Archive for February, 2002

Arsitektur Jengki, Perkembangan Sejarah yang Terlupakan

Sunday, February 17th, 2002

Oleh Imam Prakoso

SEJARAH perkembangan arsitektur di Indonesia di era tahun 1950 sampai 1960-an diwarnai dengan hadirnya sebuah gaya yang dikenal dengan nama arsitektur jengki. Penampilannya yang unik menjadikannya berbeda dengan arsitektur kolonial Belanda sebelumnya. Kehadirannya merupakan jawaban langsung terhadap tantangan yang dihadirkan dan diwarnai dengan semangat zaman di masa lampau.

Hadirnya arsitektur jengki di Indonesia sebenarnya tidak terlepas dari sejarah perkembangan Indonesia sebagai sebuah negara. Kepergian Belanda secara perlahan meninggalkan Indonesia turut mewarnai masa hadirnya arsitektur jengki. Hal ini beriringan dengan kepergian para arsitek Belanda yang kemudian digantikan oleh beberapa arsitek Indonesia pertama dan para tukang ahli bangunan yang menyebar di kota-kota Kolonial Belanda. Asal penggunaan kata jengki sering dihubungkan dengan hal-hal di luar dunia arsitektur. Menurut morfologi atau pembentukan kata, istilah “jengki” mungkin berasal dari kata Yankee, yaitu sebutan untuk orang-orang New England yang tinggal di bagian Utara Amerika Serikat. Menurut Budi Sukada, ada yang menyebut sosok arsitektur jengki sebagai arsitektur Yankee yang populer di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Penamaan jengki juga dihubungkan dengan model busana celana jengki yang marak pada saat yang bersamaan.

Konteks bagi hadirnya arsitektur jengki di Indonesia adalah munculnya para arsitek pribumi yang notabene adalah tukang yang ahli bangunan sebagai pendamping para arsitek Belanda. Para ahli bangunan pribumi ini kebanyakan merupakan lulusan dari pendidikan menengah bangunan. Di tengah bergolaknya kondisi perpolitikan di masa 1950 sampai 1960-an yang ditandai dengan semakin berkurangnya arsitek Belanda dan mulai munculnya para ahli bangunan dan lulusan pertama arsitek Indonesia menjadi poin yang turut membentuk perkembangan arsitektur jengki. Beberapa pola yang menjadi ciri arsitektur jengki kemungkinan berhubungan erat dengan pola penyebaran para arsitek Belanda yang tersisa serta arsitek Indonesia yang masih dapat dihitung jumlahnya serta banyaknya ahli bangunan yang sebelumnya menjadi asisten para arsitek Belanda. Pada kota-kota besar, kemungkinan banyak menyisakan para arsitek untuk mendesainnya. Tetapi, untuk kota-kota kecil, keahlian para tukang bangunan yang lebih banyak berperan pada periode perkembangan arsitektur jengki.

Sebagai sebuah karya arsitektur, arsitektur jengki memiliki beberapa perbedaan dengan arsitektur kolonial pada umumnya. Menurut Josep Prijotomo, karakter arsitektur jengki ditandai salah satunya dengan kehadiran atap pelana. Tidak seperti rumah tinggal pada umumnya, atap pelana pada rumah bergaya jengki memiliki perbedaan tinggi atap. Biasanya kemiringan atap yang terbentuk tidak kurang dari 35 derajat. Penggunaan atap pelana ini menghasilkan sebuah tembok depan yang cukup lebar sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tampak depan bangunan. Tembok depan yang dikenal dengan gewel ini yang kemudian menjadi sarana kreativitas arsitek. Pengolahan tampak depan bangunan juga diperkuat dengan kehadiran dinding yang berkesan miring dan membentuk geometri segi lima terhadap tampak bangunan. Dinding miring ini sebenarnya tidak berkaitan langsung terhadap kekuatan konstruksi bangunan, tetapi lebih kepada kreativitas untuk menghadirkan tampak bangunan.

Penggunaan sudut kemiringan atap yang cukup tinggi ini memberikan karakter lain, yaitu bentuk beranda sebagai unsur mandiri. Beranda inilah yang menandai pintu masuk ke dalam bangunan yang kerap dihadirkan sebagai sebagai sebuah portico, yaitu bangunan beratap di depan pintu masuk. Pada umumnya atap datar menjadi pilihan utama bagi beranda. Atap datar inilah yang memberikan artikulasi untuk membedakannya dengan bangunan utama yang beratap pelana. Beberapa fungsi yang diwadahi di dalam beranda ini adalah sebagai penegas pintu masuk ke dalam bangunan, sebagai tempat penerima, dan sebagai ruang peneduh dan penyejuk bagi ruangan di dalamnya.

Ciri lain yang kerap dijumpai pada arsitektur jengki adalah digunakannya karawang atau rooster. Sebenarnya fungsi utama dari karawang adalah sebagai anginan. Lancarnya sirkulasi di dalam setiap ruang pada rumah tinggal merupakan fungsi yang utama. Namun, pada arsitektur jengki fungsi ini berlanjut dengan hadirnya kreativitas. Penggunaan karawang tidak lagi dipahami sebagai sebuah fungsi, tetapi juga merupakan bagian dari wahana untuk menghadirkan estetika baru.

Di dalam arsitektur dikenal istilah ekletisme sebagai sebuah fenomena yang menandai dimilikinya beberapa gaya dalam sebuah bangunan. Fenomena ini juga terlihat pada perkembangan arsitektur jengki di Indonesia. Semangat untuk berbeda dalam penampilan merupakan pendorong bagi munculnya ekletisme. Arsitektur kolonial Belanda menjadi tolak ukur bagi hadirnya unsur-unsur di dalam bangunan bergaya jengki. Pemahaman ini mengantarkan kita akan hadirnya bentuk-bentuk bangunan yang tidak kita jumpai pada bangunan rumah tinggal sebelumnya. Bentuk kusen yang tidak simetris, pemakaian beberapa macam bahan dalam sebuah bangunan, penegasan yang terkadang berlebihan pada tembok, bingkai kusen bahkan bentuk kusennya menandai akan hadirnya sebuah arsitektur baru. Pengenalan akan bahan-bahan bangunan sebagai sebuah unsur yang melebihi dari sekadar sebuah penutup bangunan adalah poin pentingnya. Kedewasaan dan kematangan dalam mengolah komposisi bahan terhadap lahirnya wajah bangunan yang ideal merupakan logika dasar yang menyertainya.

Perbedaan mendasar antara arsitektur jengki dan arsitektur kolonial Belanda ada pada tingkat pemikiran, yakni penempatan arsitektur yang membumi. Beberapa arsitek Belanda secara bersungguh-sungguh mencoba pendekatan iklim tropis dan kebudayaan sebagai sumber inspirasi terbentuknya karya arsitektur yang ideal. Sedangkan arsitektur jengki beranjak kepada arsitektur modern untuk menemukan jati dirinya. Perbedaan ini terwujud dalam bentuk fisik yang dapat kita lihat secara langsung. Dengan sedikit mengabaikan kondisi iklim, terutama unsur atap sebagai pelindung, arsitektur jengki memiliki ketahanan yang lebih pendek jika dibandingkan dengan arsitektur kolonial. Hal ini berakibat langsung pada pemeliharaan bangunan terutama pada sudut bangunan yang menggunakan beton dan sedikit terlindung dari ganasnya iklim tropis.

Tingkat perkembangan kawasan lingkungan permukiman turut membentuk identitas arsitektur jengki. Pertumbuhan penduduk dan semakin padatnya lingkungan permukiman di perkotaan menghadirkan lahan siap bangun yang tidak seluas dulu lagi. Bentuk khas dari tampak bangunan rumah bergaya jengki berkaitan langsung dengan lahan di mana ia terbangun. Dalam perkembangannya, sejauh menyangkut letak lahannya, kita mengenal dua jenis arsitektur jengki. Yang pertama adalah arsitektur jengki untuk hunian rumah tinggal dan arsitektur jengki bagi bangunan vila.

Pemukiman yang relatif padat merupakan tempat di mana hunian rumah tinggal bergaya jengki berada. Sedangkan untuk jenis vila biasanya terletak di pinggiran kota atau pada sudut kota yang memiliki halaman yang cukup lapang dengan jarak antarbangunan satu dengan lainnya yang renggang.

Keberadaan arsitektur jengki pada kota-kota kolonial memberikan keunikan tersendiri. Sejauh ini arsitektur jengki lebih dipahami sebagai sebuah unit tunggal. Jarang kita jumpai berderet rumah bergaya jengki pada sebuah lingkungan. Belum ada penelitian lebih lanjut mengapa penyebarannya tidak pernah menjangkau masyarakat luas. Kontribusinya bagi perkembangan sejarah perkotaan di Indonesia masih jarang dilihat. Sebagai sebuah unit yang utuh, arsitektur jengki belum sampai membentuk identitas lingkungan yang nyata. Hal ini diperkuat dengan pola penyebaran pada sebuah kawasan belum terlihat secara jelas. Kehadirannya menjadi menarik karena memiliki penampilan yang berbeda dengan hunian yang ada di sekitarnya.

Perbedaan fisik yang tampak masih menyisakan pertanyaan yang perlu kita renungkan. Walaupun dari eksplorasi desain terutama dari pendekatan iklim tropis, arsitektur jengki belumlah sekritis para pendahulunya, yaitu arsitektur kolonial Belanda, namun hal ini tidak mengurangi arti penting yang dikandungnya. Sebagai sebuah karya bangunan, arsitektur jengki merupakan sumber inspirasi dan contoh yang tidak dapat diabaikan. Bangunan yang tersisa dapat menjadi contoh atau bahan studi untuk dilihat kelebihan, kekurangan, dan acuan dalam perancangan untuk masa sekarang dan akan datang (Yulianto Sumalyo: 1993). Dengan pemahaman ini setidaknya kita memiliki sebuah masa yang penuh dengan berbagai tantangan dan kondisi masyarakat yang membentuknya. Tidak untuk dilupakan dan dilihat dengan sebelah mata tentunya.

Imam Prakoso, pemerhati lingkungan binaan.

Sumber: Harian Kompas, 17 Februari 2002.

Waroeng Old Shanghai 1920 Sunda Kelapa di Malang

Friday, February 15th, 2002

BUKAN sekadar untuk memanfaatkan peristiwa perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh 12 Februari 2002 lalu, tetapi sekaligus untuk menggali potensi dan peristiwa budaya pada masa lalu. Itu yang dilakukan pemilik Hotel Tugu Malang, Anhar Setjadi Brata, dengan membuat sebuah kedai untuk mengenang Waroeng Old Shanghai 1920 di Sunda Kelapa.

Kedai atau warung bernuansa Shanghai di Hotel Tugu itu berada di pinggir kolam. Peristiwa sejarah yang ingin dikedepankan berdasarkan kisah dari penggalan The Forgotten History of Batavia, mengenai situasi sebuah warung kopi, teh, dan makanan di Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia, pada masa sekitar tahun 1920.
Tepat pada malam Tahun Baru Imlek, Selasa (12/2) lalu, warung ini dibuka secara resmi. Anhar ternyata tidak hanya sekadar menyajikan tema bersejarah untuk nama warungnya. Tetapi, ia juga menyajikan berbagai poster artistik yang memaparkan kondisi dan peristiwa-peristiwa sejarah berkaitan dengan budaya Shanghai pada tahun 1920 lalu.

Ada sebuah peta asli rencana tata kota Shanghai yang diterbitkan North China Daily News and Herald Limited pada tahun 1928, berukuran satu meter persegi, terpajang di salah satu dinding. Foto-foto peristiwa pada tahun 1930 yang termuat di beberapa koran yang terbit di Shanghai juga menjadi hiasan dinding yang lainnya. Foto-foto itu di antaranya yang terdapat di koran Shun Pao Pictoral Supplement yang terbit pada masanya.

HIASAN dinding berupa reklame-reklame asli pada masa lalu dari Shanghai, banyak pula dipajang. Reklame-reklame itu berasal dari berbagai perusahaan multinasional yang menanamkan modal mereka di Shanghai, lalu diedarkan hingga ke Hindia Belanda atau Indonesia sekarang.

Reklame dari Shanghai pada masa Hindia Belanda itu antara lain untuk produk dari perusahaan Bayer, aspirin, rokok, dan mobil. Selanjutnya, suasana warung seperti pada masa lalu dikesankan melalui atap genteng, meja dan kursi yang dibuat dan tertata sedemikian rupa dengan bentuk yang menyesuaikan kondisi aslinya.

Artikel-artikel dari koran Sin Po yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1925, juga dapat dilihat dalam buku menu makanan yang tersedia. Artikel-artikel itu dapat mengisahkan situasi hubungan budaya, dagang, sosial, dan politik, yang terjadi antara masyarakat Shanghai dan masyarakat Tionghoa di Batavia pada masa itu.
Masih dari artikel tersebut. Ada foto dan kisah dari empat warga Tionghoa yang diusir dari Batavia oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Keempat Tionghoa itu dibawa ke Tiongkok, diangkut dengan sebuah kapal bernama Tjisalak, karena dianggap berbahaya oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Selain itu, ada artikel yang mengisahkan Kwee Hing Tjiat, wartawan Tionghoa di Batavia yang dibuang Pemerintah Hindia Belanda ke Tiongkok. Sebab, ia membuat kritik-kritik keras terhadap Pemerintah Hindia Belanda yang melakukan kekerasan terhadap penduduk jajahan pada masa itu pula.

Ternyata, masih banyak lagi hiasan yang bernilai sejarah terpajang menjadi hiasan unik warung ini. Di antaranya, ada alat pengisap candu pada masa lalu, alat hitung tradisional swan ban, maupun gambar atau foto hitam putih yang berbicara banyak tentang masa lalu, khususnya berkaitan dengan warga Tionghoa di Indonesia. (p11)

Sumber: Kompas, Jumat, 15 Februari 2002