Archive for the 'Pelestarian' Category

Bandung Lestarikan 637 Bangunan Cagar Budaya

Friday, June 29th, 2007

BANDUNG, SELASA – Sebanyak 637 bangunan tua di Kota Bandung dipertahankan keberadaanya sebagai cagar budaya yang menjadi salah satu daya tarik wisata di Kota Kembang. “Ke depan tidak akan ada lagi pembongkaran atau perubahan fungsi bangunan cagar budaya di Kota Bandung sehingga keaslian Bandung tempo dulu masih bisa dinikmati,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, HM Askari di Bandung, Selasa (5/12).

Dari sejumlah bangunan tua itu, sebanyak 140 bangunan diantaranya termasuk bangunan yang paling wajib dilestarikan. Pemkot Bandung, lanjut Askari, saat ini tengah mempersiapkan Perda khusus untuk perlindungan bangunan-bangunan tua yang bersejarah di kota itu agar tidak terusik oleh proyek pembongkaran dan perubahan fungsi bangunan. “Kota Bandung akan menjadi kota ketiga di Indonesia yang punya Perda untuk bangunan tua dan bersejarah,” kata Askari.

Dua kota lainnya yang sudah memiliki Perda tentang bangunan bersejarah adalah DKI Jakarta dan Surabaya. Ia menyebutkan, kriteria bangunan cagar budaya itu salah satunya adalah peninggalan Belanda atau bangunan-bangunan yang punya nilai sejarah. “Banyak bangunan-bangunan yang punya sejarah atau pernah didiami oleh pelaku sejarah tempo dulu. Sebagian menjadi milik perorangan meski sebagian milik pemerintah,” kata Askari.

Pelestarian bangunan tua dan bersejarah di Kota Bandung saat ini ditangani oleh Bandung Harritage yang saat ini cukup aktif melakukan sosialisasi dan langkah-langkah untuk mempertahankan bangunan Bandung tempo dulu.

Beberapa kompleks bangunan Bandung Tempo dulu antara lain di bangunan Art Deco di sepanjang Jalan Braga, Museum Mandala Wangsit, Museum Geologi, Gedung Sate, Balaikota Bandung, Pendopo Kota Bandung, dan Gedung Merdeka. “Kesadaran masyarakat yang memiliki atau menguasai bangunan tua itu semakin baik dan cukup mendukung program pemerintah,” katanya.

Sementara ketika ditanya pengaruhnya terhadap kunjungan wisata mancanegara, menurut Askari pengaruhnya cukup besar terutama bagi wisatawan asal Belanda yang cukup banyak datang ke Bandung untuk melihat bangunan-bangunan yang dibuat oleh leluhurnya.

Sumber: Antara
Penulis: Ima

Sumber: Kompas, 29 Juni 2007

Bangunan Bersejarah di Pecinan Terancam Punah

Monday, July 24th, 2006

Jakarta, Kompas – Bangunan berlanggam Tionghoa di Pecinan kawasan Glodok-Pancoran, Jakarta Barat, terancam punah. Dalam pemantauan selama dua pekan terakhir hingga Sabtu (22/7), terlihat bangunan yang tersisa dalam keadaan kusam. Letaknya juga terimpit bangunan rumah toko modern yang tak memerhatikan estetika lingkungan.

Rumah kuno dari komunitas Tionghoa yang mulai bermukim di kawasan Glodok-Pancoran selepas tahun 1740 itu kini hanya tersisa di kawasan tertentu seperti di Blandongan, Toko Tiga, Pinangsia, Pasar Pagi, Jalan Perniagaan. Bangunan yang berasal dari abad XVIII-XIX itu tidak terkonsentrasi di satu lokasi.

Salah satu bangunan yang paling bersejarah adalah kediaman Keluarga Besar Souw, yakni keturunan Kapiten Souw Beng Kong. Souw Beng Kong adalah Kapitein der Chinezen pertama sekaligus peletak pembangunan kota Batavia modern yang kini menjadi Jakarta.

Saat ini bangunan rumah di dekat Pasar Perniagaan itu tidak menjadi pusat kegiatan wisata ataupun budaya. Lebih memprihatinkan lagi, sayap barat bangunan justru digusur untuk pembangunan Pasar Perniagaan. Yang tersisa hanya rumah induk dan bangunan sayap timur di atas lahan 5.000 meter.

Di dekat rumah keluarga Souw terdapat bangunan SMA Negeri 19 yang semula merupakan kompleks sekolah Ba Hua. Hingga tahun 1958, sekolah Ba Hua merupakan salah satu sekolah terbaik di Asia Tenggara dengan kurikulum Anglo-Chinese. Saat ini sekolah sezaman dengan kurikulum Anglo-Chinese seperti Ba Hua masih terdapat di Singapura dan Malaysia.

Bangunan tradisional yang masih dalam keadaan baik terdapat di Gang Batu dekat Jalan Perniagaan. Pada bangunan tradisional tersebut terpasang tulisan “Dijual” berikut nomor telepon agen yang menjadi perantara.

Sedang Didata

Menanggapi kondisi bangunan bersejarah di Pecinan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan menjelaskan, pihaknya kini sedang mendata bangunan tua di Pecinan terkait upaya revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta. Revitalisasi Kota Tua merupakan salah satu program unggulan Gubernur DKI Sutiyoso menjelang akhir masa jabatannya pada tahun 2007.

“Kami mengadakan survei awal secara quick scan pada tahun 2006 dan mendapati ada 40-an bangunan tua di kawasan tersebut. Banyak bangunan yang tidak masuk kategori A, tetapi sekarang sedang diupayakan konservasi dan pendataan lanjutan,” ujar Aurora.

Dia juga berjanji akan terus memperjuangkan konservasi Pecinan karena sejalan dengan prinsip heritage, yakni using the past for the future. “Ini berarti kami menginventarisasi bangunan tua dan mempertahankan bangunan bernilai sejarah yang turut membentuk wajah Kota Jakarta dalam wujud arsitektur Belanda, Inggris, langgam China, dan sebagainya tetap dapat dinikmati generasi mendatang. Walau fungsi bangunan itu mungkin sekarang berbeda dengan peruntukan pada masa lalu. Bangunan tua dijadikan modal sosial, ekonomi, dan budaya kini serta masa depan,” papar Aurora.

Salah seorang sesepuh warga Pancoran, Tian Li Tong, menyatakan, kalau bangunan tua yang tersisa tidak segera dikonservasi, dikhawatirkan sisa situs bersejarah di kawasan itu akan habis.

“Sayang daerah sini kurang mendapat perhatian meski penertiban Jalan Pancoran sudah dilakukan awal tahun,” kata Li Tong. (ong)

Sumber: Kompas, 24 Juli 2006