Archive for the 'Rumah Ibadah' Category

Gereja Katedral Ujung Pandang

Sunday, January 9th, 2005

Gedung gereja katolik tertua di kota Ujung Pandang dan wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara ini, didirikan pada tahun 1898, pada permulaan masa kedua (1892 – sekarang) kehadiran Gereja Katolik di Makassar (masa I : 1525 – 1668). Maka sejarah bangunan ini sekaligus merupakan sejarah Gereja Katolik di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Masa I : 1525 – 1668 pertama kali disinggahi 3 pastor misionaris asal Portugal (Pastor Antonio dod Reijs, Cosmas de Annunciacio, Bernardinode Marvao, dan seorang bruder) pada tahun 1525. Namun baru pada 1548 Pastor Vincente Viegas datang dari Malaka dan tinggal menetap di Makassar untuk melayani para saudagar Portugis yang Katolik serta beberapa raja dan bangsawan Sulawesi Selatan yang juga sudah dibaptis Katolik; saudagar kayu cendana Portugis, Antonio Payva, berhubungan baik dengan Raja Suppa dan Raja Pangkajene.

Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam (22 September 1603), Sultan Alauddin (1591-1638) dan beberapa raja penggantinya seperti Sultan Mohamed Said memberi kebebasan kepada orang-orang Katolik mendirikan gereja (1633). Atas anjuran Sultan, Bangsawan Karaeng Pattingaloang yang juga seorang intelektual banyak bekerja sama dengan misionaris, juga seorang intelektual banyak bekerjasama dengan misionaris, juga dalam bidang ilmu pengetahuan.

Milles seorang sejarawan yang tidak Katolik dalam catatannya pada tahun 1560, menulis bahwa ada sekitar 50.000 orang Katolik di pulau-pulau bagian timur.

Setelah Malaka jatuh ke tangan VOC (1641). 40 imam dan sekitar 20.000 orang Katolik diperintahkan meninggalkan Malaka; sekitar 3.000 orang dan beberapa Pastor pindah ke Makassar (1649). Demi monopoli dagang VOC (perjanjian Batavia, 19 Agustus 1660) mengharuskan Sultan Hasanuddin mengusir semua orang Portugis dari Makaasar (1661); Sultan mengatur dengan baik keberangkatan orang-orang Portugis itu, dan atas bantuan Sultan baru pada 1665 Pastor Antonio Francesco, pastor terakhir meninggalkan Makassar, dan Bruder Antonio Francesco, pastor teakhir meninggalkan Makassar, dan Bruder Antonio de Torres yang mengasuh suatu sekolah kecil untuk anak laki-laki meninggalkan Makassar pada 1668 karena pecahnya perang. Sejak itu selama 225 tahun, tidak ada pastor yang menetap di Makassar, orang-orang Katolik yang masih ada, hanya sekali-sekali dilayani dari Surabaya atau Larantuka.

Masa II: 1892 – sekarang. Tahun 1892, Pastor Aselbergssj, dipindahkan dari Larantuka menjadi Pastor Stasi Makassar (7 September 1892) dan tinggal pada suatu rumah mewah di Heerenwerg (kini Jl. Hasanuddin); 1895 di beli tanah dan rumah di Komedi straat (kini Jl. Kajaolalido, yang adalah tempat gedung gereja sekarang. Gereja dibangun pada tahun 1898 selesai 1900; direnofasi dan diperluas pada tahun 1939, selesai pada 1941 dengan bentuk seperti sekarang.

Pada Tanggal 19 Nopember 1919 misionaris Jesuit diganti oleh misionaris MSC, ketika dibentuk Prefektur Apostolik Sulawesi, dengan Mgr. Vesters sebagai prefek yang berkedudukan di Manado. Pada Tanggal 13 April 1937 wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara dijadikan Prefektur Apostolik Makassar oleh Sri Paus di Roma, dan dipercayakan kepada misionaris CICM, dengan Mgr. Martens sebagai prefek. Pada tanggal 13 mei 1948 menjadi Vikoriat Apostolik Makassar, dan tanggal 3 Januari 1961 menjadi Keuskupan Agung Makassar, sampai sekarang : Mgr. Nicolaus Martinus Schneiders cicm (1961 – 1973), Mgr. Dr. Theodorus Martinus Schneiders cicm (1973-1981), Mgr. Dr. Frans van Roessel cicm (1981/1988 – 1995), Mgr. Dr. John Liku-Ada pr. (1995 – sekarang). Sejak gereja ini menjadi Stasi dan Paroki (7 September 1892) sampai (19 Oktober 1997), ada 61 pastor yang pernah melayaninya (pastor paroki dan pastor pembantu), ada 14.860 orang baptis, dan 2567 pasangan pengantin diberkati di gereja ini

Sumber: http://www.geocities.com/capitolhill/5796/sejarah1.htm

Kelenteng Wan Ji Sie Jakarta

Friday, January 7th, 2005

Sejarah Kelenteng Sentiong (Kelenteng Kuburan Batu) atau Kelenteng Wan Jie Si, sama sekali berbeda. Kelenteng ini terletak di Jl. Lautze no. 38 dan dalam bahasa Indonesia disebut Vihara Buddhayana. Sejarah bangunan ini menjelaskan banyak segi unik dari kelenteng ini yang sama sekali tidak tampak seperti bangunan Tionghoa. Kenapa?

Pada tahun 1736 Frederik Julius Coyett, seorang anggota Dewan Hindia, mendirikan sebuah rumah peristirahatan dalam taman luas diluar Kota. Rumah ini dibangun disisi barat ‘Jalan raya ke selatan’ yang kini disebut Jalan Gunung Sahari. Pada tahun 1733 F.J. Coyett mengepalai sebuah utusan resmi ke Istana Susuhunan di Kartasura. Anggota rombongannya C.A. Lons, mengunjungi reruntuhan candi Prambanan dan dua patung Buddha dari Kalasan. Ia menghadiahkan patung- patung itu kepada tuannya, Coyett. Sumber lain mengatakan bahwa Coyett membawa patung-patung itu dari Srilangka juga. Ia memasang beberapa patung pada tembok rumah barunya, dan tempat lain dalam kebunnya yang luas. Patung-patung ini akan memainkan peranan penting dalam sejarah masa depan rumah ini.

Pada hari terakhir hidupnya (1736) Coyett yang tidak mempunyai anak menikah dengan G.M. Goossens, Wanita cantik dan kaya. Dia adalah janda M. Westpalm, yang batu nisannya dapat dilihat di Taman Prasasti. Tahun berikutnya Ny. Goossens menikah lagi dengan Johannes Thedens, Gubernur Jendral Batavia 1740-1743. Ny. Goossens menjual rumah dan kebun yang diwarisi Coyett itu beberapa tahun sebelum meninggal. Rumah besar itu berganti-ganti pemilik lagi sampai diperoleh oleh Gubernur Jendral Jacob Mossel (1761).

Pemilik rumah berikutnya Simon Josephe membeli rumah Sentiong sebagai obyek spekulasi semata. Ia menjualnya dengan harga mahal kepada Kapten Tionghoa Lim Tjipko. Dalam ‘Kronik Sejarah Tionghoa’ di Batavia dicatat:

Pada tahun 1760 kapten kaum Tionghoa bersidang bersama letnan-letnannya guna memperoleh pekuburan baru. Mereka meminta semua warga memberi sumbangan untuk mendapatkan ‘taman gubernur’ di Golong Sari (Gunung Sahari), dimana terdapat kelenteng Buddhis dengan banyak patung dari batu, yang dahulu dibuat oleh orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa bergembira, bahwa mereka dapat membeli tanah ini …

Pada tahun 1888 rumah ini menjadi milik resmi Gong guan atau ‘Dewan orang-orang Tionghoa’. Dua segi khas kelenteng ini perlu diperhatikan. Kelenteng ini semula dibangun sebagai rumah peristirahatan Belanda, dan kini dewa-dewa Hindu-Jawa disembah dalam sebuah kelenteng yang pada dasarnya Buddhis.

Karena rumah peristirahatan Belanda ini menjadi kelenteng Buddhis pada akhir abad ke-18, maka tiada lagi barang-barang antik, selain patung-patung tersebut yang mungkin berasal dari abad ke-8 atau ke-10.

Sebuah tambahan yang menarik pada Kelenteng Wan Jie Si ini telah dibongkar. Diseberang pintu masuk, dihalaman Club Indonesia AA, sejak awal abad ini pernah terdapat Kramat Kuda, sebuah keramat kecil, tempat pemujaan sinkretis. Sebuah patung Dewa Hindu Kuwera dari abad ke-10 ditemukan kembali di tempat ini pada tahun 1904 diantara akar-akar sebuah pohon besar. Pada tahun 70-an patung tersebut hilang begitu saja. Pada umumnya, barang-barang kuno yang bertalian dengan ibadat Hindu dan Tionghoa di Jakarta belum dipelihara dan dilindungi sebagaimana mestinya.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/wanjisie.htm