Archive for August, 2005

Revitalisasi Kota Tua Melalui Festival Budaya

Saturday, August 27th, 2005

JAKARTA–MIOL: Berbagai wacana tentang pelestarian bangunan-bangunan tua di kawasan Jakarta Kota terus bermunculan yang salah satunya adalah melalui upaya revitalisasi kota tua sehingga sejumlah bangunan dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai historis dan wujud aslinya.

Beberapa cara untuk mendukung revitalisasi tersebut antara lain melalui peningkatan volume kegiatan yang memiliki kaitan dengan kota tua, salah satunya melalui penyelenggaraan festival budaya.

“Salah satu cara menuju revitalisasi adalah dengan penyelenggaraan festival budaya dengan harapan dapat mendorong kepedulian dan perhatian masyarakat terhadap keberadaan Kota Tua,” kata Wali Kota Jakarta Barat (Jakbar) Fajar A Pandjaitan saat menghadiri Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan di pelataran Museum Jakarta, Sabtu.

Lebih lanjut ia mengatakan, bila festival semacam itu dapat menjadi agenda tetap pariwisata maka menjadi satu cara untuk mendukung revitalisasi kota tua sehingga keberadaannya sebagai sebuah bangunan yang memiliki nilai sejarah dapat dipertahankan.

Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan berlangsung selama satu hari penuh yaitu sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Serupa dengan penyelenggaraan tahun yang lalu, festival dibuka dengan pawai budaya yang melibatkan 19 kelompok kesenian yang menampilkan sejumlah atraksi.

Pawai dilepas oleh Wali Kota Jakbar pada pukul 09.30 WIB dengan start di depan Museum Keramik di Jalan Pos Jakarta Barat.

“Dengan pawai ini diharapkan masyarakat semakin tertarik dan mau melestarikan keberadaan Kota Tua ini,” ujar Fajar sebelum melepas peserta pawai.

Selain kelompok Marawis dari Kecamatan Taman Sari, Qasidah dari Kecamatan Tambora dan Tanjidor dari kelompok seni Mayangsari, pawai juga diramaikan dengan penampilan marching band siswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Pawai Budaya mengambil rute Jalan Pos kemudian melewati Jalan Jembatan Batu memutari taman di depan Stasiun Beos, masuk ke Jalan Pintu Besar Selatan melintasi Glodok.

Dari Jalan Pintu Besar Selatan kemudian menuju Jalan Hayam Wuruk berputar di depan pompa bensin Hayam Wuruk dan menuju Jalan Pintu Besar Utara dan kembali di depan Museum sejarah Jakarta yang dikenal dengan Museum Fatahillah.

Tak hanya diisi dengan pawai, sekitar 40 stan juga didirikan di pelataran Museum yang dahulu menjadi pusat pemerintah Belanda di jaman VOC.

Di stan tersebut dipamerkan sejumlah barang kerajinan dari pengurus PKK di beberapa kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah Jakbar.

Ada pula stan-stan yang menampilkan ahli feng shui, kartunis, cendera mata khas China, dan obat-obatan dari China.

Dalam acara tersebut hadir juga beberapa pejabat di lingkungan Pemda DKI Jakarta dan Jakbar antara lain Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Aurora Tambunan dan Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Wilayah Jakbar Drs Baharuddin Z. (Ant/OL-1)

Sumber: Media Indonesia, 27 Agustus 2005.

“Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan” Tebar Semangat Pelestarian Bangunan Tua

Saturday, August 27th, 2005

Berbagai wacana tentang pelestarian bangunan tua di kawasan Jakarta Kota terus bermunculan. Salah satunya adalah melalui revitalisasi kota tua sehingga bangunan tua dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan wujud aslinya.

Beberapa cara untuk mendukung revitalisasi tersebut antara lain adalah melalui peningkatan frekuensi kegiatan yang memiliki kaitan dengan kota tua, misalnya lewat festival budaya.

“Salah satu cara menuju revitalisasi adalah menyelenggarakan festival budaya, dengan harapan dapat mendorong kepedulian dan perhatian masyarakat terhadap keberadaan kota tua,” kata Wali Kota Jakarta Barat Fajar A Pandjaitan ketika menghadiri Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan di pelataran Museum Fatahilah, Sabtu (27/8).

Lanjutnya, jika menjadi kegiataan tetap bidang pariwisata, festival itu dapat mendukung revitalisasi kota tua, sehingga bangunan tua yang memiliki nilai sejarah bisa dipertahankan.

Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan berlangsung sehari saja, dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Serupa dengan yang tahun lalu, festival tersebut tahun ini dibuka dengan pawai budaya yang melibatkan 19 kelompok kesenian yang setiapnya menampilkan atraksi.

Pawai itu dilepas oleh Wali Kota Jakarta Barat pada pukul 09.30 WIB di depan Museum Keramik, Jl Pos, Jakarta Barat.

“Dengan pawai ini diharapkan masyarakat semakin tertarik dan mau melestarikan keberadaan Kota Tua ini,” ujar Fajar sebelum melepas para peserta pawai.

Selain oleh marawis dari Kecamatan Taman Sari, kasidah dari Kecamatan Tambora, dan tanjidor dari kelompok seni Mayangsari, pawai juga diramaikan dengan penampilan Marching Band Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Pawai tersebut mengambil rute Jl Pos, Jl Jembatan Batu memutari taman di depan Stasiun Beos, Jl Pintu Besar Selatan melintasi Glodok, Jl Hayam Wuruk berputar di depan pompa bensin Hayam Wuruk, Jl Pintu Besar Utara, dan kembali ke depan Museum Fatahilah.

Tak hanya pawai itu, ada pula sekitar 40 kios didirikan di pelataran Museum Fatahilah. Di kios-kios tersebut dipamerkan barang kerajinan dari para pengurus PKK di beberapa kecamatan yang termasuk dalam wilayah Jakarta Barat, cinderamata dan obat-obatan Cina serta ditampilkan ahli feng shui dan kartunis.

Dalam acara tersebut hadir juga beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan Jakarta Barat, antara lain Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Aurora Tambunan dan Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Wilayah Jakarta Barat drs Baharuddin Z.

Sumber: Ant
Penulis: Ati

Sumber: Kompas, Sabtu, 27 Agustus 2005.