Archive for the 'Kampung Bersejarah' Category

Kampung Tugu, Menyimpan Kenangan Sejarah

Wednesday, April 28th, 2004

DI mana sebenarnya Kampung Tugu? Tempat lahirnya Keroncong Tugu itu terletak di sebelah timur Kota atau sebelah tenggara Tanjung Priok. Dari Cakung, lebih mudah menemukan lokasi itu, susuri saja jalan Cakung-Cilincing. Di kawasan berikat nusantara Cakung, di tengah kepungan pabrik dan ratusan kontainer, di sanalah letak Kampung Tugu. Kini, jalan yang melintas di depannya bernama Jalan Raya Tugu.

MENURUT warga sekitar, Kampung Tugu dulu bisa ditempuh melalui air. Orang biasa naik dari Pasar Ikan lalu menyusur pantai Cilincing, masuk ke Marunda dan belok melalui Kali Cakung hingga sampai ke Kampung Tugu. Sekarang, bingung arah rasanya jika harus melalui jalan air itu, apalagi sampan-sampan yang memasuki Kali Cakung tak berfungsi lagi sejak tahun 1942, sejak kedatangan Jepang.

Mengapa disebut Kampung Tugu? Menurut kabar, pada tahun 1878 di suatu tempat di Tugu, pernah ditemukan sebuah batu berukir yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Tugu. “Waktu itu, orang yang menemukannya merasa heran karena dalam batu seperti ada ceritanya, dari bahasa Sanskerta yang katanya ditulis oleh orang Hindu pada abad keempat. Karena itu, tempat ini akhirnya dinamakan Kampung Tugu,” jelas Fernando Quiko (57), seorang warga Kampung Tugu keturunan Portugis generasi ke sembilan.

M. Isa, pemandu wisata sejarah dari Museum Sejarah Jakarta, yang juga alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, mengatakan, Prasasti Tugu sebenarnya ditemukan di Sukapura, tepatnya di sebelah timur Pelabuhan Tanjung Priok, di selatan perkampungan orang keturunan Portugis Tugu.

Dalam Buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta terbitan Yayasan Cipta Loka Caraka 1997 karangan Adolf Heuken SJ, disebutkan bahwa Prasasti Tugu merupakan peninggalan arkeologis paling tua, yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat. Batu-batu besar serupa, yang bertuliskan nama Raja Purnawarman, ditemukan di tempat-tempat lain di Jawa Barat. Raja ini memerintah sebuah kerajaan yang disebut Taruma(negara). “Nama itu mungkin berkaitan dengan nama Ci-tarum, yang kini melalui Bendungan Jatiluhur dan bermuara di Laut Jawa, 20 kilometer timur laut dari Tugu,” tulis Heuken.

Di Kampung Tugu, saat ini masih tersisa orang keturunan Portugis. Beberapa rumah bergaya Betawi dengan sentuhan Portugis masih berdiri di sana, termasuk rumah yang pada tahun 1661 digunakan sebagai tempat berkumpul untuk berlatih Keroncong Tugu.

Fernando mengatakan, tahun 1661 awal mula kedatangan orang Portugis di Jakarta. “Dulu, semua orang di sini berbahasa Portugis dalam waktu cukup lama, diselingi bahasa Melayu kasar. Lalu, ada Pendeta Leideckers yang berdiam di Tugu tahun 1978. Dialah yang memperkenalkan bahasa Indonesia,” katanya.

GEREJA Tugu di Kampung Tugu saat ini masih berdiri tegak dengan bentuk bangunannya yang asli meski telah beberapa kali direnovasi. Sepintas, bentuk bangunannya memang sangat sederhana. Dinding gereja dicat putih, dengan jendela dan pintu berwarna coklat. Di depan gereja terdapat kuburan, konon, pendiri Gereja Tugu, Melchior Leydecker, dimakamkan di situ.

Gereja yang dibangun tahun 1678 tersebut awalnya terbuat dari kayu, namun lama kelamaan rusak dan lapuk. Tahun 1738, gereja diperbaiki dan disebut sebagai Gereja Tugu yang kedua. Lonceng yang dibangun di sisi gereja makin melengkapi penampilan gereja kedua ini.

Menurut Fernando, yang merujuk cerita beberapa kakek buyutnya, pembangunan Gereja Tugu yang ketiga dimulai pada tahun 1744. “Tahun 1940 ada pemberontakan China dan gereja dirusak. Waktu itu, Tugu tidak mempunyai gereja lagi. Saat itu, ada seorang Belanda bernama Yustinus Vienk yang menjadi tuan tanah di Cilincing. Di zamannyalah dibangun gereja yang ketiga,” paparnya.

Gereja ketiga dibangun tidak persis di lokasi semula, namun beberapa ratus meter dari gereja yang dirusak. Menurut beberapa warga, lonceng gereja yang ada saat ini adalah sama dengan lonceng yang dibuat bersama gereja kedua. Namun, menurut beberapa pemandu wisata sejarah dari Museum Sejarah, lonceng besar di sisi gereja saat ini bukan yang asli. “Lonceng ini sebenarnya tiruan, yang asli disimpan,” kata Ujo, seorang pemandu.

Bagi penikmat wisata sejarah, Gereja Tugu masih berdiri kokoh dan setiap hari Minggu dipenuhi nyanyian dari para jemaat warga sekitar.

Kampung Tugu menyimpan sejuta kenangan sejarah. Bahkan, di sana sempat dikenal juga beberapa makanan khas, seperti gado-gado tugu, dendeng tugu, dan pindang serani tugu. Yang paling kerap dibicarakan orang mengenai Kampung tugu, barangkali, adalah Keroncong Tugu (ejaan saat awal berdiri Keroncong Toegoe). Keroncong sendiri sebenarnya adalah alat bermain musik semacam gitar berdawai.

Fernando kembali bertutur. Menurut cerita yang dia dengar, keroncong yang pertama didatangkan ke Tugu dibuat di Portugis dengan bahan dari kayu Ahorn. Bentuknya mirip gitar, namun lebih kecil. Ada sebuah lagu sederhana yang kerap dimainkan saat terang bulan dan diberi nama Lagu-Kroncong, dalam bahasa Portugis dinamakan Moresco.

Ada lima jenis Keroncong Tugu, baik yang berdawai lima atau enam. Lambat laun, nama Keroncong Tugu dikaitkan dengan sebuah grup menyanyi. Tempat orang-orang Tugu zaman dulu bermain, kini dijadikan tempat untuk menyimpan jenis-jenis alat musik keroncong. Tempat itu ditinggali oleh seseorang yang juga masih keturunan Portugis.

Penasaran ingin melihat keroncong tugu? (Susi Ivvaty)

Sumber: Harian Kompas, Rabu, 28 April 2004

Luar Batang, Pemukiman Tertua di Jakarta

Sunday, July 20th, 2003

Oleh Alwi Shahab

Terletak di belakang Gedung Museum Bahari di jalan Pasar Ikan, sebuah kawasan kota tua di Jakarta Utara, terletak Kampung Luar Batang. Kampung yang persisnya terletak di Kelurahan Penjaringan ini merupakan pemukiman tertua di Jakarta mengingat perkiraan terbentuknya keberadaan pemukiman ini sejak tahun 1630-an. Dan kampung ini boleh dikata sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.

Pasalnya, di kampung ini terdapat sebuah masjid tua yang banyak didatangi pengunjung bukan hanya dari ibukota tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Peyebabnya, di Masjid Luar Batang ini terdapat makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Ia dimakamkam di masjid ini pada hari Kamis 27 Ramadhan 1169 Hijriah atau 24 Juni 1756. Alaydrus dikabarkan meninggal dunia saat masih bujangan.

Alaydrus yang menjadi guru agama di masjid yang kala itu letaknya berdekatan dengan benteng (kastil) VOC merupakan imigran dari Hadramaut. Ia adalah pendatang terawal sebelum para pendatang keturunan Arab lainnya kemudian ditempatkan di Kampung Pekojan, Jakarta Barat.

Jika mendatangi masjid Luar Batang pada malam Jumat kita akan mendapati ribuan peziarah yang datang dari berbagai tempat di Jawa dan Sumatera. Ini terlihat dari nomor polisi mobil-mobil yang diparkir di pintu gerbang depan Muuseum Bahari. Banyak diantara peziarah menginap di makam itu. Sepanjang malam para peziarah membaca ayat suci di depan makam almarhum.

Karenanya tidak heran bila jamaah salat subuh di hari Jumat meluber hingga ke pekarangan masjid. Menurut seorang kuncen di sini, para peziarab juga ada yang datang dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Itu sebabnya kalau keberadaan makam ini menarik perhatian para wisatawan yang ingin menyaksikan tempat-tempat bersejarah di ibukota. Sebuah jaringan televisi dari Yaman pun sempat melakukan liputan di kawasan masjid ini.

Kembali ke perkampungan Luar Batang, di abad ke-17 tidak lama setelah berdirinya VOC, pemukiman ini merupakan tempat persinggahan sementara para awak (tukang perahu) pribumi yang ingin masuk ke pelabuhan Batavia (Sunda Kelapa). Ketika itu, penguasa VOC menerapkan peraturan yang tidak mengizinkan perahu-perahu pribumi masuk ke alur pelabuhan pada malam hari. Demikian juga tidak boleh keluar pelabunan di waktu yang sama.

Selain itu, seluruh perahu yang keluar masuk harus melalui pos pemeriksaan. Pos ini terletak di mulut alur pelabuhan dan di sini diletakkan batang (kayu) yang merintangi sungai guna menghadapi perahu-perahu yang keluar masuk pelabuhan sebelum diproses. Setiap perahu pribumi yang akan masuk diperiksa barang muatannya dan senjata-senjata yang dibawa harus dititipkan di pos penjagaan. Sedangkan perahu-perahu pribumi yang tidak bisa masuk pelabuhan, di luar batang (pos pemeriksaan) harus menunggu pagi hari.

Ada kalanya mereka menunggu beberapa hari sampai ada izin masuk pelabuhan. Selama menunggu, sebagian awak perahu turun ke darat. Kemudian mereka membangun pondok-pondok sementara. Lambat laun tempat ini dinamakan Kampung Luar Batang, yakni pemukiman yang berada di luar pos pemeriksaan. Sekitar 1660-an, VOC mendatangkan para nelayan dari Jawa Timur dan ditempatkan di lokasi pemukiman Luar Batang. Pemimpin dari nelayan tersebut pada 1677 dianugerahi pangkat kehormatan Luitenant (letnan). Pemimpin itu bernama Bagus Karta.

Lokasi pemukiman Luar Batang sendiri sebelumnya merupakan daerah rawa-rawa. Lama kelamaan daerah ini teruruk oleh lumpur dari kali Ciliwung, terutama setelah berdirinya Kampung Muara Baru yang kini merupakan kawasan kumuh di dekat Luar Batang. Sejak masa VOC, penguasa kolonial yang sering mendatangkan tenaga kerja guna membangun pelabuhan dan kastil Batavia menempatkan para pekerja yang berdatangan dari berbagai daerah itu di Kampung Luar Batang.

Jadi, kondisi kekumuhan pemukiman tertua di Jakarta yang luasnya 16,5 hektare ini sudah berlangsung sejak awal masa VOC. Pasar yang ada di kawasan itu sendiri yang kemudian hingga kini dikenal dengan nama Pasar Ikan baru dibangun pada tahun 1846. Lokasi Pasar Ikan ini dulunya adalah laut.

Suatu malapetaka terjadi saat pembangunan perluasan dermaga pelabuhan Batavia. Kurang lebih 16 ribu pekerja meninggal dunia akibat penyakit menular yang berjangkit di lokasi pemukiman akibat tingkat kekumuhan yang melewati ambang batas. Warga Belanda sendiri pada awal abad ke-19 telah meninggalkan kawasan Pasar Ikan karena dianggap merupakan daerah tidak sehat dan menjadi sember penyakit yang menyebabkan kematian.

Saat aktivitas utama pelabuhan Sunda Kelapa dialihkan ke Tanjung Priok (1886) akibat pengdangkalan, lokasi pemukiman Luar Batang tetap padat. Ini dikarenakan kegiatan keluar masuknya perahu dan pelabuhan Pasar Ikan (Sunda Kelapa) yang sudah telanjur hidup.

Kalau saat ini kawasan Kampung Luar Batang masih sangat padat penduduknya karena lokasinya yang berdekatan dengan berbagai kegiatan nelayan, perdagangan ikan (lelang ikan berlangsung dari sore hingga pagi hari), pelabuhan Sunda Kelapa, industri dan perdagangan, serta aktivitas perkantoran dan perbengkelan.

Faktor lain penyebab kumuhnya kawasan ini karena adanya gelombang urbanisasi yang cukup besar akibat keamanan pada 1950-an dan 1960-an, seperti pemberontakan-pemberontakan DI/TII dan Kahar Muzakar. Kenyataan ini ditambah lagi dengan banyaknya orang dari berbagai daerah yang ingin mengadu nasib di Jakarta karena perputaran uang di Indonesia sekitar 80 persen tumplek di Jakarta.

Sumber: Harian Republika Minggu, 20 Juli 2003