Archive for 2006

Awas, Mitos Menyelinap dalam Sejarah Jakarta!

Monday, September 4th, 2006

Oleh: M Nasir

Di kota-kota besar dunia, sejarah menjadi “hidangan tamu” yang menarik. Kalau belum mendapat cerita sejarah, tamu asing kemungkinan masih bertanya-tanya mengenai asal-usul terbentuknya kota di mana mereka sedang berada. Apalagi kalau mereka merasa nyaman di kota itu, maka latar belakang semuanya akan dicoba untuk diketahui.

Pertanyaan yang mengorek masa lalu sebuah kota dan penduduknya sebenarnya bukan monopoli keingintahuan wartawan dan pihak-pihak yang suka sejarah. Orang-orang yang bergerak di bidang lain, bahkan petani sekalipun, juga suka mendengarkan sejarah.

Orang biasanya menghubung- hubungkan antara sejarah masa lalu sebuah kota dan keadaan sekarang, serta menghubung-hubungkan tradisi masyarakat masa silam dengan realitas sekarang. Setidaknya, sisa-sisa masa silam akan dilihat sebagai benang merah rangkaian sejarah yang enak dibicarakan.

Malangnya, di Indonesia jarang orang yang fasih mengungkapkan kembali fakta sejarah, baik sejarah kota Jakarta maupun sejarah Indonesia pada umumnya. Kalaupun terpaksa mendengarkan sejarah dari orang yang ditemui di jalan, di terminal kereta api, atau di bandar udara, kebenarannya tidak bisa dijamin. Yang ada adalah keragu-raguan.

Untuk mendekati kebenaran cerita sejarah, semestinya keterangan itu diberikan oleh orang- orang yang menekuni bidangnya, seperti sejarawan, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, atau Dinas Pariwisata. Akan tetapi, untuk menemui orang- orang yang berwenang itu menjelaskan, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Apalagi kalau yang membutuhkan cerita sejarah itu orang asing. Selain harus bisa mencari narasumber yang tepat, juga mesti ada kesediaan waktu oleh orang-orang yang seharusnya memberikan penjelasan.

Di Teheran, ibu kota negara Republik Islam Iran, misalnya, keperluan akan pengetahuan sejarah setempat dapat disiasati secara tepat. Di meja ruangan VIP bandar udara di Teheran disediakan buku tebal dengan gambar-gambar yang menarik. Dalam buku itu dimuat fakta sejarah mulai dari introduction tentang awal mula kota Teheran menjadi sebuah kota besar.

Di sana bisa ditemukan siapa saja orang-orang yang menjadi pelaku utama dalam sejarah kota Teheran, kapan orang-orang itu datang pertama kali ke Teheran, serta macam apa perjuangan bangsa dalam mewujudkan sebuah kota dan negara Iran. Lalu, juga ada sebuah buku yang menceritakan tentang kota-kota yang ada di Iran, lengkap dengan sejarah peradaban, termasuk sejarah arsitektur bangunan-bangunan yang masih tersisa.

Dari buku-buku yang disediakan, pengalaman bangsa Iran yang tercermin dari kehebatan karya-karyanya, baik dalam membangun rumah, perkantoran, maupun tempat-tempat umum lainnya, seperti stasiun kereta api dan tempat-tempat peribadatan, kita memperoleh gambaran yang gamblang.

Yang diperkenalkan bukan hanya gedung-gedung bersejarah yang bertebaran di Teheran, Isfahan, dan Mashad, tetapi juga orang-orang yang tergolong hebat yang berasal dari negara itu.

Bangsa Iran memang fasih menceritakan tokoh-tokoh pemikir asal negaranya. Kefasihan itu sekaligus untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang unggul.

Pemikir-pemikir asal Iran itu sebut saja di antaranya Sadr Al-din Mohammad Shirazi yang terkenal dengan nama Mulla Sadra (1571-1640). Ia tampil sebagai filsuf Persia terbesar dan pemikirannya sangat berpengaruh di dunia Islam hingga saat ini.

Kemudian Abu Raihan Biruni (973-1043) yang menjadi ahli matematika dan fisika serta filsuf besar. Ada Abu Nasr Farabi (870-950) yang terkenal sebagai “guru kedua” setelah Aristoteles (yang pertama); dan Dr Ali Shariati (1933-1977) yang terkenal sebagai aktivis politik dan filsuf Islam, serta sederet tokoh berprestasi lainnya.

Apa dan siapa untuk Jakarta

Lalu, apa saja yang bisa ditampilkan Jakarta dalam sejarah dan tokoh siapa saja yang perlu dicatat dalam sejarah sehingga mampu mendongkrak citra dan nilai Jakarta?

Tentu saja ada. Jakarta kaya akan bangunan-bangunan kuno yang bagus untuk diungkapkan kembali meski lebih banyak menceritakan kesuksesan pihak asing atau kolonial.

Jakarta memang tidak sebanding dengan Teheran yang memiliki sejarah peradaban jauh lebih tua. Jakarta adalah bagian dari Indonesia yang dari masa ke masa masih diwarnai dengan gejolak sosial atau social unrest sehingga tidak sempat berkarya banyak.

Karya-karya arsitektur yang dibangga-banggakan masih karya peninggalan kolonial Belanda. Karya bangsa sendiri masih dianggap tidak impresif, mudah rusak, seperti gedung-gedung sekolah dasar inpres.

Generasi sekarang seakan- akan merasa tidak berhak menoreh catatan sejarah pada masanya. Sejarah generasi masa silam dibesar-besarkan, direkonstruksi, dan ditambahi sana-sini untuk bisa dimanfaatkan sehingga mampu melahirkan nilai ekonomi, nilai wisata, dan hal-hal yang menguntungkan lainnya.

Awas mitos

Dalam diskusi panel Kompas yang bertema “Membangun Koridor Sejarah Jakarta”, 24 Agustus 2006, sejarawan Taufik Abdullah mengingatkan agar kita tidak terjebak pada upaya membesar-besarkan sejarah sehingga melebihi cerita aslinya.

“Ada hal-hal peristiwa yang terjadi dalam lokalitas tertentu, yang dalam waktu tertentu lama-lama menjadi bagian dari mitos karena proses glorify. Sejarah kecil jadi gede,” papar Taufik.

Taufik memberi contoh peristiwa lahirnya Budi Utomo 1908. Saat itu, sejumlah anak sekolah melakukan rapat bikin semacam orientasi. Peristiwa ini sangat lokal. Tetapi, 40 tahun kemudian, tahun 1948, rapat anak-anak sekolah itu dirayakan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Kekhawatiran tercampurnya mitos dan munculnya proses glorify sejarah itu tampaknya juga harus diwaspadai dalam rencana besar, seperti yang disampaikan Martono Yuwono, Pelaksana Harian Badan Pengelola Kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa, yang hendak membangun koridor sejarah Jakarta.

Untuk memperkuat gagasan Martono, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga memberikan masukan dan dukungan.

“Saya menghargai usulan Saudara Martono Yuwono yang hendak memosisikan Sunda Kelapa sebagai corner stone, atau tengara, tetapi usulan koridor yang menghubungkan Sunda Kelapa ke Monas sebagai koridor sejarah perlu disepakati oleh para ahli sejarah,” ujar Sutiyoso dalam pidato tertulisnya yang dibacakan Aurora Tambunan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, dalam diskusi tersebut.

Masukan Taufik Abdullah dan Sutiyoso merupakan hal yang sangat penting dalam membangun koridor sejarah Jakarta, karena tanpa memerhatikan masukan itu, pembangunan koridor sejarah akan menjadi ajang kepentingan pihak-pihak yang ingin mereguk keuntungan dalam “proyek sejarah” kota tua Jakarta. Tentu saja para sejarawan yang tahu betul tentang seluk- beluk sejarah dan tampaknya akan dilibatkan dalam megaproyek sejarah Jakarta itu berharap agar masyarakat tidak disesatkan.

Sumber: Harian Kompas, 4 September 2006

Penggalian Terowongan – Kerusakan Stasiun Kota akibat TPO Belum Diperbaiki

Monday, September 4th, 2006

Jakarta, Kompas – Kerusakan di lantai satu gedung Stasiun Kereta Api Jakarta Kota atau Stasiun Beos akibat pembangunan terowongan penyeberangan orang Kota hingga kini belum diperbaiki. Padahal, sesuai dengan kesepakatan, mestinya perbaikan kerusakan yang menjadi tanggung jawab Dinas Perhubungan DKI Jakarta itu akan dikerjakan Agustus lalu.

Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasi I dan Divisi Jabotabek Achmad Sujadi, Minggu (3/8), mengatakan, pengerjaan terowongan penyeberangan orang atau TPO yang menghubungkan Stasiun Kota dengan Terminal Bus Transjakarta dan Bank Mandiri sejak tahun 2005 itu mengakibatkan kerusakan di 33 titik. Pada bagian yang ambles, kedalaman bervariasi antara 5 sentimeter dan 10 sentimeter.

Berdasarkan pengamatan Kompas, amblesnya lantai satu stasiun ini mengakibatkan keramik di dalam ruangan bergelombang, ada juga yang pecah atau retak, serta dinding retak-retak.

Meskipun kerusakan itu tidak sampai menyebabkan karyawan harus berpindah ruangan, kenyamanan berada di ruangan menjadi terganggu. Bahkan, di beberapa ruangan lemari yang ada terpaksa diganjal supaya tetap seimbang.

Menurut Achmad, kerusakan di stasiun itu terjadi ketika pemasangan paku bumi untuk terowongan di sekitar stasiun. Getaran pemasangan itu mengakibatkan lubang sehingga aliran air menuju ke sana. Pergerakan air itu mendorong terjadinya pergerakan tanah di bawah stasiun sehingga amblas.

“Sebenarnya sudah ada kesepakatan jika perbaikan nanti akan ditanggung Dishub yang akan dimulai bulan Agustus lalu. Namun, sampai saat ini kami belum menerima kabar,” katanya.

Perbaikan yang rencananya dilaksanakan bersamaan dengan pengerjaan TPO diharapkan bisa segera direalisasikan. Pasalnya, PT Kereta Api sedang merevitalisasi dan menata Stasiun Beos yang ditargetkan selesai awal tahun 2007.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, sepanjang kerusakan akibat pengerjaan TPO tentu akan diperbaiki. “Kami sudah sering berkoordinasi dengan pihak stasiun. Kami juga mengevaluasi terus dampak pengerjaan proyek ini terhadap lingkungan sekitar,” katanya. (ELN)

Sumber: Kompas, 4 September 2006