Archive for the 'Benteng' Category

Rakyat Solo “Membeli” Benteng Vastenburg

Saturday, February 21st, 2009

Walau merupakan saksi sejarah perkembangan Kota Solo, Benteng Vastenburg yang dibuat tahun 1745 oleh Baron van Imhoff kondisinya memprihatinkan, Sabtu (22/12). Selain sudah menjadi milik perseorangan, di areal benteng ini rencananya akan dibangun hotel.

Oleh Ardus M Sawega

“Melalui mengamen, kami hendak mengumpulkan uang untuk “membeli” kembali Benteng Vastenburg. Kami yakin dan optimistis, akan mampu membeli Benteng Vastenburg,” kata Murtidjono (58), Kamis (19/2), di Solo.

Menurut Murtidjono, Banteng Vasterburg kini berada di tangan swasta. Tidak seperti SBY yang serba tidak punya optimisme, para seniman terbiasa hidup penuh optimisme, walau makan saja mungkin susah.

Ucapan Murtidjono soal optimisme dan Benteng Vasterburg dengan gaya cengengesan itu langsung disambut dengan tepuk tangan meriah.

Mantan Kepala Taman Budaya Jawa Tengah itu memimpin beberapa seniman untuk mbarang alias mengamen di Warung Pecel Wong Solo di Jalan Mr Supomo, Solo, Kamis (19/2) siang. Di teras warung itu, yang biasa digunakan kelompok siteran, mereka mengamen. Di dinding terpasang poster bertuliskan “Pengumpulan Dana untuk 'Membeli' Kembali Benteng Vastenburg”.

Suasana warung pecel yang biasanya nyaman dan tenteram itu mendadak agak gaduh dengan kehadiran enam personel pengamen amatir yang biasanya nongkrong di Wisma Seni TBS. Mengusung dua gitar akustik, satu gitar elektrik dan jimbe, mereka menyuguhkan lagu-lagu bergaya rock, baik dalam bahasa Jawa maupun Indonesia.

Lagu-lagu yang dibawakan dengan ketukan (beat) yang dinamis membuat orang ikut menggeleng-gelengkan kepala atau bertepuk tangan. Kodok, Cunong, Janthit, Murtidjono bergantian bernyanyi. Di antara mereka, Kodok Ibnu Sukodok panggilan akrab mantan Bengkel Teater Yogya ini membawakan lagu-lagu karyanya sendiri seperti “Padang- padang Bulan” yang merefleksikan hidup yang getir lewat vokalnya yang serak tetapi berkarakter.

Janthit Rusharjanto menjelaskan, acara ngamen rakyat Solo ini akan berlangsung di berbagai tempat di Kota Solo. Minggu (22/2) pagi, mereka akan tampil di depan Kantor KPU, Kompleks GOR Manahan. Selain itu, ada rencana untuk berkeliling di berbagai kota seperti Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bandung.

“Aksi ngamen ini sebagai sikap keprihatinan rakyat Solo yang tak rela Benteng Vastenburg dimiliki oleh swasta. Benteng itu adalah simbol perjuangan bangsa Indonesia menghadapi penjajahan Indonesia karena itu harus kembali kepada negara,” ujarnya.

Selama 1,5 jam ngamen di Warung Pecel Wong Solo, mereka mengumpulkan uang Rp 364.000. Uang tersebut akan masuk ke rekening bank dan setiap kali mendapat uang dari hasil ngamen akan diumumkan di media massa.

“Kalau ditanya target aksi ini apa? Ya, kami baru akan berhenti jika terkumpul dana Rp 600 miliar, seharga Benteng Vastenburg itu,” ujar Janthit.

Dia menegaskan, aksi itu lebih bersifat simbolik dengan tujuan menggugah solidaritas warga masyarakat untuk bersama-sama tergerak semangat nasionalismenya. Alasannya, Benteng Vastenburg memiliki nilai sejarah yang tinggi.

“Bukan untuk membeli kembali Benteng Vastenburg. Benteng itu bukan milik swasta atau siapa pun melainkan milik negara. Kalau kami membeli berarti kami mengakui ada pemiliknya (swasta),” kata Janthit.

Menurut Janthit, dalam waktu dekat pihaknya bekerja sama dengan Aliansi Penyelamat Aset Negara mengadakan diskusi soal Benteng Vastenburg di Kantor YAPPHI Solo.

Sumber: Harian Kompas, 21 Pebruari 2009

Walikota Tantang Penggalang Dana Vastenburg

Friday, February 20th, 2009

Oleh Suharsih

Solo (Espos)–Walikota Solo, Joko Widodo menantang siapa saja yang ingin menjadi koordinator penggalangan dana untuk membeli kembali lahan Benteng Vastenburg dari tangan pemiliknya. Dia menyatakan siap memberi orang tersebut surat keputusan (SK) sebagai pegangan.

Hal itu dikatakan Jokowi saat ditanya pendapatnya mengenai upaya yang dilakukan sejumlah anggota Komite Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) yang mengamen Rumah Makan Pecel Solo, Mangkubumen, Banjarsari, Kamis (19/2), guna menyelamatkan Benteng Vastenburg.

“Ya itu bagus. Mana? Kalau ada yang mau menjadi koordinator penggalangan dana untuk Vastenburg, siapa saja, saya akan beri dia SK,” kata Jokowi, saat berbincang dengan wartawan di rumah dinas Walikota Loji Gandrung, Jumat (20/2).

Ditanya kapan kira-kira pihaknya bisa menyelesaikan polemik tersebut, dia mengaku belum bisa memastikan. Menurutnya, lebih baik masalah itu dibiarkan mengalir. Dia mengatakan tidak mau tergesa-gesa mengambil keputusan.

Terpisah, Sekretaris KPCBN, Rusharjanto, sebagai salah satu anggota KPBCN yang menggagas upaya penggalangan dana dengan mengamen, saat dimintai tanggapannya tentang tantangan Walikota itu mengatakan, sangat menyambut baik jika Walikota memang memiliki komitmen semacam itu. Namun demikian, untuk menerima SK dari Walikota sebagai koordinator, pihaknya harus bertemu dulu dengan Walikota dan meluruskan argumentasi di balik penggalangan dana itu.

Menurutnya, penggalangan dana itu bukan semata dilakukan untuk membeli lahan Benteng Vastenburg, melainkan untuk upaya-upaya penyelamatan. Rus mengatakan, pihaknya tidak pernah mengakui benteng itu sebagai milik pribadi sehingga tidak perlu dibeli.

“Penyelamatan itu bisa dengan membangun kawasan itu, atau cara-cara lain yang tujuannya mengembalikan Vastenburg sebagai milik publik,” jelasnya, saat dihubungi Espos, Jumat. Dia menambahkan dari penggalangan dana Kamis lalu, pihaknya berhasil mengumpulkan Rp 364.000.

Demikian pula yang dikatakan penasihat KPCBN, Ali Sjaifullah. Kepada Espos, Ali mengatakan, pihaknya tidak pernah mengakui benteng itu sebagai milik siapapun. Karena kepemilikan benteng itu masih perlu ditinjau ulang legalitasnya.

Sumber: Harian Solo Pos, 20 Pebruari 2009