Archive for the 'Kota Lama' Category

Kho Haw Haw, Pelestari Budaya Banten

Sunday, September 2nd, 2007

Liputan6.com, Banten: Muhammad Iwan Nitnet alias Kho Haw Haw mencoba melestarikan budaya Banten dengan caranya sendiri. Sejak 2000, dia bekeras mengumpulkan ribuan koleksi foto kegiatan budaya di Banten. Iwan kerap jalan sendirian untuk memotret benda cagar budaya atau kegiatan masyarakat. Mulai dari pedalaman Suku Badui hingga daerah pesisir di Pontang, Serang.

Kunjungan Iwan ke suatu objek bisa berkali-kali. Ini untuk melihat perubahan dari situs atau cagar yang dia amati. Iwan prihatin dengan kerusakan atau pengrusakan cagar budaya di Banten. Sejumlah cagar budaya sudah berubah bentuk atau fungsi.

Seperti Benteng Speelwijk di kawasan Banten Lama, Serang. Tempat itu kerap dipakai pementasan hiburan. Sementara di bagian dinding Benteng banyak terdapat paku. Karena itu, Iwan menentang komersialisasi benda cagar budaya atau situs Banten Lama.

Iwan melihat, kesadaran menjaga cagar budaya oleh pemerintahan masih setengah hati. Ini bisa jadi karena pemerintah daerah menghadapi dilema. Di satu sisi harus menjaga cagar budaya, sedangkan di sisi lainnya dana terbatas. Karena itu, Iwan mengajak masyarakat sekitar untuk peduli terhadap pelestarian.

Selain memotret dan menulis, Iwan juga melukis serta membuat suvenir yang terkait dengan budaya Banten. Lukisan orang-orang Badui, misalnya, Iwan ambil dari koleksi fotonya. Bagi Iwan, melukis merupakan kegiatan lain dari pelestarian budaya.

Untuk membiayai seluruh kegiatannya, Iwan merogoh koceknya sendiri. Dia menyisihkan keuntungan dari usaha sanggar lukis yang dikelolanya bersama sejumlah seniman jalanan. Ini dilakukan demi menggali budaya Banten, terutama sejarahnya. Sebab, sampai saat ini ungkap Iwan, masih terjadi simpang siur tentang budaya serta sejarah Banten. “Karena itu, kita ingin cari jalan tengahnya sebagai klarifikasi sehingga bisa menjadi satu paparan yang jelas,” kata Iwan, belum lama ini.

Saat ini, Iwan menjalani hidup bersama Lia Muliasih, sang istri, dan putri semata wayang mereka, Imosa Budika. Bagi Iwan, keluarga menjadi pendorong hidup serta penyemangat kerja sehingga dapat bermanfaat untuk orang lain. Sebagai warga keturunan Tionghoa, Iwan berprinsip, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. “Di mana saya berada, di situ saya akan membela mati-matian tanah yang saya pijak,” tegas Iwan.

Bagi Iwan, budaya adalah akar dari segalanya. Dia menjadi kolektor benda-benda kuno peninggalan zaman kesultanan Banten, seperti uang koin, keramik, dan keris. Dia sengaja membeli benda-benda kuno tersebut agar tidak hilang atau diburu oleh kolektor dari luar Banten.

Jika suatu saat Provinsi Banten memiliki museum sendiri, Iwan akan menyerahkan seluruh koleksinya agar dapat disaksikan dan dipelajari oleh masyarakat. Melalui budaya, Iwan akan tunjukkan dirinya bangga menjadi warga Banten.(BOG/Agus Faisal dan Ariel Maranoes)

Sumber: Liputan6, 2 September 2007

Sisa-sisa Kemegahan Batavia

Friday, March 9th, 2007

Oleh: Neli Triana

Di antara jalanan aspal yang berlubang-lubang mengepulkan debu, di tengah panas terik mentari, mata terus mencari-cari lokasi Museum Bahari, salah satu tempat tujuan wisata di kawasan kota tua di Jakarta Utara.

Bangunan kokoh dari tembok tebal itu ternyata tersembunyi di dalam gang, bersisian dengan Pasar Ikan. Di depannya berdiri Menara Syahbandar. Rombongan sesama peminat situs-situs bersejarah dari Sahabat Museum telah cukup lama menunggu sambil menikmati suasana pada Minggu (4/3) pagi pukul 09.00.

Dipandu sejarawan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIPB) Universitas Indonesia (UI), Lilie Suratminto, kami berjalan dari kompleks Menara Syahbandar menuju Museum Bahari. Setiap peserta telah dibekali minuman air mineral dan roti buaya khas Betawi.

Lilie yang menekuni Program Studi Belanda di FIPB UI fasih menjelaskan segala hal berkaitan dengan Museum Bahari, yang letaknya dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

“Bangunan Museum Bahari ini awalnya berupa dua gedung bekas kantor perdagangan dan gudang rempah-rempah milik Belanda yang dibangun pada tahun 1652, masa-masa awal kedatangan mereka di Jakarta. Hingga kini, Museum Bahari telah mengalami beberapa perubahan dan tahun perubahan dapat dilihat di pintu-pintu masuk, di antaranya tahun 1718, 1719 dan 1771,” kata Lilie.

Gudang itu juga disebut Westzijdsch Pakhuizen atau gudang- gudang bagian barat sungai. Pada mulanya bangunan itu berfungsi sebagai gudang rempah-rempah, seperti lada, teh, kopi, juga pakaian. Tembok yang mengelilingi museum adalah bagian dari pembatas kota Jakarta (city wall) asli dari zaman Belanda. Bahkan, gapuranya didatangkan dari Amsterdam.

Diresmikan Ali Sadikin

Museum Bahari diresmikan 7 Juli 1977 oleh Gubernur Ali Sadikin. Di ruang-ruang dalam museum, pengunjung dapat menyaksikan berbagai jenis kapal dari seluruh daerah di Indonesia, dilengkapi dengan gambar dan foto-foto pelabuhan pada masa lalu. Di depan museum, terdapat Menara Syahbandar yang dibangun pada 1839 untuk mengawasi kapal masuk dan keluar Pelabuhan Sunda Kelapa.

Lilie menunjukkan koleksi unik di museum ini, yaitu sejarah keberadaan Pulau Onrust, salah satu pulau di Kepulauan Seribu, lengkap dengan miniatur pulau. Pulau ini dahulu kala digunakan Belanda sebagai benteng dan galangan kapal, tempat perbaikan kapal yang rusak.

Untuk mengunjungi museum, tidaklah sulit. Dari Stasiun KA Jakarta Kota, pengunjung dapat mengambil kendaraan umum mikrolet 015 jurusan Kota-Tanjung Priok, turun di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kendaraan pribadi dapat juga diparkir di kawasan ini dan perjalanan lalu diteruskan dengan berjalan kaki.

Sepanjang jalan, di depan museum, terdapat kios-kios Pasar Ikan yang menjual aneka kerang dan barang-barang laut. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari Senin-Kamis mulai pukul 08.00-14.00 dan Jumat hingga pukul 11.00, serta Sabtu buka hingga pukul 13.00. Tarifnya, untuk umum Rp. 2.000, pelajar Rp. 1.000. Kalau datang berombongan lebih dari 20 orang, tarif akan lebih murah.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Berwisata murah meriah terus berlanjut hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa, yang kini menjadi pelabuhan bongkar muat barang. Setiap hari, para buruh pelabuhan sibuk naik turun membongkar muatan kapal, seperti aktivitas menurunkan kayu yang berasal dari Kalimantan. Di dermaga, berjajar kapal-kapal pinisi atau bugis schooner dengan bentuk khas, meruncing di salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal.

Pelabuhan Sunda Kelapa sebenarnya telah akrab berhubungan dengan bangsa-bangsa lain sejak abad XII. Kala itu, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada milik kerajaan Hindu di Jawa Barat, Pajajaran.

Kapal-kapal asing yang singgah dan berdagang dengan pedagang lokal, antara lain, berasal dari China, Jepang, India Selatan, dan Arab. Mereka berlabuh dan membawa berbagai barang, seperti porselen, kopi, sutra, kain, wewangian, kuda, anggur, dan zat warna guna ditukar dengan rempah-rempah yang jadi kekayaan Tanah Air saat itu.

Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang tiba di Sunda Kelapa pada 1512 untuk mencari rempah-rempah yang amat diminati dunia Barat. Keberadaan mereka ternyata tidak berlangsung lama. Gabungan kekuatan Kerajaan Banten dan Demak dipimpin Sunan Gunung Jati atau dikenal dengan nama Fatahillah menguasai Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta atau kemenangan yang nyata pada 22 Juni 1527.

Sunda Kelapa hanya sepi sesaat dari gangguan bangsa barat. Belanda tiba tahun 1596 dengan tujuan yang sama, yaitu mencari rempah-rempah. Rempah-rempah menjadi komoditas andalan. Para pedagang Belanda awalnya mendapat sambutan hangat dari Pangeran Wijayakrama.

Namun, hubungan mesra tersebut buyar saat Belanda mengingkari perjanjian perdagangan dan mendirikan benteng di selatan Pelabuhan Sunda Kelapa. Lambat laun, hubungan pun berubah menjadi penjajahan.

Benteng tersebut dibangun tahun 1613, sekitar 200 meter ke arah selatan Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada 1839, di lokasi itu didirikan Menara Syahbandar yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara menempati salah satu bastion (sudut benteng), sekaligus menandai monopoli perdagangan di Nusantara.

Kini kawasan sekitar kompleks bangunan bersejarah itu penuh permukiman tak teratur, cenderung kumuh, dan di banyak tempat ditemukan tumpukan sampah. Menara Syahbandar tampak memprihatinkan dengan jendela kayu yang jebol dan bangunan mulai miring.

Padahal, kompleks kawasan bersejarah itu termasuk dalam perencanaan pembangunan koridor sejarah Jakarta yang dicanangkan sejak masa Ali Sadikin. Berkali-kali pemimpin Jakarta berganti, gagasan revitalisasi kota tua termasuk di dalamnya realisasi pembangunan koridor sejarah Jakarta, hanya sebatas rencana di atas kertas.

Sumber: Kompas, 09 Maret 2007