Archive for July, 2006

Mendorong Kereta Bayi di Sisi Timur

Monday, July 31st, 2006

Sesuai karakter ketinggian permukaan tanah dan suhu udara Kota Bandung, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan usaha perkebunan teh di utara dan selatan Bandung. Hal itu disebut sebagai salah satu alasan semakin berkembangnya kawasan Dago.

BERDASARKAN informasi yang diperoleh dari beberapa literatur, Ir. Herman Thomas Karsten dinobatkan sebagai perancang Kota Bandung. Dalam Karsten Plan, kawasan utara Bandung, termasuk Dago, Cipaganti, Ciumbuleuit, ditetapkan sebagai kawasan pemukiman masyarakat Eropa.

Karsten Plan dicetuskan setelah Pemerintah Hindia Belanda berencana menjadikan Kota Bandung sebagai ibu kota dan pusat komando militer pada awal abad ke-20. Dalam tulisan Ir. Dibyo Hartono di www.arsitekturindis.com, pemerintah memindahkan Departemen Peperangan (Departement van Oorlog) dari Weltevreeden (Jakarta Pusat) ke Bandung dengan membangun Pusat Komando Militer yang oleh masyarakat Sunda disebut Gedong Sabau, karya VL Slors tahun 1913. Persiapan menjadi ibu kota ditandai pula dengan pemindahan kantor pusat Perusahaan Jawatan Kereta Api pada tahun 1916.

Jauh sebelum itu, sesuai karakter ketinggian permukaan tanah dan suhu udara Kota Bandung, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan usaha perkebunan teh di utara dan selatan Bandung. Hal itu disebut sebagai salah satu alasan semakin berkembangnya kawasan Dago.

Yang kita sebut sebagai Jalan Dago saat ini, awalnya bernama Dagostraat. Berubah nama menjadi Dago pada tahun 1950 dan menjadi Jln. Ir. H. Djuanda pada awal tahun 1970-an. Sesuai peruntukannya, sepanjang Jln. Dago dipadati hunian berarsitektur Eropa, karena memang diperuntukkan bagi masyarakat Eropa. Bisa jadi, julukan kawasan elite yang ditujukan ke kawasan Dago, bermula pada saat itu.

Konsep garden city coba diterapkan Karsten dalam perencanaannya. Konsep ini lahir sebagai jawaban atas revolusi industri yang melahirkan praktek kolonialisme di negara-negara penghasil bahan mentah. Konsekuensi selanjutnya, kebutuhan menata kota-kota administratur yang diharapkan bisa menjadi jalan keluar bagi masalah perkotaan yang ditimbulkan, seperti kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan yang makin buruk, dan ketersediaan air minum.

**

Karsten Plan sangat memperhitungkan keseimbangan alam dengan ditanamnya pohon berakar kuat sepanjang Jln. Dago. Badan jalan sebelah timur dari ruas persimpangan Pasar Simpang hingga persimpangan Cikapayang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Badan jalan sebelah barat diperuntukkan bagi kendaraan yang saat itu masih didominasi kereta kuda dan sepeda.

”Di jalan sebelah timur itu, biasanya orang ngasuh bayinya menggunakan kereta dorong,” ujar Iwan Darma Setiawan, warga asli Jln. Dago yang telah menghuni rumahnya lebih dari 40 tahun.

Begitulah, kawasan Dago telah dirancang senyaman mungkin untuk menjadi tempat hunian masyarakat Eropa yang menduduki strata ekonomi tertinggi pada saat itu.

Salah satu cirinya dari segi bangunan, atap dibuat curam untuk menyesuaikan dengan curah hujan yang tinggi. Halaman rumah terbentang luas dan dipenuhi rerumputan tertata rapi. Antara satu halaman rumah dengan halaman rumah lainnya hampir tidak diberi batas. ”Paling tinggi cuma tiga puluh sentimeter saja untuk batas, tidak ada pagar-pagar tinggi seperti sekarang,” ujar Iwan.

Tinggi bangunan rumah dirancang agar tidak melebihi dua tingkat. Hal ini, lanjut Iwan, untuk memastikan cahaya udara bisa leluasa masuk ke rumah. Masing-masing warga Dago tidak saling menghalangi dengan mendirikan tembok pembatas yang tinggi.

Pada pertengahan dasawarsa 1950-an, aset-aset Pemerintah Belanda dinasionalisasi Pemerintah Indonesia. Rumah-rumah di sepanjang Jln. Dago yang semula dihuni para administratur Belanda, perlahan-lahan ditinggalkan. Sebagian besar penghuni baru pascapemilik lama membeli atau mendapat hibah dari Pemerintah Indonesia karena urusan dinas.

Muda-mudi penghuni Jln. Dago umumnya kalangan terpelajar. Gengsi kawasan tetap melekat, terlebih masih di sekitar Jln. Dago, berdiri dua perguruan tinggi ternama, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Perubahan kawasan Dago mulai terasa sejak pelebaran jalan dilakukan pada tahun 1970-an. Pohon rambat pembatas jalan dihancurkan. Akibatnya, jalan lebar itu sering digunakan kaum muda untuk arena balapan.

Selanjutnya Jln. Dago menjadi kawasan asal-muasal segala tren di Kota Bandung. Misalnya, pengaruh generasi bunga (flower generation) di Amerika Serikat direspons cepat oleh muda-mudi Jln. Dago. Kampanye antiperang Vietnam menjadi titik tolak lahirnya filosofi antikemapanan yang diprakarsai kaum muda kelas menengah.

Setidaknya, di Bandung, tepatnya di salah satu rumah Jln. Dago menjadi tempat berkumpulnya muda-mudi kaum hippies (sebutan bagi penganut flower generation). Tidak hanya muda-mudi yang tinggal di Jln. Dago. Kali ini, lebih plural. Mereka biasa menggunakan baju bermotif bunga, celana jeans, kalung manik-manik, jaket yang disulam sendiri. Intinya, dari segi fashion, ini untuk membedakan dengan kaum berdasi.

Tidak ketinggalan, moto kaum hippies, sex, drugs, and love juga turut diadaptasi. Iwan mengisahkan, pada waktu pertengahan tahun 1960-an itu, banyak kaum muda yang terobsesi dengan gaya hidup kaum hippies.

Tak lama setelah itu, pembangunan pesat dilakukan. Terlebih setelah Indonesia dimanjakan oil boom di era 1980-an. Kawasan yang tadinya diproyeksikan berwarna hijau (kawasan hunian-red.) dalam perencanaan tata ruang kota, perlahan bercampur warna kuning (perkantoran-red.). ”Belakangan, setelah krisis ekonomi malah menjadi kawasan merah (perdagangan-red.),” ujar Iwan yang berprofesi sebagai arsitek ini.

Rantai masalah yang timbul sebagai konsekuensi ditetapkannya kawasan itu sebagai hunian, perkantoran, atau perdagangan inilah yang tidak diperhitungkan oleh pemerintah. Munculnya pedagang kaki lima (PKL) dinilai sebagai konsekuensi pemerintah menetapkan kawasan Dago sebagai kawasan perdagangan. Menurut Iwan, PKL itu ada karena ada pasarnya (pembeli-red.), yaitu karyawan toko atau FO yang tidak mungkin membeli makanan di FO atau toko,” katanya. (Lina Nursanty/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 31 Juli 2006

Bangunan Bersejarah di Pecinan Terancam Punah

Monday, July 24th, 2006

Jakarta, Kompas – Bangunan berlanggam Tionghoa di Pecinan kawasan Glodok-Pancoran, Jakarta Barat, terancam punah. Dalam pemantauan selama dua pekan terakhir hingga Sabtu (22/7), terlihat bangunan yang tersisa dalam keadaan kusam. Letaknya juga terimpit bangunan rumah toko modern yang tak memerhatikan estetika lingkungan.

Rumah kuno dari komunitas Tionghoa yang mulai bermukim di kawasan Glodok-Pancoran selepas tahun 1740 itu kini hanya tersisa di kawasan tertentu seperti di Blandongan, Toko Tiga, Pinangsia, Pasar Pagi, Jalan Perniagaan. Bangunan yang berasal dari abad XVIII-XIX itu tidak terkonsentrasi di satu lokasi.

Salah satu bangunan yang paling bersejarah adalah kediaman Keluarga Besar Souw, yakni keturunan Kapiten Souw Beng Kong. Souw Beng Kong adalah Kapitein der Chinezen pertama sekaligus peletak pembangunan kota Batavia modern yang kini menjadi Jakarta.

Saat ini bangunan rumah di dekat Pasar Perniagaan itu tidak menjadi pusat kegiatan wisata ataupun budaya. Lebih memprihatinkan lagi, sayap barat bangunan justru digusur untuk pembangunan Pasar Perniagaan. Yang tersisa hanya rumah induk dan bangunan sayap timur di atas lahan 5.000 meter.

Di dekat rumah keluarga Souw terdapat bangunan SMA Negeri 19 yang semula merupakan kompleks sekolah Ba Hua. Hingga tahun 1958, sekolah Ba Hua merupakan salah satu sekolah terbaik di Asia Tenggara dengan kurikulum Anglo-Chinese. Saat ini sekolah sezaman dengan kurikulum Anglo-Chinese seperti Ba Hua masih terdapat di Singapura dan Malaysia.

Bangunan tradisional yang masih dalam keadaan baik terdapat di Gang Batu dekat Jalan Perniagaan. Pada bangunan tradisional tersebut terpasang tulisan “Dijual” berikut nomor telepon agen yang menjadi perantara.

Sedang Didata

Menanggapi kondisi bangunan bersejarah di Pecinan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan menjelaskan, pihaknya kini sedang mendata bangunan tua di Pecinan terkait upaya revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta. Revitalisasi Kota Tua merupakan salah satu program unggulan Gubernur DKI Sutiyoso menjelang akhir masa jabatannya pada tahun 2007.

“Kami mengadakan survei awal secara quick scan pada tahun 2006 dan mendapati ada 40-an bangunan tua di kawasan tersebut. Banyak bangunan yang tidak masuk kategori A, tetapi sekarang sedang diupayakan konservasi dan pendataan lanjutan,” ujar Aurora.

Dia juga berjanji akan terus memperjuangkan konservasi Pecinan karena sejalan dengan prinsip heritage, yakni using the past for the future. “Ini berarti kami menginventarisasi bangunan tua dan mempertahankan bangunan bernilai sejarah yang turut membentuk wajah Kota Jakarta dalam wujud arsitektur Belanda, Inggris, langgam China, dan sebagainya tetap dapat dinikmati generasi mendatang. Walau fungsi bangunan itu mungkin sekarang berbeda dengan peruntukan pada masa lalu. Bangunan tua dijadikan modal sosial, ekonomi, dan budaya kini serta masa depan,” papar Aurora.

Salah seorang sesepuh warga Pancoran, Tian Li Tong, menyatakan, kalau bangunan tua yang tersisa tidak segera dikonservasi, dikhawatirkan sisa situs bersejarah di kawasan itu akan habis.

“Sayang daerah sini kurang mendapat perhatian meski penertiban Jalan Pancoran sudah dilakukan awal tahun,” kata Li Tong. (ong)

Sumber: Kompas, 24 Juli 2006