tempat ini. Saya akan melakukan pembenahan besar-besaran. Titik awalnya pada ulang tahun ke-10 nanti, Desember,” tutur Susi memaparkan cita-citanya. Semangatnya tiba-tiba bangkit, menggantikan rasa gundahnya selama ini.

Keindahan masa lalu
Keyakinan itu datang karena dukungan, yang bukan dari pemerintah, mulai mengalir. Ya, dukungan. Itulah yang dia perlukan. Sering kali ada hal yang sangat bertolak belakang. Contohnya ketika revitalisasi Kota Tua—atau lebih tepatnya pembenahan fisik—dimulai, pada saat itu pula pejabat Pemprov DKI—juga anggota dewan yang terhormat—menunjukkan keengganan untuk sekadar menengok kawasan ini. Alasannya terlalu klise dan sama sekali tidak menunjukkan dukungan, yaitu macet.

Maka warga Jakarta dan sekitarnya, bersiaplah menanti kejutan apa yang akan dilakukan Susi terhadap bangunan kesayangannya itu. Tentunya, perubahan besar-besaran ini sedikit banyak bisa menjadi pelajaran buat pemerintah, bahwa revitalisasi bukan cuma memberi gincu tapi memberi napas kehidupan yang baru bagi gedung dan kawasan.

Bangunan galangan kapal di masa Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) ini berada tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, sebuah titik di mana Jakarta bermula. Persis di seberang VOC Galangan, berdiri pula bangunan serupa yang kemudian menjadi Museum Bahari.

Pemandangan di kafe ini membawa kita ke keindahan suasana masa lalu. Tembok setebal 40 cm peninggalan Belanda terlihat masih utuh. Beberapa sisi dimodifikasi agar memberi kesan kuno. Kayu-kayu penyangga, termasuk gelagar, masih terlihat kokoh walau sebenarnya rayap mulai menggerogoti di beberapa bagian. Sayang memang, lingkungan di sekitarnya tak digubris pemerintah. Tak lama setelah matahari tenggelam, kawasan itu langsung sunyi senyap.

Galangan kapal ini sudah beroperasi sejak 1632. Compagnies Timmer en Scheepswerf (Bengkel Kayu dan Galangan Kapal Kompeni) ini berdiri di atas tanah urukan di tepi barat Kali Besar ketika Ciliiwung diluruskan mulai dari Pintu Kecil sampai ke Pasar Ikan.

Dalam buku Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun yang ditulis Adolf Heuken dan Grace Pamungkas, tertulis bahwa sampai penutupan Ciliwung di Glodok (1920), Kali Besar ini menyalurkan air Ciliwung ke Pasar Ikan . Tetapi kini hanya Kali Krukut yang mengalirkan air ke Kali Besar. Kebakaran besar yang terjadi pada tahun 1721 diyakini merusak sebagian kompleks galangan kapal.

Dalam buku itu penulis juga mengungkapkan, galangan kapal digunakan untuk memperbaiki kapal-kapal besar dan kecil. Walaupun sejak tahun 1618 perbaikan kapal besar sudah dipusatkan di Pulau Onrust, perkakas kerja, material, dan tukang tetap diatur dari galangan kapal. Tempat ini juga berfungsi sebagai penyimpanan sebagian besar barang keperluan bengkel.

Sumber: Warta Kota, Senin, 29 September 2008.