Archive for the 'Bangunan Lama' Category

Yang Tersisa dari Toko Buku Pertama di Batavia

Tuesday, April 21st, 2009

KOMPAS.com — Kalibesar di abad silam riuh dengan berbagai kegiatan ekonomi. Sebagai kawasan yang dibelah kanal dan dekat dengan pelabuhan, maka wajar saja demikian. Pasar pun bertumbuhan. Sebut saja pasar unggas, pasar bambu, dan pasar pisang. Yang disebut belakangan ini menjadi nama lain dari sebuah kawasan, yaitu Kalibesar Timur. Mengapa disebut pasar pisang, belum ada buku yang mengisahkan tentang itu. Tapi bisa jadi karena di seputaran Jalan Cengkeh (kini) yang letaknya dekat dari Jalan Kalibesar Timur itu terdapat pasar buah, salah satunya pisang.

Kali ini bukan pasar pisang yang ingin dibahas, tapi soal keberadaan toko buku pertama di Batavia. Di ujung Jalan Kalibesar Timur 3 dan Kalibesar Timur (di seberang Jalan Cengkeh), masih berdiri bangunan tua. Kira-kira letaknya ada di pojok kiri kalau kita melihat dari Jembatan Middelpunts ke arah selatan. Jembatan ini menghubungkan Jalan Kunir, Jalan Kalibesar Timur 3, Kalibesar Timur, Jalan Kalibesar Barat, Jalan Kopi, dan Jalan Roa Malaka.

Toko buku di bawah nama G Kolff & Co ini sudah mulai menjadi toko buku pada tahun 1848 di Buiten Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Selatan). Sebetulnya, Kolff datang belakangan karena pemilik perusahaan ini semula bernama Willem van Haren Noman. Tahun 1850, Gualtherus Johannes Cornelis Kolff tiba dari Holland dan bergabung dengan Noman. Tahun 1858, Noman kembali ke Belanda, maka selanjutnya Kolff sendirilah yang menjadi pemegang perusahaan.

Di tahun 1860, perusahaan percetakan dan penerbitan buku ini membeli tanah di lokasi yang sekarang karena dinilai lebih menguntungkan, seharga 28.000 gulden. Di sinilah kantor pusat perusahaan G Kolff & Co berada hingga 1921 ketika Kolff membeli tempat yang lebih luas di Jalan Pecenongan. Toko buku milik Kolff juga sudah ada di Noordwijk (Jalan Juanda) sejak 1894.

Kolff juga menjadi penyokong koran beken di masanya, 1850-an, Java Bode yang berafiliasi dengan koran De Locomotief (Semarang) dan Het Soerabaiasche Handelsblad (Surabaya). Di tahun 1885, Kolff bahkan membidani terbitnya koran yang lebih dari 50 tahun menemani warga di Batavia, Bataviaasch Nieuwsblad.

Tahun 1930, perusahaan ini makin berkibar ketika Ratu Belanda memberikan hak pada Kolff untuk menggunakan kata Koninklijke sehingga nama perusahaan itu menjadi NV Koninklijke Boekhandel en Drukkerij G Kolff & Co. Perusahaan ini menjadi penyedia buku-buku pendidikan terbesar di Hindia Belanda. Perusahaan ini bertahan hingga lebih dari satu abad, kini sudah tak ada lagi.

Membahas kisah-kisah sejarah Batavia di abad ke-19 khusus soal perusahaan penerbitan terbesar yang ditulis Scott Merrillees, seorang rekan, berkomentar, “G Kolff & Co itu sama seperti Kompas Gramedia-lah, kalau sekarang ini,” ujarnya. (WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto)

Sumber: Warta Kota, 21 April 2009

Stasiun Tanjung Priok Kembali Beroperasi

Monday, April 13th, 2009

indosiar.com, Jakarta – Setelah ditutup selama 9 tahun Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara kembali beroperasi. Senin (13/04/09) pagi, kereta pertama telah diberangkatkan dari stasiun yang dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1914. Meski telah beroperasi kembali namun serangkaian perbaikan jalur kereta hingga sarana umum masih terus dilakukan.

Dengan gaya art deco Stasiun Tanjung Priok ini dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1914. Kejayaan stasiun ini pudar setelah PT Kereta Api memutuskan tidak mengoperasikannya lagi pada tahun 2000 karena tidak adanya biaya. Pasalnya biaya operasional lebih tinggi daripada pendapatan.

9 tahun terbengkalai tidak mampu membuat keindahan Stasiun Tanjung Priok memudar. Setelah direnovasi dengan dana APBN, stasiun ini kembali menunjukkan kemegahannya. Mulai Senin pagi, tepatnya pukul 09.30 WIB, Stasiun Tanjung Priok kembali beroperasi.

Kereta pertama yang diberangkatkan adalah kereta lokal tujuan Cikampek. Meski telah beroperasi kembali, namun PT Kereta Api terus melakukan serangkaian perbaikan. Diantaranya perbaikan rel kereta yang bantalannya telah rapuh dimakan usia serta perbaikan berbagai fasilitas umum.

Rencananya rel kereta yang menghubungkan Stasiun Jakarta Kota dan Tanjung Priok yang telah lama terputus akan disambung kembali sehingga KRL Tanjung Priok – Bekasi yang akan beroperasi di stasiun ini dapat dihubungkan ke Stasiun Jakarta Kota. (Deni Trianto/Waluyo Adi Susanto/Sup)

Sumber: Indosiar pada Fokus, 13 April 2009.