Archive for the 'Kampung Bersejarah' Category

Komunitas Kaum Koja

Wednesday, August 10th, 2005

Di tengah hiruk-pikuk kawasan Glodok-Pancoran sebagai jantung Pecinan Jakarta, terdapat sebuah perkampungan Arab-India Muslim, yakni kampung Pekojan. Masjid berusia empat abad lebih dengan arsitektur khas, rumah tua berarsitektur Moor dengan nuansa Arab atau India, rumah beratap lengkung khas Tionghoa hingga toko-toko penjual bibit minyak wangi adalah suasana khas Kampung Pekojan.

Di salah satu sudut Pekojan di dekat Jalan Bandengan Selatan terdapat rumah bergaya Moor berwarna putih dengan aksen warna merah dan berpagar rendah milik keluarga besar Alatas yang terhitung kerabat dekat Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Rumah tersebut tampak kontras bersebelahan dengan rumah-rumah berarsitektur Tionghoa.

Bangunan itu merupakan salah satu situs sejarah Pekojan yang tersisa. Sedangkan di beberapa bangunan lain di dekat Masjid Langgar Tinggi terdapat rumah-rumah Moor dengan arsitektur atap bersusun. Di bagian dalam beberapa rumah terdapat hiasan keramik Belanda.

Sejarawan Adolf Heuken dalam buku Historical Sites of Jakarta menyebutkan, kawasan tersebut merupakan pusat komunitas kaum Koja dari India pada abad 17-18 Masehi sehingga dinamakan Pekojan.

Selanjutnya warga Arab dari Hadramaut bermigrasi ke Jakarta juga bermukim di situ. Nama-nama besar keluarga Alaydrus, Alhabsyie, Aljufrie, Attamimi, Assegaf, Alkadrie dan para habib adalah legenda hidup yang keturunannya beranak-pinak di Indonesia.

Sedangkan kaum Moor sebutan Eropa untuk India Muslim sebagian besar berasal dari pantai Koromandel India.

Langgar Tinggi

Selain berniaga, mereka juga melakukan syiar agama Islam dan membangun masjid-masjid yang berarsitektur unik. Rahim Bekend, warga asli Pekojan yang tinggal di Jalan Pengukiran 2, menjelaskan, warga India mendirikan Masjid Jami Kampung Baru di Jalan Bandengan Selatan 34 dan Masjid Jami Al Ansor di sebuah gang di Jalan Pengukiran 2, sedangkan warga Arab mendirikan Langgar Tinggi dan Masjid Annawier di Jalan Pekojan yang masih berdiri megah. Masjid Jami’ Kampung Baru, yang menurut Heuken, didirikan tahun 1748 masih menyisakan suasana kemegahan masa lalu dengan kubah masjid berarsitektur khas, seperti Masjid India yang kita dapati di Malaysia dan Singapura.

Kurang lebih seperti Masjid Kapten Keling di Penang, Malaysia yang juga berada di tengah-tengah Chinatown kota lama George Town.

Mimbar asli Masjid Jami Kampung Baru yang berukir indah kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Sedangkan interior asli yang tersisa adalah pilar utama, beberapa jendela dan ukiran Anggur.

Sayang di Masjid Jami Al Ansor tidak banyak jejak bangunan asli yang tersisa. Solihin, warga di sebelah masjid, mengakui sudah banyak renovasi yang dilakukan sehingga bentuk asli tidak tersisa.

Heuken mencatat, masjid itu didirikan warga asal Malabar, wilayah pantai timur India. Tetapi setahun sekali, keturunan komunitas India tersebut pasti datang sewaktu Lebaran ke masjid tersebut.

Lain lagi masjid warga Arab, salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW dari pasangan Ali dan Fatimah, yakni keluarga Said yang bernama Abdullah bin Hussein Alaydrus, membangun Masjid Annawier yang megah di tahun 1760.

Tiap tahun tanggal 27 Ramadhan, seluruh keturunan Arab di Jabotabek dan daerah lain pasti berkumpul di masjid ini. (ong)

Sumber; Kompas, Rabu, 10 Agustus 2005

Kampung Arab yang Tak Lagi Jadi Kampungnya Orang Arab

Monday, May 17th, 2004

KAMPUNG Pekojan di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, sampai sekarang masih dikenal sebagai Kampung Arab atau kampungnya orang Arab. Padahal, saat ini hanya beberapa gelintir orang keturunan Arab saja yang masih tinggal di Pekojan. Pekojan bahkan didominasi oleh etnik Tionghoa karena lokasinya yang dekat Glodok.

Yang paling menonjol dan dikenal di Kampung Arab adalah masjid-masjid kunonya yang sampai sekarang masih dimanfaatkan untuk beribadah kaum Muslim. Masjid Ar-Roudhoh yang diduga tertua, dibangun pada awal abad ke-17, sampai kini masih berdiri meski tidak sekokoh dulu.

Ada lagi Masjid Al-Anshor yang dibangun tahun 1648, lalu Masjid An-Nawir yang dibangun tahun 1760, Masjid Langgar Tinggi yang dibangun tahun 1829, dan Masjid Zawiah yang dibangun tahun 1874.

Alwi Shahab, penulis dan pemerhati sejarah yang juga keturunan Arab, mengatakan, pada tahun 1950-an sekitar 95 persen penduduk Pekojan masih keturunan Arab. Mereka berpindah tempat ke Condet, Jatinegara, Tanah Abang, Depok, hingga Bogor. “Arab yang di sini semuanya datang dari Hadramaut, provinsi di Yaman Selatan,” kata Alwi.

Ihwal datangnya orang Arab ke Pekojan, menurut Alwi, tidak lepas dari campur tangan Belanda. Waktu itu, orang Arab memang banyak yang merantau ke Indonesia untuk berdagang. Mereka datang melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Pemerintah Belanda yang berkuasa pada waktu itu lalu memaksa orang Arab tersebut tinggal berkelompok di Pekojan. “Belanda sengaja memecah belah orang Arab dengan orang Tionghoa yang tinggal di Glodok. Padahal, sebenarnya hubungan mereka baik-baik saja,” katanya.

Prof Dr LWC van den Berg, orientalis Belanda yang meneliti Pekojan pada tahun 1884-1886, menyebutkan, Pekojan lebih dulu dihuni orang Benggali dari India. Pekojan berasal dari kata “koja”, sebutan untuk Muslim India yang datang dari Benggali.

Sejumlah gedung dan rumah di Pekojan dibangun dengan gaya Moor. Banyak pula yang bergaya Betawi, atau Portugis bercampur China. Salah satu rumah bergaya Betawi yang berusia lebih dari satu abad saat ini dilestarikan Pemerintah Provinsi DKI sebagai salah satu benda bersejarah yang dilindungi. Rumah milik Abdurrahman Alatas (70-an) ini panjangnya 60 meter dan lebarnya 20 meter. Dulu, sewaktu dia kecil, sekeliling rumahnya masih berupa semak belukar, dan di depan rumahnya terdapat kali yang saat ini menjadi Jalan Pengukiran III.

MASJID An-Nawir di Jalan Raya Pekojan boleh dikatakan paling populer. Masjid seluas 1.983 meter persegi ini disebut pula Masjid Pekojan. Pendirinya adalah Syarifah Fatimah yang meninggal tahun 1897 dan dimakamkan di kanan masjid. Ada pula beberapa makam lain di sekeliling masjid, antara lain makam Komandan Dahlan dan H Abdul Mu’thi bin H Musyaffa’. “Masjid telah beberapa kali direnovasi, terakhir tahun 2002. Namun, tiang, kubah, dan menaranya masih asli,” kata Abdullah Awab, pengurus masjid.

Masjid Langgar Tinggi seluas 385 meter persegi dibangun dengan gaya Portugis bercampur China. Menurut Ahmad Alwi Assegaf, warga RT 02 RW 01, yang juga keturunan Arab generasi keenam, selain untuk tempat ibadah, langgar juga dijadikan tempat kumpul-kumpul dan bercengkerama.

Ada satu lagi yang menjadi ciri khas Pekojan, yaitu jembatan kambing. Dulu, menurut cerita, jembatan itu selalu dilewati kambing-kambing yang didatangkan dari luar kota. Kambing-kambing itu memang khusus disediakan warga untuk dikonsumsi. “Dulu hanya ada dua penjual kambing di sini, salah satunya kakek buyut saya. Buyut saya dagang kambing berbarengan dengan masuknya orang Arab ke sini. Saat ini, ada empat penjual kambing di sini,” kata Budi, penjual daging kambing.

Ahmad, penjual daging kambing lain, mengatakan, empat penjual yang ada di Pekojan hanya meneruskan usaha nenek moyang yang sudah turun-temurun. “Langganan kami ya mulai dari tukang sate hingga ibu rumah tangga,” katanya.

Orang Arab memang gemar makan daging kambing. “Tapi tetap sehat,” kata Abu Bakar, pengurus masjid yang mengaku setiap hari makan daging kambing. (IVV)

Sumber: Harian Kompas, Senin, 17 Mei 2004.