Archive for the 'Kampung Bersejarah' Category

Rawa Bangke dan Jaga Monyet yang Hilang dari Peta Jakarta

Friday, May 11th, 2007

Oleh: Mulyawan Karim

Sampai dengan tahun 1960-an, di Jatinegara, Jakarta Timur, ada kampung bernama Rawa Bangke. Tetapi, coba cari tempat itu di peta sekarang. Hasilnya pasti nihil.

Nama Rawa Bangke yang terkesan seram tak ada lagi. Mungkin supaya terdengar lebih manis, nama kampung itu telah berganti menjadi Rawa Bunga. Sebutannya pun bukan lagi kampung, tetapi kelurahan.

Padahal nama Rawa Bangke ada ceritanya. Menurut cerita rakyat Betawi, nama itu berasal dari zaman penjajahan Inggris, waktu pasukan Inggris berusaha merebut Jakarta atau Batavia dari tangan Belanda, awal tahun 1811. Dalam pertempuran sengit di daerah Jatinegara, yang waktu itu masih bernama Meester Cornelis, banyak tentara Inggris meninggal. Mayat-mayat atau bangkai mereka terlihat bergelimpangan di rawa. Warga sekitar lantas menyebut rawa itu dengan nama Rawa Bangke.

Versi lain menyebut, nama Rawa Bangke berasal dari masa abad ke-18 Masehi. Daerah rawa itu diberi nama demikian setelah di sana banyak ditemukan mayat orang China pemberontak yang jadi korban pembantaian pasukan Belanda. Catatan sejarah menyebutkan, sekitar 10.000 warga Batavia keturunan China tewas dalam aksi pembunuhan besar-besaran yang terjadi pada Oktober 1740 itu.

Legenda Jaga Monyet
Nasib Kampung Jaga Monyet sama saja. Kampung dengan nama itu, yang pernah ada di daerah Petojo, Jakarta Pusat, tak jauh dari Harmoni, kini juga sudah raib dari peta Jakarta. Jalan yang dulu bernama Jalan Jaga Monyet pun sudah berganti menjadi Jalan Suryopranoto.

Nama tempat atau toponim Kampung Jaga Monyet muncul pada zaman VOC, antara abad ke-17 dan 18 Masehi. Pada masa itu, di sana terdapat benteng yang dibangun Belanda dengan tujuan untuk menangkal serangan pasukan Kesultanan Banten dari arah Grogol dan Tangerang.

Kabarnya, kalau sedang tak ada serangan musuh, para serdadu di sana lebih banyak menganggur. Karena kurang kerjaan, sehari-hari mereka lebih sering cuma mengawasi kawanan monyet yang banyak berkeliaran di dalam benteng, yang pada masa itu masih dikelilingi hutan belantara. Dari kondisi itulah nama Kampung Jaga Monyet kemudian muncul.

Kampung pasukan JP Coen
Tentu saja tidak semua kampung purba di Jakarta raib atau berganti nama. Kampung Ambon di Rawamangun, yang sudah berdiri sejak awal abad ke-17 Masehi, misalnya, masih bertahan sampai sekarang dengan nama sama.

Menurut catatan sejarah, Kampung Ambon mulai dibangun pada tahun 1619. Ketika itu, panglima pasukan Belanda Jan Pieterszoon (JP) Coen baru tiba kembali di Jakarta—yang saat itu masih bernama Jayakarta—dari Maluku untuk merebut wilayah Jayakarta dari kekuasaan Kesultanan Banten. Setelah memenangi perang, JP Coen mengganti nama kota pelabuhan internasional itu, dan ia sendiri diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC keempat.

Kemenangan JP Coen tak lepas dari dukungan pasukan pribumi yang khusus ia bawa dari Ambon. Konon jumlahnya mencapai 17 kapal. Namun setelah kemenangannya, ia tak memulangkan bala tentara bantuan ini ke daerah asalnya. Sebaliknya, ia memukimkan mereka di kawasan hutan rawa di tenggara Batavia, yang wilayahnya ketika itu baru sebatas daerah Pelabuhan Sunda Kelapa dan Jakarta Kota. Permukiman tentara asal Maluku itulah yang disebut Kampung Ambon, hingga hari ini.

Meski di Kampung Ambon kini tak ada komunitas warga keturunan Ambon, di sana pernah ditemukan berbagai benda peninggalan sejarah dari zaman VOC. Di antaranya berupa pal atau patok batas wilayah setinggi satu meter dari batu cor.

Mengganti nama daerah, kampung, atau jalan, tidak dilarang, asal saja tak dilakukan dengan serampangan dan asal enak didengar. Banyak toponim lama yang juga pantas dihargai, terutama yang punya makna sejarah, baik sejarah politik, sosial, budaya, maupun sejarah lingkungan alam.

Penggantian nama secara semena-mena bukan cuma sering membuat masyarakat bingung, tetapi juga bisa mengaburkan sejarah.

Sumber: Kompas, 11 Mei 2007

Braga, Turis Pun Kini Meringis

Monday, February 27th, 2006

Braga yang dikenal turis mancanegara kini berubah menjadi wajah perkampungan kumuh. Jerit anak berebut tempat bermain di lapangan adalah sambutan hangat di Kampung Braga, Kelurahan Braga, Kota Bandung. Anak balita berlarian di antara gerobak, ember penampung air, dan jemuran kini menjadi pemandangan keseharian di Braga.

Begitu padatnya Braga sehingga anak-anak tak punya lagi tempat bermain. Padahal, Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya menceritakan, pada tahun 1800 Braga hanyalah sebuah kebun karet dan lahan pemakaman.

Tahun 1911 Jalan Braga yang pernah bernama Jalan Pedati alias Pedatieweg atau Karrenweg menjadi asri oleh pohon kenari. Baru pada tahun 1937, Braga dipenuhi dengan toko-toko.

Di belakang pertokoan, ada sebuah kampung yang dinamakan Kampung Braga. Dari jalan besar Braga, ada gang yang menjadi pintu keluar-masuk kampung ini. Gang tersebut dibuat di antara lorong bangunan yang dibangun seperti gapura sehingga tetap menyatu dengan arsitektur Braga. Braga menjadi jalan yang kesohor. Turis-turis dari mancanegara datang ke jalan ini untuk menikmati makanan di restoran-restoran, membeli pakaian bermerek, serta memborong suvenir yang banyak dijual di toko-toko Braga.

Rumah panggung

Soleh Margareta (46) mengaku lahir dan dibesarkan di kampung itu. ”Rumah-rumah di kampung ini sebagian besar adalah rumah panggung berdinding bilik. Di mana-mana ada pohon buah-buahan. Gang pun besar-besar,” tuturnya.

Sebagian besar penghuni kampung adalah pedagang. Sepulang sekolah, bersama teman-teman sebayanya, mulai di sekolah dasar sekitar tahun 1968, Soleh pergi ke Jalan Braga untuk berjualan koran atau menyemir sepatu turis.

”Dulu, turis banyak banget. Dalam sehari, saya bisa dapat Rp 200. Uang segitu setara dengan satu kemeja bermerek,” ujarnya.

Banyak turis mampir ke kampungnya. Mereka senang memotret wajah polos anak-anak Braga. Obyek favorit lainnya adalah Sungai Cikapundung. Waktu itu sungai, yang kini pekat oleh kotoran itu, masih berbatu dan hampir tak pernah sepi dari aktivitas warga. Ada yang mencuci, mandi, bahkan menjala ikan.

Kini Sungai Cikapundung ”rajin” membawa banjir lumpur dan sampah. Tahun 2004 air menggenangi rumah sampai ketinggian satu meter.

Hingga akhir tahun 1980, warga akrab dengan turis. ”Dulu turis yang datang sudah bisa berbahasa Indonesia. Bahkan, ada yang fasih berbahasa Sunda. Tidak ada hambatan komunikasi,” ujar Soleh.

Banyak anak di Braga yang disantuni dan dibiayai pendidikannya oleh para turis, termasuk Soleh. ”Waktu SD, saya punya teman bernama Bernard dari Italia. Setiap bulan dan saat ulang tahun ia selalu mengirimi saya baju atau barang-barang lain sebagai hadiah,” ujar Soleh.

Persahabatan itu terus berlangsung hingga bertahun-tahun. Ketika sahabatnya datang, Soleh selalu dijemput untuk diajak makan di restoran terkemuka di Jalan Braga.

Makin suram

Kondisi itu memicu para orangtua menyekolahkan anaknya ke jurusan pariwisata. Namun rupanya peruntungan Braga makin suram. Para pekerja pariwisata itu akhirnya melakukan kerja kasar lagi.

Kemasyhuran Braga surut tahun 1990 dan mencapai puncaknya tahun 1997. ”Toko-toko pun bangkrut,” ujar Soleh.

Kampung Braga lalu tumbuh semakin semrawut, seiring dengan bertambahnya penduduk. Sebagian besar warga Braga tak mau pindah karena posisinya di pusat kota dan dekat dengan berbagai fasilitas publik.

Mereka rela berdesak-desakan. Gang-gang lebar kini tinggal selebar 0,5 meter—habis dipakai untuk dapur warga. Tak jarang ada rumah luasnya kira-kira 20 meter persegi, tetapi dihuni dua hingga lima keluarga!

Warga pun tidak punya toilet. Mereka mandi, mencuci pakaian, dan menampung air untuk minum dari air leding di tempat-tempat mandi-cuci-kakus (MCK) yang berada di pinggir-pinggir Sungai Cikapundung.

Kegiatan membangun

Hampir setahun lalu di muka kampung ini didirikan hotel dan apartemen 19 lantai yang disebut proyek Braga City Walk (BCW). Masyarakat mulai mengeluh. ”Air susah karena sumur kering, udara pengap, dan sinar matahari terhalang. Penyakit awet, terutama flu pada anak,” kata Elin (33), warga.

Air leding yang kuning hanya menetes pada siang hari. Biasanya baru pada malam hari aliran air cukup besar. Di tengah malam warga masih beraktivitas untuk mencuci perkakas dapur atau mencuci pakaian.

Karena hanya ada sekitar lima MCK di kampung itu, warga memanfaatkan gang sempit di muka atau di samping rumah untuk tempat mencuci piring. Karena tak semua gang dilengkapi saluran limbah rumah tangga, air pun menggenang di mana-mana dan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Setiap tahun, ada saja warga yang menderita demam berdarah.

Kini, yang melintas di kampung mereka bukan lagi turis, tetapi para pekerja kasar di proyek itu. Mereka biasa berjalan-jalan di gang kampung saat hendak berangkat, pulang, atau beristirahat untuk makan.

Sebagian besar pekerja menyewa kamar sempit dengan tikar untuk tidur. Menurut Soleh, Sekretaris RW 08, ada sekitar 200 penduduk sementara yang tinggal di kampungnya sejak tahun 2005. RW 08 merupakan wilayah terdekat dengan proyek BCW. Ada lebih dari 300 keluarga atau hampir 1.200 orang tinggal di kampung ini.

Karena kedatangan penghuni baru, penduduk beramai-ramai membuka warung untuk para pekerja kasar. Sri (30) dan Tika (50) merupakan dua warga yang menyulap rumah sempitnya menjadi warung nasi. Air limbah melintasi tumpukan piring dan gelas yang belum dicuci. Membawa bau tak sedap di gang gelap. (Ynt)

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006