Archive for February, 2006

Braga, Turis Pun Kini Meringis

Monday, February 27th, 2006

Braga yang dikenal turis mancanegara kini berubah menjadi wajah perkampungan kumuh. Jerit anak berebut tempat bermain di lapangan adalah sambutan hangat di Kampung Braga, Kelurahan Braga, Kota Bandung. Anak balita berlarian di antara gerobak, ember penampung air, dan jemuran kini menjadi pemandangan keseharian di Braga.

Begitu padatnya Braga sehingga anak-anak tak punya lagi tempat bermain. Padahal, Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya menceritakan, pada tahun 1800 Braga hanyalah sebuah kebun karet dan lahan pemakaman.

Tahun 1911 Jalan Braga yang pernah bernama Jalan Pedati alias Pedatieweg atau Karrenweg menjadi asri oleh pohon kenari. Baru pada tahun 1937, Braga dipenuhi dengan toko-toko.

Di belakang pertokoan, ada sebuah kampung yang dinamakan Kampung Braga. Dari jalan besar Braga, ada gang yang menjadi pintu keluar-masuk kampung ini. Gang tersebut dibuat di antara lorong bangunan yang dibangun seperti gapura sehingga tetap menyatu dengan arsitektur Braga. Braga menjadi jalan yang kesohor. Turis-turis dari mancanegara datang ke jalan ini untuk menikmati makanan di restoran-restoran, membeli pakaian bermerek, serta memborong suvenir yang banyak dijual di toko-toko Braga.

Rumah panggung

Soleh Margareta (46) mengaku lahir dan dibesarkan di kampung itu. ”Rumah-rumah di kampung ini sebagian besar adalah rumah panggung berdinding bilik. Di mana-mana ada pohon buah-buahan. Gang pun besar-besar,” tuturnya.

Sebagian besar penghuni kampung adalah pedagang. Sepulang sekolah, bersama teman-teman sebayanya, mulai di sekolah dasar sekitar tahun 1968, Soleh pergi ke Jalan Braga untuk berjualan koran atau menyemir sepatu turis.

”Dulu, turis banyak banget. Dalam sehari, saya bisa dapat Rp 200. Uang segitu setara dengan satu kemeja bermerek,” ujarnya.

Banyak turis mampir ke kampungnya. Mereka senang memotret wajah polos anak-anak Braga. Obyek favorit lainnya adalah Sungai Cikapundung. Waktu itu sungai, yang kini pekat oleh kotoran itu, masih berbatu dan hampir tak pernah sepi dari aktivitas warga. Ada yang mencuci, mandi, bahkan menjala ikan.

Kini Sungai Cikapundung ”rajin” membawa banjir lumpur dan sampah. Tahun 2004 air menggenangi rumah sampai ketinggian satu meter.

Hingga akhir tahun 1980, warga akrab dengan turis. ”Dulu turis yang datang sudah bisa berbahasa Indonesia. Bahkan, ada yang fasih berbahasa Sunda. Tidak ada hambatan komunikasi,” ujar Soleh.

Banyak anak di Braga yang disantuni dan dibiayai pendidikannya oleh para turis, termasuk Soleh. ”Waktu SD, saya punya teman bernama Bernard dari Italia. Setiap bulan dan saat ulang tahun ia selalu mengirimi saya baju atau barang-barang lain sebagai hadiah,” ujar Soleh.

Persahabatan itu terus berlangsung hingga bertahun-tahun. Ketika sahabatnya datang, Soleh selalu dijemput untuk diajak makan di restoran terkemuka di Jalan Braga.

Makin suram

Kondisi itu memicu para orangtua menyekolahkan anaknya ke jurusan pariwisata. Namun rupanya peruntungan Braga makin suram. Para pekerja pariwisata itu akhirnya melakukan kerja kasar lagi.

Kemasyhuran Braga surut tahun 1990 dan mencapai puncaknya tahun 1997. ”Toko-toko pun bangkrut,” ujar Soleh.

Kampung Braga lalu tumbuh semakin semrawut, seiring dengan bertambahnya penduduk. Sebagian besar warga Braga tak mau pindah karena posisinya di pusat kota dan dekat dengan berbagai fasilitas publik.

Mereka rela berdesak-desakan. Gang-gang lebar kini tinggal selebar 0,5 meter—habis dipakai untuk dapur warga. Tak jarang ada rumah luasnya kira-kira 20 meter persegi, tetapi dihuni dua hingga lima keluarga!

Warga pun tidak punya toilet. Mereka mandi, mencuci pakaian, dan menampung air untuk minum dari air leding di tempat-tempat mandi-cuci-kakus (MCK) yang berada di pinggir-pinggir Sungai Cikapundung.

Kegiatan membangun

Hampir setahun lalu di muka kampung ini didirikan hotel dan apartemen 19 lantai yang disebut proyek Braga City Walk (BCW). Masyarakat mulai mengeluh. ”Air susah karena sumur kering, udara pengap, dan sinar matahari terhalang. Penyakit awet, terutama flu pada anak,” kata Elin (33), warga.

Air leding yang kuning hanya menetes pada siang hari. Biasanya baru pada malam hari aliran air cukup besar. Di tengah malam warga masih beraktivitas untuk mencuci perkakas dapur atau mencuci pakaian.

Karena hanya ada sekitar lima MCK di kampung itu, warga memanfaatkan gang sempit di muka atau di samping rumah untuk tempat mencuci piring. Karena tak semua gang dilengkapi saluran limbah rumah tangga, air pun menggenang di mana-mana dan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Setiap tahun, ada saja warga yang menderita demam berdarah.

Kini, yang melintas di kampung mereka bukan lagi turis, tetapi para pekerja kasar di proyek itu. Mereka biasa berjalan-jalan di gang kampung saat hendak berangkat, pulang, atau beristirahat untuk makan.

Sebagian besar pekerja menyewa kamar sempit dengan tikar untuk tidur. Menurut Soleh, Sekretaris RW 08, ada sekitar 200 penduduk sementara yang tinggal di kampungnya sejak tahun 2005. RW 08 merupakan wilayah terdekat dengan proyek BCW. Ada lebih dari 300 keluarga atau hampir 1.200 orang tinggal di kampung ini.

Karena kedatangan penghuni baru, penduduk beramai-ramai membuka warung untuk para pekerja kasar. Sri (30) dan Tika (50) merupakan dua warga yang menyulap rumah sempitnya menjadi warung nasi. Air limbah melintasi tumpukan piring dan gelas yang belum dicuci. Membawa bau tak sedap di gang gelap. (Ynt)

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006

Batara Kala Menunggu di Braga

Monday, February 27th, 2006

Yenti Aprianti

Tak ada yang memedulikan wajah seram itu. Gigi selebar wajah, hidung besar mengembang, dan mata melotot. Sebenarnya suasana sepi di sekitar bangunan itu telah mengisyaratkan kekalahannya. Namun, sorot mata tajam Batara Kala pada bangunan Landmark itu seakan menunggu terulangnya masa-masa jaya Braga pada tahun 1930.

Batara Kala, simbol hal-hal buruk dalam cerita berlatar kultur Jawa, menjadi satu tanda dari periode penting arsitektur di Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda.

Sebelum menjadi gedung pameran, tahun 1970, Gedung Landmark berfungsi sebagai Bioskop Pop. Pada awal dibangun tahun 1960, gedung itu adalah toko buku bernama Van Dorp.

Ir CP Wolff Schoemaker mendirikannya pada tahun 1922 dengan ornamen art deco. Gaya campuran dunia barat dan tradisional sering disebut sebagai gaya Indische. Schoemaker, guru besar Jurusan Arsitektur Technische Hoogeschool (sekarang ITB), menyerap gaya tradisional dengan memberi ukiran pada bangunan berkarakter Eropa.

Di sepanjang Braga, banyak gedung dengan ornamen art deco. Art deco adalah sebuah aliran yang populer saat itu—tak hanya memengaruhi seni bangunan, tetapi juga pakaian dan perabot rumah tangga.

Art deco ditandai dengan detail pada bangunan, seperti lampu dan ornamen titik, bunga, dan lainnya, di bagian dalam bangunan. Bangunan art deco amat menonjol di rumah toko (ruko) di seberang bangunan Braga Permai, juga di Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC).

Menurut Dr Ing Ir Widjaja Martokusumo, Koordinator Program Bersama Desain Perkotaan, Arsitektur ITB, sejak tahun 1900-1920 banyak arsitek Belanda yang membangun gedung di sekitar Braga. Selain Schoemaker, ada nama-nama Moojen, Ed Cuypers, Maclaine Pont, dan AF Aalbers.

Dari bangunan lama yang tersisa, menurut Widjaja, Braga memang dibangun sebagai jalur belanja. Ini tampak dari ciri khas identitas pusat kota, yaitu sempadan jalan nol. Titik terluar bangunan menempel trotoar, sehingga pejalan kaki bisa melihat-lihat barang yang dipajang. Jendela bangunan di Braga besar-besar karena berfungsi sebagai etalase.

Pada bangunan tengah tampak fungsi bangunan adalah sebagai toko dan rumah. Pada ”ruko” yang asli, ada dua pintu. Satu menuju toko, yang lain di samping; langsung tangga ke lantai atas—rumah pemilik.

Untuk kenyamanan dan ciri campuran bangunan Eropa dengan iklim tropis, dibangun arcade atau trotoar terlindung atap untuk menghindari terik matahari dan guyuran hujan.

Kawasan Braga merupakan kawasan yang teratur. Bangunan dibuat dengan melibatkan arsitek. Ada aturan soal besar bukaan, ketinggian, dan jarak bangunan. ”Berbeda dengan sekarang, semua orang membangun tanpa bantuan arsitek dan tidak peduli apakah bangunan itu betul atau salah,” ujarnya.

”Struktur yang dipakai masih konvensional, terlihat dari adanya kolom pada jarak-jarak tertentu,” kata Widjaja.

Tembok bangunan lama di Braga tebal seperti tampak di Gedung Merdeka dan Perusahaan Gas. Ini mencerminkan teknologi masa itu. Tembok tebal menunjukkan fungsi dinding, penahan beban langsung lantai atas. Adapun dinding bangunan masa kini berfungsi sebagai pengisi. Meski dinding hilang dibongkar, bangunan tak roboh.

Tiga segmen

Kawasan Braga dibagi menjadi tiga segmen, yaitu Jalan Asia Afrika-Jalan Naripan, Jalan Naripan-Jalan Lembong, Jalan Lembong-Jalan Perintis Kemerdekaan. Di tiap segmen ada bangunan pojok, tengah, dan bangunan yang berdiri sendiri.

Di segmen kedua, pejalan kaki bisa menikmati suasana pertokoan. Beberapa toko dibiarkan tetap berarsitektur lama atau dimodifikasi. Sebagian lagi dibiarkan telantar hingga keropos—seperti Toko Populair.

Pada segmen kedua ada Gedung Perusahaan Gas yang berimpitan dengan ruko-ruko art deco. Di segmen ketiga ada Gedung Landmark dan BI—yang khas Eropa bergaya Renaissance. Arsitektur merupakan ekspresi budaya sebuah masyarakat.

Bangunan-bangunan khas di Braga menjadi salah satu kontributor bagi identitas Kota Bandung. Bahkan, tahun 1933 tata kota Kota Bandung pernah diperlihatkan dalam Kongres Internasional di Athena sebagai contoh kota kolonial.

Kini, di antara deretan bangunan kuno di Braga, telah berdiri kompleks apartemen dan hotel Braga City Walk. Widjaja berharap pemerintah mampu melakukan antisipasi agar keberadaan pemukiman baru yang akan membawa penduduk baru tidak mengakibatkan kemacetan yang akhirnya menyebabkan peruntuhan bangunan lama dengan dalih pelebaran jalan.

Keunikan bangunan Braga mampu menggerakkan kembali wisata arsitektur yang tidak hanya berorientasi pada budaya konsumtif. Wisata arsitektur tersebut pernah dikembangkan sekitar tahun 1998 dan peminatnya cukup banyak. Sayangnya, papar Widjaja, pemerintah kota tidak serius mengembangkannya.

Sorot mata Kala masih tajam mengikuti perjalanan Braga. Akankah keindahan itu dibiarkan saja?

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006