Archive for March, 2006

Benteng Pendem – Objek Wisata Sejarah Andalan Cilacap

Friday, March 31st, 2006

BENTENG Pendem Cilacap atau dalam bahasa Belanda disebut ”Kusbatterij op de Lantong te Cilacap”, terletak sekira setengah kilometer ke arah selatan dari objek wisata pantai Teluk Penyu. Bangunan ini adalah bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap tahun 1861-1879 dengan luas 6,5 hektar.

Konfigurasi bangunan Benteng Pendem, sampai saat ini masih kokoh. Arsitek Belanda mendesain Benteng Pendem lengkap dengan barak/ ruang prajurit, klinik, terowongan, penjara, ruang amunisi, ruang tembak yang dikelilingi pagar dan parit serta tertimbun tanah sedalam 1-3 meter.

Kini, bangunan bersejarah itu menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Cilacap. Disebut Benteng Pendem, karena bangunan bersejarah itu nyaris tertutup tanah perbukitan. Dari puncak benteng ini, kita dapat melihat Samudra Indonesia.

Belanda membangun Benteng Pendem sebagai markas pertahanannya hingga tahun 1942. Sebab, saat perang melawan Jepang, Sekutu kalah. Benteng ini kemudian dikuasai Jepang.

Benteng tersebut, juga menjadi saksi perjuangan rakyat Cilacap melawan penjajahan Belanda. Di benteng ini, ratusan rakyat Cilacap dan para pejuang ditawan penjajah.

Pada tahun 1945, saat Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh tentara Sekutu dan Jepang hengkang kembali ke negerinya – bangunan yang berada tak jauh dari Pulau Nusakambangan tersebut, dikuasai TNI dari Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah. Di tempat itu pula, para pejuang kemerdekaan berlatih perang dan pendaratan laut.

Pada tahun 1986, dilakukan penggalian terhadap lokasi yang berada di pintu Pelabuhan Cilacap tersebut. Ternyata di dalamnya terdapat ratusan ruangan, terdiri barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, dapur, ruang perwira, dan ruang peluru.

Sebelumnya tak ada yang menyangka, jika di dalam tanah gundukan yang berada tak jauh dari kilang minyak tersebut terdapat sebuah bangunan bersejarah.

Karena konon tempat tersebut lebih dulu dibuat bangunan, baru setelah itu ditimbun dengan tanah setebal empat meter, sehingga bangunan tersebut tidak terlihat.

Pada masa pemerintahan Belanda, banyak tentara yang dipenjara di Benteng Pendem dikabarkan tidak kembali. Di lokasi ini diperkirakan masih terdapat bangunan lain yang tertimbun. Dari Benteng Pendem itu pula, konon terdapat terowongan yang menghubungkan dengan benteng sejenis serta sejumlah gua-gua di Pulau Nusakambangan melalui bawah laut.

**

Antara Benteng Pendem dan Pulau Nusakambangan memang ada kaitannya. Di “pulau penjara” ini, sejumlah bangunan bersejarah peninggalan pemerintah kolonial Belanda bisa dijumpai.

Bangunan bersejarah seperti rumah penjara, tempat peristirahatan di candi, benteng Portugis dengan peninggalan meriam kuno yang merupakan sebagian potensi alam serta sejarah di Nusakambangan, memiliki prospek bagus untuk ditawarkan sebagai atraksi wisata.

Di pulau ini terdapat sekira 25 goa, termasuk goa kelelawar yang dihuni ribuan hewan malam ini.

Memasuki Nusakambangan dengan waktu tempuh 15 – 20 menit dari Dermaga Wijayapura, pertama kali akan melihat monumen Nusakambangan berupa sebuah tugu peringatan yang jaraknya hanya sekira 10 meter dari Pelabuhan Sodong, Nusakambangan.

Menuju arah barat pulau ini, terdapat bangunan penjara peninggalan Belanda seperti bangunan LP Limus Buntu. Bangunan penjara pertama yang dibangun Belanda, adalah LP Permisan yakni tahun 1908 dan terletak di ujung selatan pulau ini. Pada tahun 1912 dibangun lagi sebuah penjara di daerah Nirbaya dan Karanganyar.

Selama kurun waktu tahun 1925 sampai tahun 1935 dibangun rumah penjara di Batu, Karangtengah Gliger, Besi, dan Kembangkuning hingga seluruh LP di sana berjumlah sembilan.

Di samping bangunan-bangunan penjara di sebuah perbukitan di daerah candi, terdapat sebuah pesanggrahan. Dari atas puncak bukit ini, kita dapat melihat kerlip-kerlip sinar lampu Kota Cilacap serta kawasan hutan bakau di Segara Anakan.

Sayangnya, berbagai bangunan yang ada di sana saat ini dalam kondisi rusak berat. Dari 9 LP yang dibangun Belanda hanya empat yang difungsikan, yakni LP Batu, Besi, Kembangkuning, dan Permisan.

Objek alam yang mempunyai potensi untuk dikembangkan adalah goa-goa alam seperti Goa Putri dan Ratu yang kini telah dikembangkan oleh Pemda Cilacap-Goa Kledeng, Pasir, dan Goa Lawa (Kelelawar) yang terletak di bagian tengah. Di sisi timur, terdapat Monumen Artileri Benteng Pendem peninggalan Belanda dan mercusuar di Pantai Cimiring. (Ibnu Sofwan/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 31 Maret 2006

Visi “Masa Lalu” Pengembangan Kota Solo

Monday, March 27th, 2006

Oleh Ubed Abdilah S

Mengamati rencana pembangunan Kota Solo seperti yang dilontarkan Pemerintah Kota Solo, muncul beberapa hal yang jadi catatan serta patut menjadi perhatian. Berulang kali, Wali Kota Solo Joko Widodo mengungkapkan, visi pembangunan Kota Solo adalah kota budaya yang berorientasi pada nilai masa lalu.

Dalam visi yang konkret Solo’s Past is Solo’s Future (Solo Masa Lalu adalah Solo Masa Depan). Yang layak jadi catatan dari sisi konseptual, adalah konsep “masa lalu” sebagai konsep yang mengarah pada “budaya”.

Konsep ini perlu mendapat perhatian, karena “budaya” tak melulu menyangkut masa lalu, namun yang utama adalah menyangkut “masa depan”. Jika visi ke depan pembangunan Kota Solo adalah masa lalu, yang jadi pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana menggabungkan visi “masa depan” budaya dengan kondisi “masa lalu” Solo. Bagaimana visi itu bisa mengakomodasi kepentingan “masa depan” dengan konsep “masa lalu” Solo.

Konsep masa lalu dalam urban design seringkali hanya diasosiasikan dengan ikon fisik, seperti bangunan tua dan situs peninggalan budaya lama. Penerjemahan konsep pada wilayah fisik ini tidak salah, namun jangan sampai terjebak pada bentuk fisik dan mengabaikan apa yang ada jauh di luar bangunan fisik, yaitu nilai. Apa yang dijabarkan dengan masa lalu oleh Pemkot Solo baru tersirat pada bentuk fisik. Katakanlah rencana pemkot melakukan restorasi dan konservasi beberapa situs kebudayaan masa lalu, seperti Kampung Laweyan, Taman Sriwedari, dan lain-lain.

Setidaknya, langkah itu adalah awal yang baik, sementara begitu banyak situs peninggalan masa lalu di Solo yang terbengkalai. Sejauh ini masih terlalu minim perhatian pemkot dan juga masyarakat terhadap konservasi bangunan fisik peninggalan masa lalu itu. Persoalan kedua, konsep budaya memiliki terminologi luas.

Pembangunan budaya tak bisa dilakukan secara parsial terhadap satu aspek tertentu, seperti fisik. Budaya lebih berorientasi pada nilai atau spirit, menghasilkan manusia (masyarakat) yang berbudaya (sifat). Dari sisi konseptual spiritual ini, pencarian nilai masa lalu Solo adalah upaya kembali menghadirkan originalitas nilai Solo, nilai lokal yang berujung penemuan local genius dan identitas. Skala prioritas

Dari nilai dasar itu, selayaknya pemkot membuat skala prioritas pembangunan yang jelas. Dari rencana pembangunan kota yang dicanangkan Wali Kota Joko Widodo, dalam hal urban design, yang terungkap kepada publik baru rencana pengembangan city walk, sedang grand design pengembangan kota kurang banyak dipublikasi. Padahal, grand design sangat penting untuk melihat peta pengembangan kota secara terintegrasi. Satu hal lagi, pengembangan Solo selayaknya tak berdiri sendiri, tetapi harus melihat peta pengembangan daerah di sekitarnya, seperti Solo Baru yang lebih dulu mengembangkan diri sebagai kawasan urban penyangga Solo, juga kawasan Mojosongo yang akan dikembangkan sebagai Techno Park tahun 2020.

Jika yang tampak saat ini adalah pembangunan yang mengarahkan pada pemuasan libidonomic (hasrat ekonomi) seperti mal dan hipermarket bukan hal yang layak disayangkan. Itu karena, efek perkembangan ekonomi global dan dorongan politik budaya massa menuntut kehadiran ikon pemicu hasrat ekonomi itu. Ini tergantung pada pengelolaan dan kebijakan yang harus kembali mengacu kepada visi semula. Pencampuran antara ikon budaya massa yang memicu libidonomic dengan visi yang berkarakter budaya yang kuat pada sebuah kota menjadi daya tarik pada tingkat kunjungan pariwisata.

Jika pengembangan city walk di Jalan Slamet Riyadi Solo terinspirasi Orchard Road di Singapura, penataannya tidak bisa dilakukan parsial, sehingga dibutuhkan urban design yang komprehensif. Contoh, Singapura mengambil grand design sebagai garden city. Grand design Solo sebagai kota budaya perlu dieksplisitkan. Selain itu, dalam hal keterikatan budaya, Solo masih sedikit tertinggal dibanding tetangganya, Yogyakarta. Ciri budaya yang hendak ditampilkan Solo harus menjadi ikon kota dan mendapat positioning yang spesifik di tengah jangkar pariwisata Yogyakarta- Solo-Semarang (Joglosemar).

Karakter Solo yang berwajah multikultural adalah identitas Solo masa lalu di balik sejarah hegemoni kultur Jawa Mataram. Sisa dari ciri kota multikultural masih dapat dilihat hingga saat ini. Lagi- lagi, karena kurangnya minat konservasi dan desakan kepentingan yang lebih pragmatis, kekayaan nilai budaya itu nyaris punah. Wajah multikultur Solo tampak dari pluralitas populasi yang sesuai dengan karakternya sebagai kota komersial, menjadi tempat kelahiran organisasi dagang terbesar (Syarikat Dagang Islam), yang dengan sendirinya mengundang pelaku ekonomi dari berbagai masyarakat.

Saat ini masih tampak kawasan perkampungan yang memiliki karakter arsitektur budaya etnis tertentu. Perkampungan masyarakat China adalah salah satu simbol perkotaan. Di Solo, perkampungan China di kawasan Pasar Gede dan Pasar Balong masih terawat dan memberi warna dominan pada tata ruang Solo, selain perkampungan masyarakat Arab di kawasan Pasar Kliwon yang juga memiliki nilai kultural khusus. Laweyan, Kauman, Balong, atau Pasar Kliwon adalah jejak sejarah perkembangan tata kota Surakarta, dengan warna arsitektur dan latar belakang sosiologisnya. Berbagai gedung dengan corak arsitektur Jawa, Eropa, Indis, Art Deco, Tionghoa, hingga Timur Tengah jika semua bisa dirawat dan dikonservasi, bisa dijadikan proyeksi sebagai tujuan wisata, yakni wisata kota.

Ubed Abdilah S Director Center for Social Justices and Multicultural Studies, Solo.

Sumber: Kompas, 27 Maret 2006