Archive for 2006

Bangunan Bersejarah – Benteng Vastenberg, Poros Solo – Semarang

Tuesday, December 5th, 2006

Benteng megah di tengah Kota Bengawan ini, sekarang tinggal seonggok bangunan yang tak berharga dan ditumbuhi rumput ilalang yang lebat. Dalam konteks morfologi perkotaan, benteng itu memiliki peranan penting yakni pusat hubungan Solo-Semarang. Kota Solo dalam periode XVIII-XIX, sebagai pusat perdagangan dan ditandai perkembangan kota kolonial. Uniknya, perkembangan ini tercipta dalam nuansa kekuasaan tradisionalistik Kerajaan Kasunanan Surakarta.

Sisa-sisa artefak yang jadi bukti simbol perkotaan masih dapat ditemukan di sekitar benteng, di antaranya Gereja St Antonius, bekas gedung Javasche Bank, kantor pos, rumah Residen, jalan raya poros lurus Solo-Semarang, permukiman Eropa, dan Societet Harmoni.

Tipologi kota kolonial identik ditengarai adanya sebuah benteng. Belanda merias kota sejak era Kerajaan Kartasura. Waktu itu, urusan di wilayah kekuasaan raja pribumi ikut menjadi perhatian Belanda, misalnya keamanan, perniagaan, permukiman, tata kota dan kebijakan (stelsel). Di utara benteng, dulu kala digunakan sebagai tempat mangkal kapal-kapal dagang dari segala penjuru.

Wujud pengendalian, Belanda memfungsikan benteng ini untuk pengawasan aktivitas orang pribumi dan nonpribumi (Arab, China, dan Eropa). Pembatasan pembauran atau interaksi berbagai golongan penduduk di Solo menjadi masalah vital Belanda. Dalam catatan De Graaf, tertulis bahwa sebelum benteng Vastenberg berdiri, sudah ada benteng yang menjadi sarana pengawasan dan tempat militer, yakni Benteng Grodenmodenheit. Terbukti, sekitar tiga tahun lalu ditemukan meriam laras panjang oleh penggali pipa di dekat Telkom.

Residen Belanda bermarkas di kawasan benteng, di bawah komandan Gebernur Jenderal Belanda di Semarang. Pembentukan sumbu timur-barat adalah wajah dari jalan raya Solo-Semarang. Tak pelak, semua persoalan di Solo cepat terdengar di telinga Gebernur Jenderal di Semarang. Contohnya, geger pecinan abad XVIII, yang diakibatkan orang-orang China mengamuk yang akhirnya dapat teratasi dan dikejar sampai ke Jawa Timur. Ini tak lain berkat adanya pengawasan dalam benteng.

Pemetaan atau desain kolonial cukup jelas di Kota Bengawan walau dalam pengaruh kuat praja kejawen dari simbolisasi Kerajaan Jawa. Sebagai pembuktian, infrastruktur transportasi rel kereta api jurusan Wonogiri-Solo, di selatan benteng, mampu memotong konsep praja kejawen yaitu pandangan spiritual raja dari atas Pergelaran ke arah lurus utara Tugu Pemandengan.

Bila kita menyimak nilai-nilai historis Benteng Vastenberg, sepertinya tak rela melihat benteng ini rapuh dan rusak. Coba kita menyempatkan melongok ke dalam benteng, yang kita temukan hanyalah puluhan kambing yang sibuk makan rerumputan. Memang ironis, hanya benteng di Solo saja yang tergerus punah karena ulah tangan-tangan jahil, padahal beberapa benteng peninggalan kolonial Belanda di kota lain sudah menjadi aset wisata dan museum.

HERI PRIYATMOKO Mahasiswa Ilmu Sejarah FSSR UNS, peneliti magang di Puspari LPPM UNS

Sumber: Kompas, 05 Desember 2006

Mengembalikan Pasar Senen sebagai Ratu dari Timur

Friday, October 20th, 2006

Oleh: Pingkan Elita Dundu

Bau busuk, pesing, dan kotoran ayam menyengat tercium ketika kaki melangkah memasuki Blok III, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di pasar basah itu, para pedagang memotong ternak ayam untuk dijual kepada konsumen. Kotoran, kulit, dan bulu ayam terserak di mana-mana di pasar daging itu.

Tumpukan sampah, genangan air kotor dan berbau, serta lalat yang beterbangan mengerubuti hampir setiap tempat di seputar lokasi itu.

Kesan kumuh, bau, kotor, sumpek, panas, tidak terurus, atau tidak terawat bukan hanya di Blok III. Kondisi semua blok, mulai dari I sampai VI, tidak berbeda jauh. Bahkan sewaktu mendekati tangga di Blok V ke arah pasar onderdil, tercium pula bau pesing. Begitulah kondisi Pasar Senen di Jakarta Pusat saat ini.

Kejahatan dan premanisme

Kondisi seperti itu sangatlah jauh berbeda dengan kawasan Senen saat zaman penjajahan. Pada awal abad lalu Pasar Senen sangat terkenal, malah sempat pula dijuluki Queen of the East (Ratu dari Timur) yang jauh lebih tersohor dari Singapura.

Tidak hanya vila indah menghiasi kawasan tersebut, tetapi juga banyak pertokoan Tionghoa dan tangsi tentara. Kawasan itu menjadi tempat wandelen alias “makan angin”.

Sampai dengan zaman Ali Sadikin memimpin Jakarta, kawasan Senen masih tertib dan menjadi tempat elite berbelanja. Setelah itu, lambat laun mulai terjadi pergeseran, baik itu tata guna, tata ruang, maupun tata kuasa. Berbagai kepentingan masuk sehingga kawasan itu tidak terpelihara dan menjadi kumuh.

Pedagang kaki lima tumbuh seperti jamur. Kawasan yang dulunya tertata dengan baik menjadi semrawut. Tidak salah kalau kemudian orang selalu mengidentikkan Pasar Senen dengan kesemrawutan, kejahatan, dan premanisme. Citra itu terus melekat dan sulit dihapus.

“Saya baru sekali datang ke Pasar Senen, tetapi tidak mau lagi ke sana. Kayak ’Sodom dan Gomora’ (istilah untuk sarang berbagai kejahatan),” kata Yoan, mahasiswi S-2 Universitas Indonesia, Jakarta.

Kondisi Pasar Senen sangat memprihatinkan. Tidak memberikan rasa aman dan jauh dari rasa nyaman.

Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya mencatat, kondisi eksisting Blok I sampai VI memiliki 4.982 pedagang (resmi) dengan jenis dagangan lebih dominan arloji, emas, perlengkapan TNI, tekstil, dan garmen. Selain itu, juga elektronik, toko buku, alat tulis kantor, pasar tradisional, dan pasar kue subuh.

Para pedagang menempati 6.677 kios (artinya ada satu pedagang memiliki lebih dari satu kios) dengan luasan 41.922 meter persegi.

Direktur Utama PD Pasar Jaya Prabowo Soenirman selaku pengelola Pasar Senen mengatakan, kondisi yang tidak aman dan nyaman itulah yang mengharuskan kawasan itu harus ditata kembali.

Ke depan, katanya, Pasar Senen akan menjadi pasar modern yang bersatu dengan stasiun kereta api dan terminal bus kota serta pusat perbelanjaan Atrium Senen.

“Pembangunannya dengan konsep transit oriented development, yakni memanfaatkan sistem dan sirkulasi transportasi umum (kereta api, busway, dan angkutan umum lainnya),” ujar Prabowo. Kawasan itu nantinya tidak hanya difungsikan untuk pusat belanja semata, tetapi juga ada hunian (apartemen). Harapannya, aktivitas di kawasan itu akan hidup sepanjang hari.

Dalam konsep itu, akan dilakukan pemisahan antara akses pejalan kaki dan jaringan lalu lintas yang ada. Caranya, dengan membangun ruang pejalan kaki seperti area pedestrian dan jalan layang (skywalk) pada posisi level 2-3 bangunan.

Kepala Humas PD Pasar Jaya Nurman Adhi mengatakan, kawasan itu akan diberi nama Senen Jaya. Pembangunannya akan melibatkan PD Pasar Jaya sendiri, PT Pembangunan Jaya, dan PT Real Propertindo.

Gagasan menata kembali kawasan Senen mulai mengemuka pada Mei 2004, berkaitan dengan rencana PD Pasar Jaya menata kembali pasar-pasar tradisionalnya. Rencana itu diawali dengan sayembara oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat, dan pembangunannya dilakukan tahun 2005. Namun, sayang, selain pelaksanaannya mundur, hasil sayembara ternyata juga tidak teradopsi.

Rampung dalam 18 bulan

Setelah tertunda hampir satu tahun, proyek tersebut akhirnya mendapat titik terang. Prabowo mengatakan, bulan November 2006 renovasi akan segera dimulai, dan diperkirakan selesai dalam 18 bulan atau tahun 2008 dengan nilai proyek Rp 3 triliun.

“Renovasi akan tetap jalan meskipun pembangunan lokasi binaan bagi pedagang kaki lima tertunda,” kata Prabowo.

Selama pelaksanaan pembangunan kembali Blok I, II, dan III, para pedagang akan ditempatkan sementara di Blok IV, V, dan VI. Setelah selesai tahap I, lanjutan proyek itu untuk membangun tahap II, yaitu Blok IV, V, dan VI.

Menelaah konsep penataan Pasar Senen, terbayang kawasan itu akan hidup kembali dan menjadi Queen of the East. Keseriusan membenahi kawasan itu harus sejalan dengan pengawasan dan penertiban dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelola pasar. Jangan sampai setelah ditata, kawasan itu akan kembali kumuh dan penuh preman.

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2006