Archive for July, 2004

Pemanfaatan Bangunan Cagar Budaya demi Asas Manfaat

Tuesday, July 27th, 2004

Bandung, Kompas – Pembongkaran bangunan cagar budaya yang diganti dengan bangunan komersial dilakukan atas dasar manfaat. Namun, para pemerhati dan ahli bangunan bersejarah menilai pemanfaatan bangunan cagar budaya seharusnya dilakukan dengan tetap memerhatikan keaslian bentuk bangunan asal.

Menurut Ketua Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung yang menangani penataan dan pengembangan Kawasan Jatayu, Husni Muttaqin, Senin (26/7), pengalihan fungsi bekas Kantor Dinas Pertanian Kota Bandung di Jalan Arjuna menjadi pusat perbelanjaan dilakukan atas dasar manfaat bangunan tersebut bagi kepentingan publik.

Selain itu, mahalnya biaya perawatan gedung membuat pengalihan fungsi bangunan mendesak untuk segera dilakukan.

“Lebih penting mana penggunaan bangunan cagar budaya untuk kepentingan publik dibandingkan dengan untuk melestarikan sebuah cagar budaya?” kata Husni.

Ketua Bandung Heritage Harastoeti mengatakan, bangunan bersejarah dapat dimanfaatkan dengan fungsi yang berbeda, tetapi tetap menjaga seutuh mungkin keaslian bangunan.

“Pemanfaatan bangunan bersejarah tidak bisa disamaratakan, tetapi harus dilihat kasus per kasus,” kata Harastoeti.

Menurut ahli Studi Arsitektur dan Lingkungan Kota Bandung Heritage Dibyo Hartono, bekas Kantor Dinas Pertanian dan bekas Kantor PD Kebersihan di Jalan Jenderal Ahmad Yani merupakan bangunan cagar budaya kategori A.

Bangunan yang termasuk kategori A adalah bangunan langka, memiliki keunikan dalam model arsitektur, serta memiliki nilai sejarah yang penting.

Adapun keunggulan bekas Kantor PD Kebersihan adalah memiliki ciri art deco yang kental meskipun hanya bagian depannya saja. (K11)

Sumber: Harian Kompas Selasa, 27 Juli 2004

Depkimpraswil: Jembatan Tua Akan Diremajakan

Sunday, July 25th, 2004

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil) akan menurunkan tim peneliti untuk meremajakan beberapa jembatan yang umurnya sudah tua menyusul ambruknya jembatan Cipunagara di Kabupaten Subang, Jawa Barat pada Jumat (23/7) tengah malam.

“Depkimpraswil telah menyiapkan program untuk meneliti jembatan yang umurnya sudah tua untuk nantinya akan diremajakan,” kata Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil) Soenarno setelah mengunjungi lokasi jembatan yang ambruk, Sabtu (24/7).

Menurut Soenarno, untuk membangun kembali jembatan Cipunagara yang ambruk pada sisi kanan dari arah Jakarta (pada jalur yang berlawanan) dibutuhkan dana Rp2 miliar yang akan diambil dari sisa tender proyek peningkatan jalan pantura pada tahun anggaran 2004.

Jembatan yang membentang di sungai Cipunagara memang ada dua. Satu untuk kendaraan yang datang dari arah Jakarta menuju Cirebon, sedangkan satunya lagi untuk arah sebaliknya. Jembatan yang dibangun pada tahun 80-an itu panjangnya 30 meteran dan dengan lebar delapan meter dengan dua bentang, sedangkan yang ambruk ke sungai hanya satu bentang.

Pekerjaan perbaikan jembatan diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu 1,5 bulan. Perkiraan sementara jembatan tersebut ambruk akibat usianya sudah tua (24 tahun), di samping itu karena kendaraan yang lewat di atasnya melebihi tonase yang diperkenankan. Saat ini telah dikerahkan dua unit alat berat untuk mengangkat kendaraan yang terperosok beserta muatannya dari dalam sungai berupa kayu dan semen. Proses pengangkatannya diperkirakan butuh waktu tiga hari.

Untuk memulai pekerjaan fisik jembatan masih menunggu proses penyidikan dari Kapolwil Subang, sedangkan rangka baja jembatan tersebut nantinya akan didatangkan dari Bakri Brothers Surabaya sebagai pengganti rangka baja buatan Inggris yang ambrol tersebut.

Jembatan tersebut ambruk bersama dengan delapan kendaraan roda empat dan satu sepeda motor ke dalam sungai Cipunagara. Tidak ada korban tewas dalam insiden tersebut, tetapi satu orang luka parah.

Dalam kesempatan terpisah Ditlantas Provinsi Jawa Barat, Sulistiyono, mengatakan akibat ambrolnya jembatan tersebut, arus lalu-lintas dari arah Jakarta – Cirebon dan sebaliknya macet.

Untuk mengantisipasi kemacetan lebih parah, sejak Sabtu pagi (24/7), seluruh kendaraan yang datang dari Cirebon menuju Jakarta dialihkan ke jalur alternatif Tomo – Cikamurang selanjutnya masuk ke Subang dan ke Jakarta lewat pintu tol Sadang – Purwakarta.

Menurut Sulistiyono, saat jembatan ambrol ada delapan kendaraan roda empat dan satu sepeda motor yang sedang antre, dan seketika itu juga terperosok dan masuk sungai. Kedelapan kendaraan roda empat yang terperosok kebanyak jenis truk tronton bermuatan semen, ternak sapi, kayu dan pasir. Satu korban yang luka parah yakni Wayan (57), sopir truk Fuso harus dirawat secara intensif di Rumah Sakit Umum Ciereng, Kabupaten Subang. (Ant/Ima)

Sumber: Kompas, Minggu, 25 Juli 2004