Archive for March, 2007

Bioskop Megaria Tidak Boleh Diubah

Wednesday, March 14th, 2007

Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta tidak mempersoalkan penjualan gedung bioskop Megaria di Jalan Pegangsaan Timur nomor 21, Jakarta Pusat. “Tapi pemilik baru tidak boleh mengubah tampak muka, ornamen, dan struktur utama bangunan itu,” kata Aurora Tambunan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI.

Menurut dia, gedung bioskop Megaria termasuk cagar budaya. Tapi, bangunan lainnya, seperti pusat belanja, restoran, dan arena permainan bola sodok, boleh dihancurkan, karena tidak termasuk cagar budaya.

Aurora memahami kenapa pemilik gedung bioskop itu hendak menjual bangunan tersebut. “Pemeliharaanya membutuhkan biaya besar, kalau tak sanggup, pemilik bisa menjualnya” ucap Aurora, kemarin.

Jika pemilik baru akan memugar bioskop yang dibangun tahun 1932, menurut Aurora, harus ada persetujuan dari Dinas Kebudayaan dan Permuseuman. “Kami juga akan memberi masukan dan mengawasi proses pemugaran tersebut,” ujarnya.

Seperti diwartakan kemarin, pemilik bioskop tertua di Jakarta, Megaria (ex-Metropole), akan dijual oleh pemiliknya, Handoyo, 80 tahun. Penjualan Megaria diumumkan melalui internet di situs indorealestates.com. Harga yang ditawarkan Rp 151.099.000.000.

Di atas tanah seluas 11.800 meter persegi itu, terdapat 12 pengontrak. Antara lain, pasar serba ada Hero, permainan bola sodok, pencukur rambut, dan ayam bakar Megaria.

Rencana penjualan gedung bioskop tertua itu disayangkan Ketua Komunitas Pecinta Sejarah Historia, Asep Kambali. Dia khawatir, pemilik baru akan mengubah struktur bangunan kuno itu atau membangun gedung baru di lahan parkir. “Cagar budaya akan kehilangan maknanya jika tertutup oleh bangunan baru,” kata Asep.

Gedung monumental itu diresmikan pada tahun 1949 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. “Saat itu, bioskop itu tergolong bioskop paling mewah di Jakarta karena saat itu yang ada cuma bioskop misbar (gerimis bubar),” kata Asep. Berdasarkan Surat keputusan nomor 475 tahun 1993 tentang Bangunan Cagar Budaya, di Jakarta terdapat 216 gedung. (Yudha Setiawan|Reza Maulana)

Sumber: Tempo Interaktif, 14 Maret 2007

Sisa-sisa Kemegahan Batavia

Friday, March 9th, 2007

Oleh: Neli Triana

Di antara jalanan aspal yang berlubang-lubang mengepulkan debu, di tengah panas terik mentari, mata terus mencari-cari lokasi Museum Bahari, salah satu tempat tujuan wisata di kawasan kota tua di Jakarta Utara.

Bangunan kokoh dari tembok tebal itu ternyata tersembunyi di dalam gang, bersisian dengan Pasar Ikan. Di depannya berdiri Menara Syahbandar. Rombongan sesama peminat situs-situs bersejarah dari Sahabat Museum telah cukup lama menunggu sambil menikmati suasana pada Minggu (4/3) pagi pukul 09.00.

Dipandu sejarawan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIPB) Universitas Indonesia (UI), Lilie Suratminto, kami berjalan dari kompleks Menara Syahbandar menuju Museum Bahari. Setiap peserta telah dibekali minuman air mineral dan roti buaya khas Betawi.

Lilie yang menekuni Program Studi Belanda di FIPB UI fasih menjelaskan segala hal berkaitan dengan Museum Bahari, yang letaknya dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

“Bangunan Museum Bahari ini awalnya berupa dua gedung bekas kantor perdagangan dan gudang rempah-rempah milik Belanda yang dibangun pada tahun 1652, masa-masa awal kedatangan mereka di Jakarta. Hingga kini, Museum Bahari telah mengalami beberapa perubahan dan tahun perubahan dapat dilihat di pintu-pintu masuk, di antaranya tahun 1718, 1719 dan 1771,” kata Lilie.

Gudang itu juga disebut Westzijdsch Pakhuizen atau gudang- gudang bagian barat sungai. Pada mulanya bangunan itu berfungsi sebagai gudang rempah-rempah, seperti lada, teh, kopi, juga pakaian. Tembok yang mengelilingi museum adalah bagian dari pembatas kota Jakarta (city wall) asli dari zaman Belanda. Bahkan, gapuranya didatangkan dari Amsterdam.

Diresmikan Ali Sadikin

Museum Bahari diresmikan 7 Juli 1977 oleh Gubernur Ali Sadikin. Di ruang-ruang dalam museum, pengunjung dapat menyaksikan berbagai jenis kapal dari seluruh daerah di Indonesia, dilengkapi dengan gambar dan foto-foto pelabuhan pada masa lalu. Di depan museum, terdapat Menara Syahbandar yang dibangun pada 1839 untuk mengawasi kapal masuk dan keluar Pelabuhan Sunda Kelapa.

Lilie menunjukkan koleksi unik di museum ini, yaitu sejarah keberadaan Pulau Onrust, salah satu pulau di Kepulauan Seribu, lengkap dengan miniatur pulau. Pulau ini dahulu kala digunakan Belanda sebagai benteng dan galangan kapal, tempat perbaikan kapal yang rusak.

Untuk mengunjungi museum, tidaklah sulit. Dari Stasiun KA Jakarta Kota, pengunjung dapat mengambil kendaraan umum mikrolet 015 jurusan Kota-Tanjung Priok, turun di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kendaraan pribadi dapat juga diparkir di kawasan ini dan perjalanan lalu diteruskan dengan berjalan kaki.

Sepanjang jalan, di depan museum, terdapat kios-kios Pasar Ikan yang menjual aneka kerang dan barang-barang laut. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari Senin-Kamis mulai pukul 08.00-14.00 dan Jumat hingga pukul 11.00, serta Sabtu buka hingga pukul 13.00. Tarifnya, untuk umum Rp. 2.000, pelajar Rp. 1.000. Kalau datang berombongan lebih dari 20 orang, tarif akan lebih murah.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Berwisata murah meriah terus berlanjut hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa, yang kini menjadi pelabuhan bongkar muat barang. Setiap hari, para buruh pelabuhan sibuk naik turun membongkar muatan kapal, seperti aktivitas menurunkan kayu yang berasal dari Kalimantan. Di dermaga, berjajar kapal-kapal pinisi atau bugis schooner dengan bentuk khas, meruncing di salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal.

Pelabuhan Sunda Kelapa sebenarnya telah akrab berhubungan dengan bangsa-bangsa lain sejak abad XII. Kala itu, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada milik kerajaan Hindu di Jawa Barat, Pajajaran.

Kapal-kapal asing yang singgah dan berdagang dengan pedagang lokal, antara lain, berasal dari China, Jepang, India Selatan, dan Arab. Mereka berlabuh dan membawa berbagai barang, seperti porselen, kopi, sutra, kain, wewangian, kuda, anggur, dan zat warna guna ditukar dengan rempah-rempah yang jadi kekayaan Tanah Air saat itu.

Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang tiba di Sunda Kelapa pada 1512 untuk mencari rempah-rempah yang amat diminati dunia Barat. Keberadaan mereka ternyata tidak berlangsung lama. Gabungan kekuatan Kerajaan Banten dan Demak dipimpin Sunan Gunung Jati atau dikenal dengan nama Fatahillah menguasai Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta atau kemenangan yang nyata pada 22 Juni 1527.

Sunda Kelapa hanya sepi sesaat dari gangguan bangsa barat. Belanda tiba tahun 1596 dengan tujuan yang sama, yaitu mencari rempah-rempah. Rempah-rempah menjadi komoditas andalan. Para pedagang Belanda awalnya mendapat sambutan hangat dari Pangeran Wijayakrama.

Namun, hubungan mesra tersebut buyar saat Belanda mengingkari perjanjian perdagangan dan mendirikan benteng di selatan Pelabuhan Sunda Kelapa. Lambat laun, hubungan pun berubah menjadi penjajahan.

Benteng tersebut dibangun tahun 1613, sekitar 200 meter ke arah selatan Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada 1839, di lokasi itu didirikan Menara Syahbandar yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara menempati salah satu bastion (sudut benteng), sekaligus menandai monopoli perdagangan di Nusantara.

Kini kawasan sekitar kompleks bangunan bersejarah itu penuh permukiman tak teratur, cenderung kumuh, dan di banyak tempat ditemukan tumpukan sampah. Menara Syahbandar tampak memprihatinkan dengan jendela kayu yang jebol dan bangunan mulai miring.

Padahal, kompleks kawasan bersejarah itu termasuk dalam perencanaan pembangunan koridor sejarah Jakarta yang dicanangkan sejak masa Ali Sadikin. Berkali-kali pemimpin Jakarta berganti, gagasan revitalisasi kota tua termasuk di dalamnya realisasi pembangunan koridor sejarah Jakarta, hanya sebatas rencana di atas kertas.

Sumber: Kompas, 09 Maret 2007