Archive for October, 2003

Kota Lama Dijadikan Kawasan Wisata Budaya

Thursday, October 30th, 2003

Semarang, Kompas – Pemerintah Kota Semarang bertekad menjadikan kawasan Kota Lama sebagai kawasan wisata budaya. Untuk itu, penataan ruang dan pengembangan kawasan tersebut akan diarahkan menyerupai aslinya, baik bentuk bangunan maupun nama jalan akan dikembalikan seperti pada masa pemerintahan Belanda.

Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang Nomor 16 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama. Dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Kota Semarang Ismoyo Soebroto, Selasa (28/10) malam, DPRD Kota Semarang menyetujui Rancangan Perda RTBL Kawasan Kota Lama tersebut menjadi Perda.

Perda RTBL Kawasan Kota Lama itu memuat rumusan kebijakan pelestarian dan revitalisasi kawasan Kota Lama. Perda tersebut disusun dan ditetapkan untuk menyiapkan perwujudan kawasan Kota Lama dalam rangka pelaksanaan program dan pengendalian pembangunan kawasan itu yang dilakukan pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Selanjutnya, ketentuan dalam perda itu menjadi pedoman, landasan, dan garis besar kebijakan bagi pelestarian dan revitalisasi Kawasan Kota Lama Semarang. Tujuannya untuk melindungi kekayaan historik dan budaya serta mengembangkannya untuk kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan pariwisata.

Pengelolaan kawasan itu akan dilakukan oleh Badan Pengelola Kawasan Kota Lama yang melibatkan unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat. Wewenang badan ini adalah melaksanakan sebagian kewenangan konservasi dan revitalisasi kawasan.

Kota Lama yang dulunya dijuluki Kota Benteng adalah bagian Kota Semarang sebagai bekas kota Belanda yang dulu dibatasi Benteng de Vijfhoek. Saat ini batasnya adalah Jalan Merak (utara), kawasan Sleko (barat), Jalan Sendowo (selatan), dan Jalan Cendrawasih (timur).

“Untuk mengoptimalisasikan Kota Lama, perlu ada tim khusus agar dapat mempromosikan wisata Kota Lama, baik ke dalam maupun ke luar negeri,” kata Djunaidi, juru bicara Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) dalam pemandangan akhir fraksinya.

Semua fraksi di DPRD Kota Semarang menyambut baik perda tersebut. Karena itu, perda tersebut agar segera ditindaklanjuti dengan sosialisasi ke masyarakat, terutama pemilik bangunan di Kota Lama. Selain itu, pemkot juga diharapkan aktif mencari investor untuk pengembangan kawasan tersebut menjadi Kawasan Wisata Budaya.

Untuk mempertahankan nilai historis Kota Lama, dalam perda itu disebutkan ada 105 bangunan yang masuk dalam kategori konservasi.

Oleh karena itu, ornamen atau bentuk asli bangunan yang berarsitektur kolonial tetap dipertahankan. Agar tidak menghilangkan ciri kawasan yang berwajah kolonial, nama jalan akan dibuat dua versi, yaitu versi Indonesia seperti yang sudah ada sekarang dan versi Belanda (nama aslinya).

Sumber: Kompas, 30 Oktober 2003

Betawi Seabad Silam – Jembatan di Atas Kanal – 28 Oktober 1903

Tuesday, October 28th, 2003

SIAUW A Hok, penduduk yang bertempat tinggal di Pancoran, malam-malam ingin mencari angin. Ia keluar rumah dan duduk di lengan (tempat pegangan tangan) di salah satu jembatan di Pancoran. Malang tidak dapat ditolak, ternyata kayu jembatan yang didudukinya itu patah. Siauw A Hok pun jatuh ke kali, dan kepalanya membentur perahu yang kebetulan sedang lewat di bawah jembatan itu. Ketika tukang perahu menolongnya, kepala Siauw A Hok berlumuran darah. Para tetangganya segera membawanya ke Stadsverband (rumah sakit untuk pribumi dan Cina) di Glodok, tetapi di tengah perjalanan ia meninggal.

Di kawasan kota lama Betawi memang banyak terdapat jembatan. Untuk menyebut beberapa, misalnya, Jembatan Senti di seberang gereja Portugis (sekarang gereja Sion di Jalan Pangeran Jayakarta), Jembatan Pasar Ayam (Hoenderpasarbrug) di sebelah utara Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta), dan Jembatan Javasche Bank (kini gedung Bank Indonesia). Jembatan-jembatan itu kebanyakan berbahan kayu dan telah berumur puluhan tahun, bahkan ada yang lebih satu abad. Tidak aneh kalau kayunya banyak yang lapuk dan membahayakan penduduk.

Mengapa begitu banyak jembatan di kawasan kota lama? Jan Pieterszoon Coen peletak dasar kolonialisme kumpeni, ketika bermaksud membangun kota sebagai pusat kekuasaan kumpeni, minta dibuatkan rancangan seperti kota-kota di negeri leluhurnya. Karena itu kota yang dikelilingi tembok itu penuh dengan kanal-kanal, yang memiliki fungsi untuk keamanan, selain juga sebagai sarana angkutan air. Sementara jalan-jalan dibuat di sekitar kanal-kanal itu yang saling berpotongan tegak lurus.

Agar orang dapat menyeberangi kanal-kanal itu di beberapa tempat tertentu dibuat jembatan dari bahan kayu. Untuk kanal-kanal yang cukup lebar, kadang-kadang dipakai konstruksi batu. Jembatan itu merupakan jembatan angkat (ophaalbrug), dan dibuat tinggi di atas pemukaan air, sehingga perjalanan perahu-perahu yang banyak hilir-mudik di kanal-kanal itu tidak terganggu.

Jembatan angkat yang terkenal dan merupakan satu-satunya yang masih kelihatan bentuknya adalah yang dikenal dengan nama Hoenderpasarbrug (Jembatan Pasar Ayam), yang terletak di ujung utara Kali Besar, di dekat Hotel Omni Batavia di Jalan Kali Besar Barat.

Sesuai namanya, jembatan itu yang menempati lokasi yang menurut peta masa Gubernur Jenderal Van der Parra, merupakan pasar ayam dan sayuran, yaitu yang terletak di sebelah utara gereja lama Portugis (Binnenkerk). Lahan bekas pasar ayam itu kemudian dijadikan lokasi tempat perbaikan kapal. Karena Boom Besar dalam jangka panjang juga akan dibangun, maka pembesar kumpeni merencanakan lokasi untuk gudang-gudang di tepi Kali Besar itu. Karena itulah dibangun jembatan angkat, sehingga perahu-perahu yang mengangkut berbagai kebutuhan sehari-hari tetap bisa melewati Kali Besar.

Selain Jembatan Pasar Ayam, di ujung selatan Kali Besar juga terdapat sebuah jembatan, untuk kebutuhan orang-orang yang bermaksud ke rumah sakit (hospitaalsbrug). Setelah rumah sakit dipindahkan ke Weltevreden, lahan bekas rumah sakit itu dimanfaatkan oleh Javasche Bank, sehingga jembatan itu dikenal sebagai Jembatan Javasche Bank. Jembatan Pasar Ayam maupun Jembatan Javasche Bank itu bukan jembatan yang paling tua di Betawi. Yang tertua adalah Jembatan Inggris, yang ketika tentara Mataram menyerang Betawi pada tahun 1628, jembatan itu harus dihancurkan. Baru pada tahun 1655 dibangun jembatan baru melintasi terusan kanal yang bernama Amsterdamsche-gracht. Itulah jembatan yang disebut Hoenderpasarbrug.

Jembatan itu bukan satu-satunya sarana untuk menyeberangi kanal. Ketika para pembesar kumpeni masih tinggal di dalam kastil, selain jembatan untuk penyeberangan itu, di tempat-tempat yang cukup jauh dari jembatan ditempatkan beberapa buah sampan memakai tenda. Sampan-sampan itu dipakai untuk mengangkut ’nyonya-nyonya besar’ yang biasanya malas berjalan itu ke seberang kanal. ’Nyonya-nyonya besar’ itu jelas sulit berjalan, karena gaun-gaun yang mereka kenakan model kurungan ayam. Setiap mereka berjalan, harus ada budak-budak yang memegangi gaun itu. Repotnya lagi, selain budak pemegang gaun, ada pula budak yang khusus memayungi sang nyonya besar, karena matahari Betawi sangat terik. Si nyonya besar sendiri tidak henti-hentinya mengipas-ngipaskan kipas bulu burung merak.(Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Sumber: Kompas, Selasa, 28 Oktober 2003