Archive for July, 2007

Solo Berambisi Kembalikan Kejayaan Masa Lalu

Thursday, July 26th, 2007

TEMPO Interaktif, Solo:Pemerintah Kota Solo berambisi mengembalikan keaslian sejumlah cagar budaya di wilayahnya seperti tempo dulu. Namun ambisi tersebut terbentur masalah pendanaan yang diperkirakan mencapai Rp 40 triliun.

Konferensi World of Heritage City pada tahun depan yang akan digelar di Kota Solo, diharapkan dapat memberikan jalan keluar. Salah satu titik sentral pengembalian cagar budaya ke bentuk aslinya adalah menjadikan kawasan Keraton Kasunanan Surakarta sebagaimana aslinya.

“Tidak lagi ada permukiman hingga radius 500 meter,” kata Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Pemerintahan Kota Solo, Purnomo Subagyo, Kamis (26/7).

Purnomo mengakui dana yang diperlukan tersebut tidak kecil dan merupakan perhitungan kasar berdasarkan hasil konsultasi dengan sejumlah pakar cagar budaya.

Dia mengatakan revitalisasi cagar budaya tersebut merupakan proyek jangka panjang. Meski demikian, program tersebut harus dijalankan apabila tidak menghendaki semakin pudarnya berbagai peninggalan masa lalu.

Saat ini sejumlah cagar budaya di Solo sudah beralih fungsi, termasuk kawasan di sekitar alun-alun yang menjadi pusat kawasan bisnis berupa supermarket. Bahkan, Benteng Vastenburg yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari Keraton, sudah jatuh ke tangan swasta.

“Gagasan besar ini membutuhkan dukungan semua pihak, tidak mungkin hanya bisa dikerjakan oleh Pemerintahan Kota Solo, tetapi juga pemerintah pusat bahkan dunia internasional,” kata Purnomo.

Apabila rencana tersebut direalisasikan, maka dipastikan ratusan warga luar Keraton yang secara turun temurun telah menghuni kawasan di dalam tembok Keraton harus angkat kaki.

Pihak Keraton Kasunanan mengakui mendengar adanya rencana Pemerintah Kota Solo untuk melakukan revitalisasi total cagar budaya yang ada di Solo. Hanya saja menurut Ketua Lembaga Hukum Keraton Kasunanan KP Edi Wirabhumi, rencana tersebut belum pernah dibicarakan dengan pihak Keraton. (Imron Rosyid)

Sumber: Tempo Interaktif, 26 Juli 2006.

Bangunan Bersejarah Belum Tergarap

Tuesday, July 24th, 2007

Sebagai kota dengan usia relatif tua, Salatiga memiliki cukup banyak bangunan cagar budaya yang unik. Hal ini dapat menjadikan Kota Salatiga yang akan memperingati hari jadinya ke-1.275 ini sebagai obyek wisata sejarah. Namun, patut disayangkan upaya untuk memaksimalkan potensi ini masih minim.

Berdasarkan catatan Badan perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Salatiga dan Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, terdapat paling tidak 192 lokasi dan bangunan bersejarah. Data ini dituangkan dalam Inventarisasi Peninggalan Benda Purbakala dan Bangunan Bersejarah Salatiga.

Dalam catatan ini, bangunan dan benda cagar budaya ini terbagi menjadi peninggalan jalan prasejarah, pengaruh Hindu, pengaruh Islam, pengaruh budaya Tionghoa, dan pengaruh budaya Barat.

Gedung Pakuwon di Jalan Brigjen Sudiarto, misalnya merupakan bangunan paling tua, yaitu didirikan sekitar tahun 1700. Bangunan ini masih berdiri kokoh dan menjadi saksi perjanjian segitiga antara Pangeran Sambernyowo, Pakubuwono II, dan Belanda. Bangunan ini kini menjadi milik perorangan dan menjadi lembaga pendidikan.

Kepala kantor Informasi dan Komunikasi Kota Salatiga Petrus Resi mengakui, perawatan bangunan bersejarah sangat minim. Prasasti di Pakuwon, misalnya sudah hilang. “Saya sudah berkali-kali mengusulkan agar dibuat kembali paling tidak replikanya agar jejak sejarahnya tidak hilang,” ujar dia, Senin (23/7).

Petrus juga merasa potensi Kota Salatiga untuk mengembangkan bangunan cagar budaya sangat besar. Hanya saja, peningkatan potensi ini masih terbentur beberapa hal, termasuk inventarisasi dan pendanaan. Untuk tahun 2007, dari APBD Kota Salatiga, dianggarkan Rp 20 juta untuk wisata budaya dan pembuatan buku sejarah.

Menurut dia, belum ada anggaran khusus untuk perawatan fisik bangunan cagar budaya. Pengajuan kepada pemerintah pusat baru diajukan pada tahun 2007, tetapi belum mendapat tanggapan. Dana ini diharapkan baru akan turun pada tahun 2008 sehingga bisa membantu pelestarian bangunan bersejarah.

Tidak adanya bantuan perawatan membuat sebagian bangunan kurang terawat. Namun, ada pula gedung yang dirawat dengan swadaya, seperti Kantor Perhubungan Korem 073 Makutarama di Jalan Diponegoro. Bangunan yang didirikan sekitar tahun 1850 ini termasuk gedung unik dengan julukan Gedung Kubah Kembar.

“Perawatan hanya dapat kami lakukan seadanya dengan dana sendiri. Bangunan ini sifatnya hanya penggunaan karena sebenaranya milik perorangan,” ujar kepala Kantor Perhubungan Korem 073 Kapten (CHB) Wagino.(Antony Lee)

Sumber: Kompas, 24 Juli 2007