Archive for the 'Rumah Ibadah' Category

Chandra Nadi, Klenteng Tertua di Palembang

Monday, October 10th, 2005

Keberadaan Kampung Kapitan dan sejarah masyarakat China di Palembang tidak dapat dilepaskan dari tempat ibadat Tri Dharma Chandra Nadi atau dalam bahasa Mandarin disebut Klenteng Soei Goeat Kiang. Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.

Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.

Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membuka pintu neraka agar dapat memberi makan kepada arwah yang kelaparan.

Setelah altar Dewi Kwan Im, para pengunjung klenteng dapat melihat altar Sakyamoni Buddha (Sidharta Buddha Gautama), altar Bodhisatva Maitreya (calon Buddha), altar Dewi Kwan Tee (pelindung dharma), altar Dewi Paw Sen Ta Tee atau dewi uang dan pemberi rezeki. Kemudian altar Dewi Chin Hua Niang Niang atau Dewi Mak Kun Do, altar Giam Lo Ong (raja neraka), dan altar Dewa Toa Pek Kong berbentuk macan. Di bagian belakang klenteng terdapat satu altar yang berisi kumpulan berbagai patung titipan umat dan altar Ju Sin Kong, pelindung Kota Palembang dan diyakini beragama Islam.

Dewi penyembuh

Bagi mereka yang percaya, Dewi Kwan Im di klenteng ini dapat dimintai tolong untuk penyembuhan penyakit. Menurut Princeps, ada seorang umat yang menderita kanker rahang dan berdoa ke Dewi Kwan Im, lalu umat itu minta obat kepada petugas klenteng.

Obat diberikan dengan cara mengocok sekumpulan batang bambu kecil yang diberi nomor. Nomor yang terambil akan ditulis di kertas semacam resep untuk ditukarkan dengan racikan obat di toko obat yang ditunjuk.

Menurut Princeps, obat itu ternyata manjur dan mampu menyembuhkan umat yang menderita kanker rahang.

Sementara di altar Dewi Mak Kun Do, biasanya, disinggahi para wanita untuk meminta anak. Riana, warga Kenten, Palembang mengatakan, dia berdoa di altar Mak Kun Do untuk meminta anak laki-laki karena ia sering mendengar banyak doa minta anak dikabulkan.

Salah satu keunikan klenteng itu adalah ramalan nasib. Seperti untuk mendapatkan kesembuhan, umat perlu bersembahyang lebih dahulu sebelum mengocok ramalan nasib. Ramalan itu terdapat di bambu kecil yang diberi nomor. Setiap nomor yang keluar dari tempatnya, akan diambil dan dicocokkan dengan buku petunjuk ramalan.

”Selain itu Klenteng Chandra Nadi memegang peranan penting dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa. Pada zaman para kapitan masih memegang kendali, semua upacara hari raya besar, termasuk Imlek, diadakan di klenteng Chandra Nadi, dan diteruskan ke klenteng di Pulau Kemaro di Sungai Musi,” kata Princeps.

Bahkan, tradisi itu masih tetap diteruskan hingga sekarang. Masyarakat Tionghoa penganut Buddha, Tao, dan Konghucu, terutama yang mempunyai leluhur di Palembang selalu merayakan Imlek di Chandra Nadi dan dilanjutkan ke Pulau Kemaro.

Meskipun tetap berdiri utuh sampai sekarang, keberadaan klenteng Chandra Nadi bukan tanpa gangguan. Menurut Princeps, pada zaman Jepang, dua pesawat Jepang pernah mencoba mengebom klenteng itu karena dianggap sebagai basis gerakan bawah tanah masyarakat Tionghoa. Namun, tidak ada bom yang mengenai sasaran.

Pascatahun 1966, ketika kebencian terhadap masyarakat Tionghoa memuncak, sepertiga lahan klenteng diambil paksa untuk dijadikan Pasar 10 Ulu. Para pengurus klenteng tidak dapat berbuat apa-apa karena ada tekanan politik masa itu.

Ketika kerusuhan rasial pecah pada tahun 1998, massa juga sudah mulai bergerak untuk membakar klenteng tertua di Palembang itu. Namun, polisi dan masyarakat setempat berhasil menghadang gerakan massa sehingga mereka tidak sempat membakar apa pun.

Kini setelah 272 tahun berdiri, Klenteng Chandra Nadi tetap terbuka bagi setiap umatnya untuk beribadah. Sayang, jalan masuk ke klenteng itu melalui pasar tradisional yang kumuh dan macet sehingga turis akan kesulitan untuk mendatangi klenteng itu. (eca)

Sumber: Kompas, Senin, 10 Oktober 2005

Wisata Gereja Tua Jakarta – Menggali Memori lewat Rumah Ibadah

Sunday, January 9th, 2005

JAKARTA – Gereja tua bukan saja sebagai rumah Tuhan umat Kristiani, namun juga mampu berperan sebagai kenangan di tengah modernisasi kota. Dari situ, gereja tua bisa jadi pengorek memori histori yang andal. Itu sebabnya, pelestarian gereja tua perlu mendapat perhatian. Sayangnya gereja tua ini terkesan hanya sekadar pajangan. Pasalnya pada hari kerja hanya dikunjungi wisatawan asing saja.

Sebagian besar warga kota hanya memandang gereja tua sebagai rumah ibadah. Ibarat penyakit menahun, pandangan sempit ini tak pernah pupus dalam diri. Selalu saja membuka jarak dengan posisi gereja tua. Alhasil tak ada keinginan untuk bergaul lebih dekat. Padahal bila ditelusuri, gereja tua mampu menguak sepenggal kisah unik Jakarta.

Bila penasaran, silakan buka catatan sejarah tentang keberadaan gereja tua di Ibu Kota. Saat bedah ilmiah selesai, kenapa tak mencoba melihatnya dari dekat? Membuktikan apakah catatan itu masih valid, atau malah sudah harus direvisi. Dengan cara ini, dijamin kita bakal terseret ke dalam permainan sejarah metropolitan ini.

Gereja Sion bisa jadi contoh pembuka. Gereja yang terletak di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya ini punya segudang memori. Dari kisah pembuatan, kemegahan arsitektur hingga kiat bertahan di tengah laju modernisasi kota.

Adolf Heuken SJ – pengamat sejarah Jakarta – menyebutkan, dulu Gereja Sion ini disebut Gereja Portugis. Gereja ini punya nama Belanda, Portugeesche Buitenkerk. Artinya, Gereja Portugis di luar (tembok) Kota. Semasa Kompeni menguasai Batavia, dibangun tembok tinggi sebagai batas kota. Sampai awal abad ke-19 masih ada gereja Portugis lainnya, yang ada di dalam kota.

”Mulai tahun 1957, oleh sinode (rapat akbar), gereja ini resmi disebut Gereja Sion,” tutur Hadikusumo, kepala tata usaha Gereja Sion. Sion berasal dari bahasa Israel dan merupakan lambang bukit keselamatan. Jadi dipilih nama Sion dengan harapan, setiap jemaat akan diberkati sehabis beribadah di sini.

Gereja Portugis selesai dibangun pada 1695. Peresmian gedung gereja dilakukan pada hari Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas. Pembangunan fisik memakan waktu sekitar dua tahun. Peletakan batu pertama dilakukan Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693. Cerita lengkap pemberkatan gereja ini tertulis dalam bahasa Belanda pada sebuah papan peringatan. Sampai sekarang, masih bisa dilihat di dinding gereja.

Gereja dibangun dengan fondasi 10.000 batang kayu dolken atau balok bundar. Konstruksi ini berdasarkan rancangan Mr E. Ewout Verhagen dari Rotterdam. ”Seluruh tembok bangunan terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasir dan gula tahan panas,” cerita Hadikusumo, pria ramah asal Yogyakarta.
Bangunan berbentuk persegi empat ini punya luas total 24 x 32 meter persegi. Pada bagian belakang, dibangun bangunan tambahan berukuran 6 x 18 meter persegi. Gereja mampu menampung 1.000 jemaat. Sedang luas tanah seluruhnya 6.725 meter persegi.

Menurut Heuken, Gereja Portugis termasuk gereja bangsal (hall church). Gereja ini membentuk satu ruang panjang dengan tiga bagian langit-langit kayu yang sama tingginya dan melengkung seperti setengah tong. Langit-langit itu disangga enam tiang.

Interior
Boleh dibilang Gereja Portugis merupakan gedung tertua di Jakarta yang masih dipakai untuk tujuan semula seperti saat awal didirikan. Rumah ibadah ini masih memiliki sebagian besar perabot yang sama juga. Sudah pasti, gedung ini termasuk bangunan budaya yang amat bernilai. Dari catatan Heuken, Gereja Portugis pernah dipugar pada 1920 dan sekali lagi pada 1978.

Jika melongok ke bagian dalam, ada mimbar unik bergaya Barok. Salah satu perabot asli gereja ini merupakan persembahan indah dari H. Bruijn. Letaknya ada di bagian belakang bersama bangunan tambahan. Mimbar ini bertudung sebuah kanopi, yang ditopang dua tiang bergulir dengan gaya rias Ionic serta empat tonggak perunggu.

Beberapa kursi berukiran bagus dan bangku dari kayu hitam atau eboni masih juga dipakai. Dilengkapi meja kayu, kursi-kursi itu dipakai untuk kepentingan rapat gereja. Tak ketinggalan acara sidang pencatatan sipil bagi anggota jemaat yang akan menikah secara gerejawi.

Selain itu, ada organ seruling (orgel) gereja yang sampai sekarang masih terawat baik. Organ ini diletakkan di balkon yang disangga empat tiang langsing. Kata Hadikususmo, organ pemberian putri seorang pendeta bernama John Maurits Moor ini terakhir kali dipakai pada 8 Oktober 2000. Waktu itu, komponis Marusya Abdullah Nainggolan memainkan organ untuk mengiringi ibadah Minggu.

Gereja Sion dibangun sebagai pengganti sebuah pondok terbuka yang sangat sederhana. Pondok ini sudah tak memadai bagi umat Portugis yang berasal dari Malaya dan India untuk beribadah di zaman baheula itu. Sebagai tawanan, mereka ini dibawa ke Batavia oleh perusahaan dagang termasyhur, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) bersamaan dengan jatuhnya wilayah kekuasaan Portugis di India, Malaya, Sri Lanka, dan Maluku.

Dari catatan sejarah, Gereja Sion beberapa kali sempat terancam. Pada masa pendudukan Jepang, bala tentara Dai Nippon ingin menjadikan gereja ini tempat abu tentara yang gugur. Tahun 1984, halaman gereja menyempit karena harus mengalah pada kepentingan pelebaran jalan.

Soal perawatan, Hadikusumo hanya menyebut satu sumber, sumbangan para jemaat. Berkurangnya wilayah hunian sekitar gereja mau tak mau mengurangi sumber pendapatan. Itu sebabnya, Hadikusumo berharap ada campur tangan Pemerintah dalam memelihara gereja. Padahal, bila melihat buku tamu, setiap hari gereja yang dilindungi lewat SK Gubernur DKI Jakarta CB/11/1/12/1972 ini selalu dikunjungi wisatawan mancanegara. Kebanyakan mereka datang dari wilayah Eropa, seperti Belanda, Jerman, Spanyol, Austria, Prancis, Denmark, Swedia dan lainnya.

Dari Gereja Sion, kita bisa mengarahkan tujuan ke daerah Pejambon, tepatnya Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Di sini, ada sebuah gereja tua yang berdiri gagah di seberang stasiun kereta, Gambir. Gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan Umat Lutheran di Batavia ini disebut Gereja Immanuel.

Pembangunannya dimulai tahun 1834 dengan mengikuti hasil rancangan J.H. Horst. Pada 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan. Tepat empat tahun kemudian, 24 Agustus 1839, pembangunan berhasil diselesaikan.

Bersamaan dengan itu gedung ini ditahbiskan menjadi gereja untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda. Pada gedung gereja dicantumkan nama ”WILLEMSKERK”.

Gereja bergaya klasisisme itu bercorak bundar di atas fondasi tiga meter. Bagian depan menghadap Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar. Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis.

Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran konsentrik, yang mengelilingi ruang ibadah.

Lewat konstruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.

Organ yang dipakai berangka tahun 1843, hasil buatan J. Datz di Negeri Belanda. Sebelum organ terpasang, sebuah band tampil sebagai pengiring perayaan ibadah. Pada 1985, organ ini dibongkar dan dibersihkan sehingga sampai kini dapat berfungsi dengan baik.
(SH/bayu dwi mardana)

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2003/014/wis01.html