Archive for the 'Benteng' Category

Vastenburg Jati Diri Kota Solo

Thursday, February 19th, 2009

Benteng Vastenburg di Kota Solo, Jawa Tengah, adalah jati diri Kota Solo yang harus dilestarikan. Sejarah kelam di balik benteng peninggalan Belanda (1755) ini akan menjadi pelajaran bagi generasi mendatang karena keberadaannya menjadi simbol benteng terakhir nasionalisme.

Pendapat itu mengemuka dalam acara dialog publik bertema ”Cagar Budaya untuk Publik” yang diadakan dalam rangka hari jadi ke-264 Kota Solo di Balaikota Solo, Selasa (17/2).

Sebagai narasumber adalah Prof Eko Budihardjo dari Universitas Diponegoro, Semarang; Marco Kusumawijaya, Ketua Dewan Kesenian Jakarta; Widya Wijayanti, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia; Haryo Sasongko, Direktur Perkotaan Departemen Dalam Negeri; dan Gutomo, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Dialog publik tersebut mendapat sambutan antusias dari peserta yang mewakili warga kampung di Solo.

Polemik tentang Benteng Vastenburg muncul sejak November 2008 ketika ”pemilik” benteng berencana mau membangun hotel bertingkat 13 dan mal di atas situs yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Tukar guling

Pada tahun 1991, benteng seluas 5,4 hektar ini oleh TNI ditukargulingkan dengan pihak swasta dan kini dikapling- kapling di delapan instansi berbeda.

Eko Budihardjo memaparkan, sebuah kota adalah karya seni sosial sekaligus ”panggung kenangan” yang menyimpan memori seluruh warganya.

”Menghilangkan memori tadi merupakan dosa besar,” ujar Eko. Ia menambahkan, Benteng Vastenburg mampu menjelaskan bahwa kota ini pada masa lalu mengalami penjajahan Belanda, maka benteng itu sebenarnya merupakan jati diri sejarah Kota Solo.

Eko bersama Prof Sidharta pada tahun 1987 diminta oleh PT Benteng Perkasa Utama untuk membuat rancangan tata bangunan di atas situs benteng. Namun, hasil rancangannya ditolak pihak investor.

Menurut dia, Vastenburg memiliki akar kultural. Karena itu, sesuai pedoman Bank Dunia, upaya penyelamatannya dinilai strategis mengingat keberadaannya bisa menjadi modal sosial yang besar.

Ali Syaifullah dari Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) menegaskan, Vastenburg harus dikembalikan kepada negara.

”Di dalam benteng tersebut prajurit-prajurit kita pernah dipenjara, disiksa, dan dibunuh. Justru dari benteng inilah anak cucu kita bisa belajar tentang sejarah bangsa kita yang kelam. Kalau benteng ini sampai lepas dan menjadi hotel atau yang lain, kita akan kehilangan sejarah tersebut. Maka, benteng ini jelas merupakan simbol nasionalisme dan patriotisme kita yang terakhir,” ujarnya.

Ali minta agar dilakukan rekonstruksi terhadap Benteng Vastenburg dengan tujuan mengembalikan bangunan-bangunan yang pernah ada, seperti kantor, penjara, gudang amunisi, dan tangsi.

Namun, Sitta Laretna Adhisakti, moderator diskusi, menyatakan sulit melakukan rekonstruksi mengingat minimnya data. Ia mengatakan, etika arsitektur serta Piagam Kyoto 1994 melarang rekonstruksi yang tidak sesuai dengan aslinya.

Gutomo dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala menyebutkan bahwa benteng tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi karena itu pemanfaatannya kembali harus memerhatikan pesan sejarah yang bisa diakses oleh publik.

Namun, data tentang arsitektur bangunan tersebut tidak akurat. Bahkan, benteng tersebut hanya menyisakan bangunan pagar tembok luar.

”Kalaupun kita mau memanfaatkan sekarang, ibaratnya hanya tinggal kulitnya saja,” katanya. (ASA)

Sumber: Harian Kompas, 19 Pebruari 2009.

Ironi Kuta Bedah Malang

Friday, February 13th, 2009

Oleh: Bagus Suryo

Ketika peninggalan sejarah tak punya makna, arca-arca itupun jadi sasaran lelucon.

Adalah sebuah parit kuno berukuran 800 meter x 12 meter, dengan ceruk sedalam 5 meter, yang dulu menghubungkan aliran Brantas dan Sungai Bangau di Kota Malang, Jawa Timur.

Parit itu memisahkan Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang, dengan Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing. Letaknya persis di dataran tinggi Kota Malang.

Dari tempat itu siapapun bisa leluasa mengedarkan pandangan ke arus deras Sungai Brantas atau sumpeknya permukiman di Kota Malang.

Thomas Stamford Raffles, penulis buku The History of Java, pernah berkunjung ke parit yang dinamakan supit urang atau kuta bedah tersebut.

Dia menyimpulkan, ada benteng yang ditinggalkan dan sempat dipakai sebagai persembunyian terakhir para pengungsi Majapahit.

Pada 1815, benteng itu masih berdiri dan mempertemukan kedua sungai. Lebarnya sekitar 23 meter dengan kedalaman 15 meter.

Parit itu sekarang sudah jadi TPU Kota Lama, disebut juga TPU Muharto.

Menurut sejarawan Blasius Suprapta, sudetan itu sesungguhnya pertahanan yang dibangun Singhasari -kerajaan besar abad ke-10- guna menghalau serangan dari pasukan Kediri.

Adapun kubur tua yang sudah menuturp rapar-rapat bekas parit adalah bekas lokasi alun-alun Singhasari.

Sedikit berpaling ke ujung makam, Blasius menunjuk setumpuk bata yang menandai bekas benteng pertahanan yang sudah runtuh. Inilah benteng yang disebut-sebut Raffles. Namun, saat Media Indonesia berkunjung, yang tampak hanyalah sisa-sisa tembok yang dibiarkan berserakan. Campur aduk dengan sampah rumah tangga dari permukiman yang berdiri tak jauh dari lokasi dan mengenyampingkan nilai sejarah dari lokasi tersebut.

Arca Butha
Berjalan sekitar 2 kilometer dari makam dan mengambil jurusan selatan, bisa juga dijumpai pepunden atau pesarean milik Eyang Sentono.

Sesosok patung Dwarapala atau arca Butha berdiri seakan mengawal makam.

Arca eksotis tersebut lebih sering berperan sebagai penjaga pintu masuk candi. Tapi di makam Eyang Sentono, tampilannya berbeda.

Seseorang telah melumurkan cat hitam dan kuning, juga memoleskan cat merah di bibir Butha. Batu andesit yang menunjukkan keaslian arca menjadi pudar.

Satu kilometer dari pesarean ini ada lagi pesarean Eyang Sribuk yang berlokasi di kompleks makam RT 03 / RW 10 Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang.

Di tempat ini, kondisi arca dan patungnya sama memprihatinkan karena warga setempat memoleskan semen hingga menutup seluruh bagian patung dan arca.

Ya, bekas pusat pemerintahan Raja Ken Arok itu telanjur disulap menjadi pemukiman. Sejumlah peninggalan penting yang terselip menjadi kepingan puzzle yang belum bisa dirangkai kembali.

Selain menyisakan reruntuhan benteng pertahanan, Singhasari juga menyisakan sebuah mata air di pingiran Sungai Bangau.

Sampai sekarang sumber air kuno itu masih digunakan warga untuk mandi dan minum.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, Sonny Wedhanto menyatakan sumber air minum itu kini diberi nama mata air Eyang Krisno.

“Sedangkan batu breksi yang terbuat berundak atau bersusun di pinggir Sungai Bangau sengaja dibuat untuk memudahkan penduduk yang hidup pada zaman Kerajaan Singhasari dalam memanfaatkan air di sungai tersebut,” imbuh Sonny.

Dia menjelaskan bahwa aliran Sungai Brantas berasal dari pegunungan di Kota Batu, sedangkan aliran di Sungai Bangau berasal dari Patirtan Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Pada masa Kerajaan Singhasari, kedua sumber air ini bermakna suci, tidak boleh ada yang mengotori.

Kondisinya jauh berbeda dengan saat ini, warga sesuka hati memanfaatkan sungai untuk mandi, cuci, kakus, dan menghempaskan sampah rumah tangga ke tengah aliran sungai itu.

Itu sebabnya, banyak sampah tersangkut di bebatuan serta menumpuk di bibir sungai hingga menimbulkan bau tidak sedap di bekas pusat pemerintahan Kerajaan Singhasari itu.

Survei yang sempat dilakukan oleh Ketua Dewan Daerah Walhi Jawa Timur Purnawan Dwikora Negara di Sungai Bangau menyebutkan bahwa sedikitnya ada 109 sumber mata air di lokasi tersebut.

“Tapi saat itu jumlahnya berkurang karena tergusur oleh permukiman padat penduduk.” (N-4).

Sumber: Harian Media Indonesia, 13 Pebruari 2009.