Archive for the 'Kritik Arsitektur' Category

Mentang-mentang di Menteng

Saturday, February 26th, 2005

COBA ingat-ingat, ada berapa banyak sih lapangan olahraga di kota besar ini. Warga yang seneng berolahraga sehat dan gerak badan tentu rada-rada kaget mendengar berita mengenai rencana pembongkaran Stadion dan Lapangan Persija Menteng seluas 3,4 hektar itu. Lapangan di daerah mahal itu akan diubah menjadi taman sekaligus ada sarana olahraga ringan, rekreasi keluarga, parkir, dan fasilitas lain semisal kafe dan lainnya. Pokoknya tahun 2006 nanti, lapangan bekas Voetbalbond Indiesche Omstreken atau Viosveld buatan tahun 1920 ini bakal rata dengan tanah dan menjadi taman yang entah bakalan terawat atau menjadi taman asongan kaki lima.

Rencana perubahan stadion menjadi Taman Menteng yang mendadak sontak ini kayaknya mengundang rasa curiga. Juru bicara Persija menyatakan, lapangan itu milik klubnya sejak tahun 1928. Kini tiba-tiba Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pertamanan mengumumkan hal itu tanpa kasih kabar duluan sama Persija. Malah pemprov pun menyatakan, kalau Stadion Lebak Bulus sudah diambil alih dari Grup Bakrie, akan menjadi markas Persija berikut 30-an klub olahraga lainnya.

Rasa kesal dan tidak puas itu disebabkan staf Persija merasa bahwa orang pemprov itu bersikap “mentang-mentang”, atau “karena merasa” menjadi pejabat, ya bersikap seenak-enaknya bongkar pasang tanpa ngajak pihak yang ketiban langsung. Lagi pula, kata staf itu, kalau sudah ada proyek, biasanya bakalan ada saja hal-hal lain yang mengikutinya. Lagian, selama ini Persija tidak pernah minta- minta ke pemprov meski Gubernur Sutiyoso sendiri kan pernah jadi Ketua Umum Persija yang kemarin.

Ujung-ujungnya soal stadion jadi taman itu, anggota DPRD DKI Jakarta ikut ditanya-tanya juga. Secara samar-samar, salah satu dari 75 orang dewan itu bilang, proyek ini harus diwaspadai karena jangan-jangan mentang-mentang punya kuasa, pemprov berniat mengakal-akali perubahan Stadion Persija menjadi taman. Siapa tahu nanti stadion sudah rata dengan rumput, tahu-tahu muncul taman hiasan yang dikelilingi pertokoan mewah dan restoran kafe kelas Menteng yang elite.

KOMENTAR wakil rakyat yang bawaan curiga itu juga di-timpalin rekan sekantornya. Kata wakil rakyat satu ini, soal stadion jadi taman sebaiknya pemprov mengoordinasikannya dengan Persija. Sebab, selama ini, meski pemprov pernah memberikan dana bantuan sebesar Rp 20 miliar, duit gede itu langsung diberikan kepada tim yang bal-balan di Liga Mandiri tahun lalu. Uang itu tidak pernah masuk ke kas Persija.

Pertanyaan dan minta pendapat terhadap orang dewan sudahlah jamak mengingat mereka itu kan 75 orang pilihan yang ngewakilin 8,5 jutaan suara warga kota ini. Sebab, kaum legislatif dari DPRD DKI belakangan ini terkenal amat kritis dan selalu skeptis terhadap tindak tanduk kaum eksekutif, khususnya Pemprov DKI. Sebab, selama tahun 2005 ini saja, orang dewan itu sudah menelurkan aturan dan larangan soal asap rokok serta asap knalpot karena kepulan asap-asap itu menurunkan kualitas hidup manusia dan lingkungannya. Malah hampir-hampir saja, orang dewan itu menjebolkan adanya aturan pembatasan operasional usia kendaraan umum dan mobil pribadi.

Jadi, haraplah maklum, kalau orang dewan itu pas sekali menampung unek-unek warga yang diwakilinya. Sebab, bos terhormat DPRD DKI itu baru saja ketiban rezeki, menerima tunjangan perumahan bulanan sebesar Rp 15 juta, atau Rp 180 juta per tahun, sebagai bonus di luar gaji Rp 21 juta per bulan dan macem-macem tambahan lainnya. Nah, sebagai warga terhormat dengan gaji segitu, janganlah bersikap “mentang-mentang” juga ya. Apa iya! (BD)

Sumber: Kompas, Sabtu, 26 Februari 2005

Vandalisme Arsitektur

Monday, January 31st, 2005

Penulis: HAWA AROFAH

JIKA melihat kasus pembongkaran bangunan-bangunan kuno bersejarah yang telah lama menjadi hiasan khas bagi suatu kota, kesan yang muncul adalah kekerasan arsitektur terhadap kota. Seolah-olah kota telah dilukai, atau bahkan dihancurkan. Hal ini tentu bukan sekadar mengada-ada. Sebab, bangunan kuno bersejarah merupakan wajah kota yang membedakannya dengan kota-kota lainnya.

Nilai sejarah pada bangunan kuno di suatu kota akan lenyap jika sudah dilakukan pembongkaran yang sangat sulit dan bahkan mustahil untuk diganti lagi. Jika pembongkaran bangunan kuno bersejarah dimaksudkan sebagai syarat pembangunan, misalnya, akan didirikan bangunan baru yang lebih megah, tetap saja tidak akan bisa mengembalikan nilai sejarah yang telah telanjur lenyap.

Dengan demikian, tindakan pembongkaran terhadap bangunan kuno bersejarah, dengan maksud untuk mendirikan bangunan baru yang lebih megah atau lebih modern, merupakan wujud vandalisme arsitektur yang harus diprotes keras.

Tentu saja protes keras dalam hal ini berdasarkan sejumlah alasan.

Pertama, setiap bangunan kuno bersejarah merupakan aset wisata yang bisa dikembangkan dan semakin lama akan semakin bernilai. Meski nilai fisiknya sangat rendah, nilai spiritnya sangat tinggi. Dan di banyak tempat, pariwisata selalu semarak karena adanya bangunan kuno bersejarah. Misalnya, Menara Kudus cuma tumpukan bata (yang ternyata mudah ditiru dan kini duplikatnya ada di mana-mana), tetapi jika dibongkar tentu akan menjadi puing-puing tak berharga lagi.

Kedua, setiap bangunan kuno berkaitan dengan sejarah lingkungan dan manusia di sekitarnya yang memiliki tali-temali dengan jalinan zaman yang harus dilestarikan. Di dalamnya terdapat mata rantai yang terus melingkari citra identitas suatu kota dan segenap warganya.

Selain itu, di dalamnya juga menyimpan memori-memori kenangan sebagai dinamika sentimental dan juga jejak perkembangan kultural. Maka, jika bangunan-bangunan kuno itu dibongkar, bisa menimbulkan gegar budaya bagi warga kota yang bersangkutan. Misalnya, jika Menara Kudus (atau Borobudur dan candi-candi lain) dibongkar, pasti akan menimbulkan duka dan luka yang tak tersembuhkan bagi masyarakat sekitarnya.

Ketiga, bangunan baru sebagai karya arsitektur. Jika didirikan dengan cara membongkar bangunan lama, merupakan kejahatan arsitektur terhadap arsitektur, yang bisa dianggap sangat brutal. Ibarat anak macan yang membunuh induknya, dia layak dianggap amat sangat buas dan luar biasa menakutkannya.

Keempat, bangunan kuno adalah guru bagi setiap arsitek. Maka, jika ada arsitek yang membongkarnya meski dengan tujuan untuk menggantinya dengan bangunan baru yang lebih megah, itu merupakan kesombongan yang akan menimbulkan sinisme dan bahkan kutukan. Ibarat murid yang sengaja membunuh guru, dia tidak bisa diampuni dan selayaknya terkutuk selamanya.

Kelima, bangunan kuno adalah warisan yang sangat berharga sepanjang dilestarikan dengan baik, dan sebaliknya menjadi warisan yang tak berharga jika dibongkar. Oleh karena itu, tindakan membongkar bangunan kuno merupakan kemubaziran dan ketidakmampuan menghormati dan menghargai karya para leluhur.

Asli

Alasan-alasan tersebut selayaknya dilembagakan di setiap kota sebagai bentuk upaya preventif menghindari pembongkaran bangunan-bangunan kuno bersejarah. Dan, semua pihak selayaknya memiliki kesadaran yang sama untuk melestarikan keaslian bangunan-bangunan kuno sebagai citra dan identitas kota di daerah masing-masing.

Kesadaran tentang pelestarian bangunan-bangunan kuno memang perlu dilembagakan agar tidak ada lagi bangunan kuno yang kehilangan keasliannya. Sejak kosakata “pembangunan” di dengung-dengungkan oleh Orde Baru hingga kini, sudah terlalu banyak bangunan kuno bersejarah yang tidak lagi asli. Renovasi sering dilakukan sangat ceroboh, bahkan identik dengan pelampiasan nafsu vandalistis.

Segala tindakan renovasi sah- sah saja dilakukan, selama tidak merusak keaslian bangunan kuno bersejarah. Sebab, seluruh bentuk dan warna asli bangunan kuno memiliki nilai sejarah yang tinggi, yang justru akan hilang jika dikutak-kutik. Misalnya, siapa pun tentu akan sangat menyayangkan jika Menara Kudus, Candi Borobudur, atau Candi Prambanan dipopok dengan adonan pasir-semen dan atau kemudian dicat warna- warni atau bahkan dilapisi marmer.

HAWA AROFAH Pemerhati Arsitektur dan Lanskap Kota

Sumber: Kompas, 31 Januari 2005