Archive for 2004

Empat Tempat Ibadah Kuno Direhab

Saturday, December 25th, 2004

Telan Rp 807 juta

TUBAGUS ANGKE- Empat tempat ibadah kuno yang termasuk bangunan cagar budaya di beberapa lokasi di Jakarta, kondisinya memprihatinkan. Karenanya, sejak Oktober lalu hingga sekarang sedang direhabilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman dengan biaya dari APBD DKI sebesar Rp 807 juta lebih.

Keempat tempat ibadah tersebut adalah Masjid Angke (Al Anwar) di Jl Tubagus Angke Gang Masjid di Tambora, Jakarta Barat yang dibangun tahun 1761, Masjid Pekojan (Masjid Jami Annawier) di Jalan Pekojan Jakarta Barat (dibangun 1740), Masjid Al Makmur di Jl Raden Saleh Jakarta Pusat (dibangun akhir abad ke-19) dan gereja Sion di Jl Pangeran Jayakarta No 1 Jakarta Barat yang dibangun tahun 1695.

“Rehab bangunan masjid dan gereja itu kini sudah hampir selesai. Diharapkan akhir Desember ini benar-benar dapat digunakan untuk beribadah,” kata Kepala Subdinas Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Teguh Widodo, kemarin.

Menurut Teguh, pengawasan pengerjaan rehab tersebut kini diperketat agar selesai tepat waktu dengan mutu bagus. Karena itu masyarakat pengguna tempat ibadah itu tidak perlu khawatir.

“Seperti Masjid Angke hanya tinggal mengecat pagarnya saja,” katanya yang dalam proyek ini bertindak selaku pengawas lapangan. Masjid yang berarsitektur budaya Bali karena dibangun di daerah komunitas muslim Bali pada abad ke 18, menelan biaya rehab Rp 175,44 juta. Rehabilitasi termasuk mengganti marmer teras masjid tersebut.

Sedangkan Gereja Sion, anggaran yang terserap adalah Rp 262,16 juta.

Pernyataan Teguh tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran pendeta Myske Chaterine Kolano, pengurus gereja tertua di Jakarta tersebut. Minggu lalu, Kolano mengutarakan kekhawatirannya pekerjaan rehabilitasi itu tidak dapat digunakan untuk kebaktian natal dan tahun baru 2005 nanti. Hari Sabtu dan Minggu, Gereja Sion digunakan untuk kebaktian masyarakat Kristiani warga Pinangsia Tamansari dan Jakarta Barat dengan jumlah jamaah sekitar 300 sampai 400 orang. Tetapi saat Natal dan Tahun Baru jemaatnya mencapai 1200 orang.

Dia mengaku, sebelumnya bagian atap dan beberapa balok kayu gereja yang berumur lebih dari 300 tahun itu sudah keropos sehingga dikhawatirkan ambrol. Namun dengan adanya pekerjaan rehab terpaksa gereja tidak dapat digunakan kebaktian karena dipasang steger dan kayu-kayu penunjang selama perbaikan tersebut.

Sedangkan Masjid Al Makmur halamannya bagian aslinya yang dekat dengan kali ciliwung amblas dan beberapa bagian bangunan tambahannya rusak sehingga memerlukan biaya Rp 83,59 juta. Sedangkan biaya terbesar Rp 286,67 juta diperuntukkan bagi perbaikan Masjid Pekojan karena umurnya memang sudah tua yaitu 264 tahun.(lis)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 25 Des 2004

Kawasan Kota Tua Sulit Ditata

Friday, December 24th, 2004

Laporan : Egidius Patnistik

Kawasan kota tua sulit ditata, karena kawasan itu masih menjadi daerah perlintasan kendaraan. Sekitar 70 persen kendaraan yang datang ke Kota Tua ternyata hanya sekadar melintas. Wagub DKI Fauzi Bowo mengatakan hal itu di Balaikota, Jumat (24/12).

Menurut Fauzi Bowo, kawasan Kota Tua yang meliputi sebagian wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara harus ditata menjadi daerah tujuan bukan lagi daerah perlintasan. “Kita akan review tata ruang pada tahun 2005. Kawasan itu akan dijadikan destinasi atau daerah tujuan. Angkutan dan truk barang nanti diatur (tidak masuk ke kawasan itu),” ujar Fauzi.

Dalam rangka penataan itu, lanjut Fauzi, Stasiun Kota akan dijadikan stasiun regional yang hanya melayani daerah Jakarta dan sekitarnya dan tidak lagi menjadi stasiun antar-kota.

Sementara untuk membuka kawasan tersebut lebih menarik yang dikembangkan tidak hanya potensi historis, tetapi juga potensi komersial. “Daerah sekitar Kota Tua harus ikut ditata. Kawasan itu punya potensi untuk dikembangkan hingga menjadi potensi baru yang punya nilai komersial tinggi,” ungkap Fauzi.

Perkumpulan Jakarta Oldtown Kotaku, pimpinan Miranda S Goeltom pada 12 Desember lalu mencanangkan revitalisasi Kota Tua. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah arsitek, pemilik bangunan, dan pecinta Kota Tua. (Ima)

Sumber: Kompas, Jumat, 24 Desember 2004