Archive for the 'Tulisan' Category

Warisan Kolonial dan Studi Kolonialisme

Tuesday, April 6th, 2004

Oleh: Tanti Johana

Semua pasti setuju dengan pernyataan ini bahwa, tidak ada bangsa yang mau dijajah. Dicopet mungkin hal kecil yang bisa dianalogikan dengan dijajah. Tidak ada yang bisa disalahkan jika seseorang kecopetan, kalau menyalahkan satu hal, pasti akan diikuti dengan menyalahkan yang lainnya. Jadi tidak akan tercapai sebuah titik temu.

Dijajah meskipun hal itu tidak mengenakkan tetapi itulah yang dialami oleh bangsa Indonesia. Diakui atau tidak, dibenci atau dicintai, telah terjadi inkulturasi antar budaya-budaya yang ada, pendokumentasian, pelestarian dan peninggalan produk-produk kolonial bisa ditemukan di berbagai daerah dan dalam berbagai segi kehidupan manusia.

Kegunaan warisan kolonial
Setelah penjajah pergi dari tanah air, bukan berarti bahwa tindakan penggusuran, penghapusan, penggantian nama elemen-elemen pembentuk budaya kolonial dapat sepenuhnya dibenarkan. Karena representasi kolonial yang berupa karya sastra, kesenian, arsitektur, gaya hidup dan lain lain, selain dapat dipelajari sebagai budaya kolonial yang berdiri sendiri juga dapat dianalisa untuk mempelajari ideologi Kolonialisme yang diterapkan di Indonesia.

Studi kolonialisme adalah sebuah studi baru yang mempelajari bagaimana kolonialisme diterapkan pada suatu bangsa, studi yang mempunyai tiga tokoh sentral, Edward Said, Homi K. Bhaba, dan Gayatri Chakravorty Spivak hadir untuk menandingi pandangan barat yang selama ini telah menguasai “masyarakat timur”. Kajian-kajian budaya tentang kolonialisme telah banyak hadir dalam wacana dunia membuka mata para peneliti untuk menganalisis strategi yang diterapkan oleh pemerintah kolonial dan fenomena kolonialisme yang hadir, meskipun banyak negara bekas jajahan negara lain, tapi tidak dapat dikatakan bahwa metode yang dipakai satu negara penjajah sama dengan negara penjajah lain.

Berbesar Hati dan Berpikir Panjang
Kebesaran hati dan berpikir panjang adalah sikap yang diperlukan untuk bisa menerima sesuatu yang telah ada meskipun pada awalnya tidak setuju, tapi bukan berarti apatis, tidak melakukan apa apa, melainkan kebesaran hati dengan kesadaran bahwa peninggalan sejarah harus dilestarikan. Tidak semua karya-karya individu yang hadir dalam masa pemerintahan kolonial dapat dikategorikan sebagai “karya yang salah” atau “tidak sesuai dengan budaya Indonesia”, karena sampai saat ini masih berdiri karya-karya yang “ternyata” sesuai dengan lingkungan Indonesia.

Dengan tetap dijaga dan dilestarikannya warisan budaya kolonial yang ada otomatis kemudahan perolehan data-data fisik tentang proses kolonisasi di Indonesia masih terbuka lebar.

Jakarta 06 April 2004

Sastra Indis

Sunday, March 21st, 2004

Oleh Tanti Johana

Jika anda masih ingat Paul Bettany yang memerankan dokter Stephen Maturin dalam film Master and Commander: The Far Side of the World tentu tidaklah sulit membayangkan bagaimana sebuah kekayaan alam jaman dulu didokumentasikan. Sesampainya kapal HMS Surprise pimpinan Kapten Jack Aubrey di kepulauan Galapagos, dokter Stephen Maturin dengan sangat antusias mengumpulkan berbagai jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan, memasukkannya ke dalam keranjang dan bermaksud membawanya untuk diteliti dan digambar. Gambaran tindakan dokter Stephen Maturin membantu kita memahami bagaimana kekayaan alam abad lampau didokumentasikan.

Mungkin dengan metode yang serupa pula flora dan fauna kepulauan Maluku didokumentasikan oleh Georg Rumphuis. Menurut catatan sejarah tidak hanya flora dan fauna saja yang didokumentasikan oleh para ahli pada jaman itu, tetapi juga lingkungan sosial budaya dan situasi Nusantara, seperti yang dikerjakan oleh François Valentijn dan Rijklof van Goens. Indahnya pemandangan tak disia-siakan untuk dilukis oleh Nicolaus de Graaff dan Cornelis de Bruijn.

Novel Indis
Munculnya bacaan, selain berhubungan dengan teknologi percetakan juga berkaitan erat dengan kemampuan dan minat baca masyarakat pada saat itu.

Teks-teks pertama yang beredar untuk masyarakat Hindia Belanda terbit pada tahun 1617 berbahasa Melayu berhuruf latin dan dicetak di Belanda. Kemudian East Indies Company mendirikan percetakan di Batavia yang menghasilkan teks-teks sastra, ilmu pengetahuan dan religi dalam bahasa Belanda, Portugis dan Melayu, tiga bahasa yang paling populer pada masa itu.

Novel Indis dapat disebut “masih muda” jika dibanding dengan lamanya orang Belanda berada di Indonesia. Novel Indis lahir pada akhir abad ke-19 seiring dengan berkembangnya jumlah wanita Belanda yang semakin meningkat, selain dipublikasikan dalam bentuk buku, novel Indis juga ditampilkan berserial dalam koran-koran Hindia Belanda berbahasa Belanda, bahkan ada yang dipublikasikan di Belanda pula lalu dicetak ulang di Jawa.

Banyak sekali kemungkinannya kenapa novel Indis baru muncul pada akhir abad ke-19, antara lain karena sebelum abad ke sembilan belas tidak banyak wanita Belanda yang ada di Indonesia, dalam sejarah, membaca selalu dikaitkan dengan suatu kesenangan milik perempuan kalangan terpelajar, meskipun begitu di Indonesia penulis perempuan baru muncul pada kisaran tahun 1890-an. Konon kabarnya budaya membaca telah ada di Belanda sejak bertahun-tahun yang lalu, mungkin para wanita Belanda itu yang membawa budaya membaca novel di Indonesia ? Masih terbuka penelitian dalam hal ini.

Meskipun novel Indis ditujukan hanya untuk kalangan yang bisa berbahasa Belanda saja takdapat dipungkiri bahwa karya sastra ini merupakan salah satu wujud kebudayaan Indis yang mengisahkan kehidupan di Hindia Belanda pada jamannya. Darinya dapat diambil gambaran kehidupan pada jaman lampau dalam hal ini semasa Kolonial.

Jakarta, akhir Maret 2004