Archive for the 'Kebudayaan Indis' Category

Menanti Kejutan VOC Galangan

Monday, September 29th, 2008

Oleh Pradaningrum W

Di penghujung usia 50 tahun, Susilawati ingin menghapus kegusaran yang makin melilit perasaannya. Ia masygul karena sebagai pioner revitalisasi di kawasan Kota Tua, dirinya seperti tak berharga di depan banyak orang. Terlebih di depan pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Upaya Susilawati menghidupkan kawasan di seberang Pasar Ikan, Jalan Kakap, tak disambut dengan antusias oleh Pemprov DKI. Padahal pemerintah daerah adalah pihak yang paling berkepentingan dalam rangka menghidupkan kembali kawasan yang sudah lama mati itu.

Tahun 1998, perempuan yang akrab disapa Susi tersebut mulai menyulap bangunan bekas galangan kapal dari abad 17-18 menjadi Kafe/Restoran VOC Galangan tanpa mengubah bentuk bangunan itu sendiri. “Prosesnya lama. Enggak boleh begini-begitu. Kita ikutin sebab ini kan bangunan yang dilindungi, bangunan sangat tua,” kata Susi.

Jumlah rupiah yang digelontorkan untuk membeli lahan hingga memugar bangunan ini tentu mencapai miliaran. Itu 10 tahun lalu. Kini jumlah itu berlipat lima kali. Biaya perawatan, operasional, dan pajak bangunan, menjadi terasa begitu berat manakala dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan tak kunjung tiba. Misalnya, kebijakan soal kebersihan, sampah yang memadati sungai yang melalui galangan, bau yang ditimbulkan, keamanan, atau kebijakan untuk terbiasa mengadakan acara di kawasan itu. Intinya, ‘kehidupan’ tak segera diciptakan di kawasan itu.

“Begitu saya bikin ini (Kafe/Restoran VOC Galangan), terus di sebelah-sebelah bikin juga. Bisnis makanan mulai marak di sekitar sini,” ujar Susi. VOC Galangan punya nilai lebih karena dari lahan seluas 5.000 m2 tak semua dihabiskan menjadi kafe/restoran. Tempat ini bisa dijadikan sebagai tempat diskusi, seminar, festival budaya, bahkan pesta pernikahan. Apa pun bisa dilakukan di sini. Tapi pejabat Pemprov DKI seakan alergi untuk datang/mengadakan acara di sini. Macet selalu jadi kambing hitam.

“Saya udah nyaris putus asa. Anak-anak juga bilang, udah jual aja. Tapi saya sayang sama bangunan ini. Tiap hari saya di sini. Kadang saya cuma bengong, bagaimana ya supaya bangunan ini ‘hidup’. Saya masih berharap tempat ini bisa jadi ramai. Bisa menghidupkan kawasan ini. Jadi saya putuskan untuk melakukan perubahan pada tempat ini. Saya akan melakukan pembenahan besar-besaran. Titik awalnya pada ulang tahun ke-10 nanti, Desember,” tutur Susi memaparkan cita-citanya. Semangatnya tiba-tiba bangkit, menggantikan rasa gundahnya selama ini.

Keindahan masa lalu
Keyakinan itu datang karena dukungan, yang bukan dari pemerintah, mulai mengalir. Ya, dukungan. Itulah yang dia perlukan. Sering kali ada hal yang sangat bertolak belakang. Contohnya ketika revitalisasi Kota Tua—atau lebih tepatnya pembenahan fisik—dimulai, pada saat itu pula pejabat Pemprov DKI—juga anggota dewan yang terhormat—menunjukkan keengganan untuk sekadar menengok kawasan ini. Alasannya terlalu klise dan sama sekali tidak menunjukkan dukungan, yaitu macet.

Maka warga Jakarta dan sekitarnya, bersiaplah menanti kejutan apa yang akan dilakukan Susi terhadap bangunan kesayangannya itu. Tentunya, perubahan besar-besaran ini sedikit banyak bisa menjadi pelajaran buat pemerintah, bahwa revitalisasi bukan cuma memberi gincu tapi memberi napas kehidupan yang baru bagi gedung dan kawasan.

Bangunan galangan kapal di masa Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) ini berada tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, sebuah titik di mana Jakarta bermula. Persis di seberang VOC Galangan, berdiri pula bangunan serupa yang kemudian menjadi Museum Bahari.

Pemandangan di kafe ini membawa kita ke keindahan suasana masa lalu. Tembok setebal 40 cm peninggalan Belanda terlihat masih utuh. Beberapa sisi dimodifikasi agar memberi kesan kuno. Kayu-kayu penyangga, termasuk gelagar, masih terlihat kokoh walau sebenarnya rayap mulai menggerogoti di beberapa bagian. Sayang memang, lingkungan di sekitarnya tak digubris pemerintah. Tak lama setelah matahari tenggelam, kawasan itu langsung sunyi senyap.

Galangan kapal ini sudah beroperasi sejak 1632. Compagnies Timmer en Scheepswerf (Bengkel Kayu dan Galangan Kapal Kompeni) ini berdiri di atas tanah urukan di tepi barat Kali Besar ketika Ciliiwung diluruskan mulai dari Pintu Kecil sampai ke Pasar Ikan.

Dalam buku Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun yang ditulis Adolf Heuken dan Grace Pamungkas, tertulis bahwa sampai penutupan Ciliwung di Glodok (1920), Kali Besar ini menyalurkan air Ciliwung ke Pasar Ikan . Tetapi kini hanya Kali Krukut yang mengalirkan air ke Kali Besar. Kebakaran besar yang terjadi pada tahun 1721 diyakini merusak sebagian kompleks galangan kapal.

Dalam buku itu penulis juga mengungkapkan, galangan kapal digunakan untuk memperbaiki kapal-kapal besar dan kecil. Walaupun sejak tahun 1618 perbaikan kapal besar sudah dipusatkan di Pulau Onrust, perkakas kerja, material, dan tukang tetap diatur dari galangan kapal. Tempat ini juga berfungsi sebagai penyimpanan sebagian besar barang keperluan bengkel.

Sumber: Warta Kota, Senin, 29 September 2008.

Mengembalikan Pasar Senen sebagai Ratu dari Timur

Friday, October 20th, 2006

Oleh: Pingkan Elita Dundu

Bau busuk, pesing, dan kotoran ayam menyengat tercium ketika kaki melangkah memasuki Blok III, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di pasar basah itu, para pedagang memotong ternak ayam untuk dijual kepada konsumen. Kotoran, kulit, dan bulu ayam terserak di mana-mana di pasar daging itu.

Tumpukan sampah, genangan air kotor dan berbau, serta lalat yang beterbangan mengerubuti hampir setiap tempat di seputar lokasi itu.

Kesan kumuh, bau, kotor, sumpek, panas, tidak terurus, atau tidak terawat bukan hanya di Blok III. Kondisi semua blok, mulai dari I sampai VI, tidak berbeda jauh. Bahkan sewaktu mendekati tangga di Blok V ke arah pasar onderdil, tercium pula bau pesing. Begitulah kondisi Pasar Senen di Jakarta Pusat saat ini.

Kejahatan dan premanisme

Kondisi seperti itu sangatlah jauh berbeda dengan kawasan Senen saat zaman penjajahan. Pada awal abad lalu Pasar Senen sangat terkenal, malah sempat pula dijuluki Queen of the East (Ratu dari Timur) yang jauh lebih tersohor dari Singapura.

Tidak hanya vila indah menghiasi kawasan tersebut, tetapi juga banyak pertokoan Tionghoa dan tangsi tentara. Kawasan itu menjadi tempat wandelen alias “makan angin”.

Sampai dengan zaman Ali Sadikin memimpin Jakarta, kawasan Senen masih tertib dan menjadi tempat elite berbelanja. Setelah itu, lambat laun mulai terjadi pergeseran, baik itu tata guna, tata ruang, maupun tata kuasa. Berbagai kepentingan masuk sehingga kawasan itu tidak terpelihara dan menjadi kumuh.

Pedagang kaki lima tumbuh seperti jamur. Kawasan yang dulunya tertata dengan baik menjadi semrawut. Tidak salah kalau kemudian orang selalu mengidentikkan Pasar Senen dengan kesemrawutan, kejahatan, dan premanisme. Citra itu terus melekat dan sulit dihapus.

“Saya baru sekali datang ke Pasar Senen, tetapi tidak mau lagi ke sana. Kayak ’Sodom dan Gomora’ (istilah untuk sarang berbagai kejahatan),” kata Yoan, mahasiswi S-2 Universitas Indonesia, Jakarta.

Kondisi Pasar Senen sangat memprihatinkan. Tidak memberikan rasa aman dan jauh dari rasa nyaman.

Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya mencatat, kondisi eksisting Blok I sampai VI memiliki 4.982 pedagang (resmi) dengan jenis dagangan lebih dominan arloji, emas, perlengkapan TNI, tekstil, dan garmen. Selain itu, juga elektronik, toko buku, alat tulis kantor, pasar tradisional, dan pasar kue subuh.

Para pedagang menempati 6.677 kios (artinya ada satu pedagang memiliki lebih dari satu kios) dengan luasan 41.922 meter persegi.

Direktur Utama PD Pasar Jaya Prabowo Soenirman selaku pengelola Pasar Senen mengatakan, kondisi yang tidak aman dan nyaman itulah yang mengharuskan kawasan itu harus ditata kembali.

Ke depan, katanya, Pasar Senen akan menjadi pasar modern yang bersatu dengan stasiun kereta api dan terminal bus kota serta pusat perbelanjaan Atrium Senen.

“Pembangunannya dengan konsep transit oriented development, yakni memanfaatkan sistem dan sirkulasi transportasi umum (kereta api, busway, dan angkutan umum lainnya),” ujar Prabowo. Kawasan itu nantinya tidak hanya difungsikan untuk pusat belanja semata, tetapi juga ada hunian (apartemen). Harapannya, aktivitas di kawasan itu akan hidup sepanjang hari.

Dalam konsep itu, akan dilakukan pemisahan antara akses pejalan kaki dan jaringan lalu lintas yang ada. Caranya, dengan membangun ruang pejalan kaki seperti area pedestrian dan jalan layang (skywalk) pada posisi level 2-3 bangunan.

Kepala Humas PD Pasar Jaya Nurman Adhi mengatakan, kawasan itu akan diberi nama Senen Jaya. Pembangunannya akan melibatkan PD Pasar Jaya sendiri, PT Pembangunan Jaya, dan PT Real Propertindo.

Gagasan menata kembali kawasan Senen mulai mengemuka pada Mei 2004, berkaitan dengan rencana PD Pasar Jaya menata kembali pasar-pasar tradisionalnya. Rencana itu diawali dengan sayembara oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat, dan pembangunannya dilakukan tahun 2005. Namun, sayang, selain pelaksanaannya mundur, hasil sayembara ternyata juga tidak teradopsi.

Rampung dalam 18 bulan

Setelah tertunda hampir satu tahun, proyek tersebut akhirnya mendapat titik terang. Prabowo mengatakan, bulan November 2006 renovasi akan segera dimulai, dan diperkirakan selesai dalam 18 bulan atau tahun 2008 dengan nilai proyek Rp 3 triliun.

“Renovasi akan tetap jalan meskipun pembangunan lokasi binaan bagi pedagang kaki lima tertunda,” kata Prabowo.

Selama pelaksanaan pembangunan kembali Blok I, II, dan III, para pedagang akan ditempatkan sementara di Blok IV, V, dan VI. Setelah selesai tahap I, lanjutan proyek itu untuk membangun tahap II, yaitu Blok IV, V, dan VI.

Menelaah konsep penataan Pasar Senen, terbayang kawasan itu akan hidup kembali dan menjadi Queen of the East. Keseriusan membenahi kawasan itu harus sejalan dengan pengawasan dan penertiban dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelola pasar. Jangan sampai setelah ditata, kawasan itu akan kembali kumuh dan penuh preman.

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2006