Archive for 2003

Gereja Sion, Gereja Tertua di Jakarta

Tuesday, December 23rd, 2003

“Gereja tua ini ditopang 10.000 kayu dolken bulat sebagai fondasi bangunan, ya, semacam pasak bumilah untuk ukuran zaman sekarang,” kata Hadikusumo, jemaat Gereja Protestan Indonesia Barat Sion, Jakarta Barat.

Berkat fondasi itu, kata Hadi, gedung tua ini tetap tegak berdiri sampai saat ini. Bahkan, gempa bumi besar yang menjalar sampai ke Australia Selatan, Sri Lanka, dan Filipina, akibat letusan Krakatau pada Agustus 1883 tak sedikit pun meretakkan gereja ini.

Gereja tertua di Jakarta ini dibangun pada tahun 1693 dengan arsitek Ewout Verhagen. Dari luar, sepintas tak terlihat sesuatu yang istimewa dari Gereja Sion. Namun, jendela lengkung antik dengan tinggi lebih kurang tiga meter dan pintu- pintu gerbang gereja dengan tiang antik, yang menopang segitiga (fronton) gaya Yunani, membuat gereja ini istimewa.

Bentuk bangunan yang segiempat memiliki ruang tambahan yang juga berbentuk segiempat tempat dewan gereja berkumpul (konsistori). Di pintu barat gereja terdapat 11 makam yang nisannya dipasang horizontal. “Batu nisan itu berasal dari India dan bernama Koromandel, mungkin nama tempat asal batu itu,” kata Hadi.

Melayangkan pandangan ke altar gereja, hanya keagungan Tuhan semata yang terucap. Betapa tidak, interior Gereja Sion sangat menakjubkan. Terlebih lagi, kanopi berukuran besar dengan bentuk atap menyerupai mahkota, yang konon berasal dari bongkaran Gereja Kubah, Jakarta. Tepat di bawah kanopi terdapat mimbar bergaya Barok, yang hampir serupa dengan mimbar Gereja Katedral. Menurut Hadi, mimbar ini bergaya Katolik yang sekarang jarang digunakan. Ornamen pada sisi bawah mimbar berbentuk kepala malaikat lengkap dengan sayap yang dicat serupa warna kulit manusia.

Bagian depan gereja sisi utara, ada balkon yang memuat orgel gereja. Menurut Hadi, orgel ini hibah putri Pendeta John Maurits Moor, pada abad ke-17. Orgel ini masih dapat digunakan sesuai mekanisme aslinya, hanya saja pemompa orgel kini tak lagi diengkol dengan tenaga manusia. Orgel ini terbuat dari kayu terukir dengan pipa-pipa besi di dalamnya.

Enam tiang besar menopang langit-langit yang berbentuk lengkungan. Ada pula, empat kandelar kuningan, kandil tempat lilin yang kini digantikan lampu bohlam. Kandelar itu dipesan dari India dengan lambang singa, perisai, dan pedang sebagai lambang Kota Batavia. Lantai gereja tersusun dari ubin granit berwarna keabuan.

Menurut skala peta Gunter W Holtorf, Gereja Sion hanya berjarak 200 meter barat kompleks pertokoan Mangga Dua dan bukan mustahil perluasan kompleks Mangga Dua akan merambah ke Gereja Sion. (K01)

Sumber: Kompas, Selasa, 23 Desember 2003

Keharmonisan Budaya Tionghoa dalam Gereja Toasebio

Saturday, December 20th, 2003

BEBERAPA gereja Katolik di Jakarta memberikan pelayanan misa dengan bahasa asing. Taruhlah Kapel Seminari Wacana Bakti di Pejaten (Jaksel), yang memberikan misa dengan bahasa Jerman dan Spanyol, Kapel Universitas Atmajaya yang berbahasa Inggris, dan Gereja Kristus Raja dengan bahasa Perancis. Penggunaan bahasa asing itu semata untuk melayani kaum ekspatriat.

Berbeda dengan Gereja Santa Maria de Fatima atau lebih dikenal dengan Gereja Toasebio yang memberikan pelayanan misa dengan Bahasa Mandarin. Misa itu diperuntukkan bagi warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa dan orang Tionghoa perantauan yang menjadi WNI, tetapi tidak pandai berbahasa Indonesia.

Gereja Toasebio memang berada di daerah Pecinan. Nuansa Cina, seperti bahasa Tionghoa, harum dupa, serta arsitektur rumah gaya Cina, sangat terasa ketika memasuki Jalan Kemenangan, lokasi gereja.

Arsitektur gaya Cina tetap dipertahankan gereja. Bahkan, bila dilihat sekilas Gereja Toasebio mirip dengan dua klenteng yang ada di sekitar itu. Interior gereja, seperti ukiran pada altar dan podium, serta tiangnya, pun bergaya Cina.

Menurut Pastor Paroki Gereja Santa Maria de Fatima, Pater Yosef Bagnara SX, misa berbahasa Mandarin sudah dilakukan sejak tahun 1955. Pada masa itu banyak penduduk sekitar tidak bisa berbahasa Indonesia. Mereka, umumnya orang Tiongkok yang merantau ke Indonesia, kemudian menjadi WNI. Dalam pergaulan sehari-hari mereka tetap memakai bahasa Mandarin meski dialeknya berbeda-beda.

“Meski berbahasa Mandarin, bukan berarti ini eksklusif, gereja Katolik tetap universal. Semua tata cara misa sama. Liturginya mengikuti liturgi yang disahkan di Taiwan dan ada imprimatur dari Taiwan yang disahkan oleh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ),” jelas Pater Agustinus Lie CDD, pastor yang mempersembahkan misa berbahasa Mandarin.

Lagu-lagu yang dipakai pun lagu Mandarin yang biasa dinyanyikan gereja di Taiwan, Cina, Hongkong, dan Singapura. Namun, ada juga sebagian lagu Indonesia yang diterjemahkan ke Mandarin. Bahkan, untuk misa hari besar, kadang umat memakai pakaian adat Cina.

Menurut Pater Agus, masyarakat Tionghoa sudah berkumpul bersama untuk berdoa, namun tidak dalam struktur gereja. Pada masa penjajahan Belanda, Celso Costantini, pendiri ordo CDD (Kongregasi Murid-murid Tuhan) yang sekarang mengkhususkan diri memberi pelayanan dalam bahasa Mandarin, bertandang ke Batavia. Mereka melihat orang Tionghoa berkumpul untuk berdoa sehingga gereja perlu memperhatikan kehidupan iman mereka. “Baru setelah ada Gereja Toasebio, mereka lebih terstruktur,” kata Pater Agus.

Dulu frekuensi misa bahasa Mandarin agak sering, sekarang tinggal satu, yaitu hari Minggu pukul 16.15. Sampai saat ini umat yang aktif mengikuti misa berbahasa Mandarin hanya sekitar 100 orang yang sebagian besar berusia 50 tahun ke atas. “Karena ini berkaitan dengan rohani, ada orang yang lebih pas kalau mengungkapkan imannya dengan bahasa ibu, bahasa Mandarin, karena mereka tidak mengetahui bahasa Indonesia secara baik,” jelas Pater Agus.

Menurut Pater Yosef, beberapa pemuda dan warga biasa ada yang datang ke misa untuk mendalami bahasa Mandarin.

Berkaitan dengan pengaruh kebudayaan Tionghoa, Pater Agus mengatakan, gereja tidak melarang hio (dupa). “Karena secara filosofis hio sebagai ungkapan penghormatan semata. Pada waktu Imlek, gereja melakukan misa. Di akhir misa ada upacara penyalaan hio untuk menghormati Tuhan dan keluarga yang meninggal, dengan catatan kita tidak menyembah leluhur, tetapi menghormatinya,” kata Pater Lie. (K02)

Sumber: Harian Kompas, Sabtu, 20 Desember 2003