Archive for the 'Arsitek Indis' Category

Mengenang Karsten di Lawangsewu

Saturday, December 18th, 2004

GEDUNG Lawangsewu yang sehari-hari senyap, sejak Rabu (15/12) lalu terlihat ramai. Alunan lagu-lagu pop terdengar dari pengeras suara yang terdapat di selasar depan, menyambut kedatangan puluhan orang di bangunan tua bekas kantor Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) tersebut.

Di depan pintu utama, terpampang dua poster besar. Di sisi kanan bergambar seorang lelaki berkumis mengenakan kacamata. Tak perlu susah-susah menerka siapa tokoh itu, sebab di bawahnya tertera sebuah nama: “Ir Herman Thomas Karsten”, beserta biografi singkat yang disusun laiknya tabel.

Poster di sebelah kiri bergambar seorang lelaki dengan pakaian bersahaja dengan sebaris tulisan: “Semarang 2020 Come to the Humanizing City”, Tribute to Herman Thomas Karsten, Semarang 1914-2004.

Ya, seperti terpapar dalam poster tersebut, keramaian Lawang Sewu karena ada peringatan ulang tahun ke-90 Herman Thomas Karsten, arsitek masyhur Belanda pencipta karya-karya agung di Hindia Belanda. Acara yang digagas Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur (KITA) Semarang itu menyajikan tiga agenda utama, yakni pameran foto karya arsitektur Karsten, pameran produk arsitektur, seminar dan penganugerahan penghargaan yang berlangsung 15-18 Desember.

Pameran foto karya arsitektur Karsten digelar di dalam lima ruangan depan. Tidak semuanya, hanya yang terdapat di Kota Semarang. Bangunan-bangunan tersebut antara lain Zustermaatscappijen de Semarang (sekarang Kantor PT KAI Daop IV) di Jl MH Thamrin, Djakarta LLyod Stoomvart Nederland (Kantor PT Djakarta Llyod/ persero) Jl Kutilang, Pasar Randusari, Pasar Johar, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatscappij (Stasiun Poncol), Nederlansch Kerk (Gereja Blenduk), St Elizabeth Ziekenhuis (Rumah Sakit Elizabeth) dan Taman Diponegoro. Setiap objek ditampilkan dalam beberapa sudut pengambilan.

Aneka Perabot

Pameran produk arsitektur digelar pada beberapa ruang yang terletak sedikit ke dalam. Aneka perabot seperti kap lampu, gorden, sketsel, bantal, lukisan, water purifier (penjernih air), hingga pernik-pernik hiasan fengshui dapat disaksikan sekaligus dibeli. Pameran berlangsung tiga hari, pukul 09.00-16.00.

Lebih menarik adalah seminar arsitektur yang diadakan dua hari, 17-18 Desember. Seminar menampilkan sejumlah pakar dari beragam disiplin ilmu, antara lain Ir Albertus Sidharta MSA, Ir Antonius Ardiyanto MT, Ir AMS Darmawan, M Bldg, Ir Agung Prijo Oetomo, dan Drs Darmanto Jatman SU.

Adapun penganugerahan penghargaan arsitektur akan diberikan kepada perseorangan atau kelompok, baik swasta maupun pemerintahan yang punya kontribusi konkret terhadap arsitektur dan perkotaan di Semarang. (Rukardi-89)

Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 18 Desember 2004

Mencari Jejak Keturunan Charles Prosper Wolff Schoemaker

Monday, March 1st, 2004

TERKADANG Tuhan memberi pertolongan melalui jalan yang tak terduga. Seperti yang terjadi ketika Perhimpunan Amatir Foto (PAF) Bandung berencana merayakan hari jadinya yang ke-80 pada Februari 2004 ini. Para pengurus PAF menginginkan agar keturunan dari salah seorang pendiri PAF, Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker (1882-1949), dapat hadir dalam perayaan hari jadi tersebut. Namun, yang menjadi kendala, tak seorang pun dari pengurus atau anggota PAF yang mengetahui keberadaan keturunan dari Prof. Schoemaker itu.

Walaupun tidak memiliki keterangan apa pun tentang di mana keturunan Schoemaker berada, hal itu tidak membuat gentar Solihin, salah seorang pengurus PAF. Sejak akhir Januari lalu, dengan ulet ia membuka situs genokologi di internet, untuk melacak garis keturunan Schoemaker. Ia pun menghubungi konsulat dan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia demi mendapatkan keterangan yang dibutuhkan.

Upaya Solihin menghasilkan sedikit titik terang, saat melalui internet diketahui keberadaan salah seorang keturunan Schoemaker yang tinggal di Belanda. Solihin segera menghubungi orang tersebut dan menceritakan rencana PAF, walaupun yang bersangkutan bukan keturunan langsung Wolff Schoemaker.

Tak disangka, beberapa waktu kemudian orang Belanda itu memberi tahu Solihin bahwa ada cucu langsung dari Wolff Schoemaker yang saat ini sedang berada di Jakarta. Kepada Solihin ia memberi tahu bahwa ia telah menceritakan rencana dan niat PAF untuk menghadirkan salah seorang keturunan langsung dari Wolff Schoemaker (cucu Schomaker), yang kemudian diketahui bernama Juan Schoemaker.

Juan Schoemaker ternyata sudah berada di Indonesia selama lebih dari enam bulan. Ia adalah seorang peneliti untuk Johns Hopkins University yang sedang bertugas di Indonesia. Tanpa kesulitan yang berarti Solihin akhirnya dapat menghubungi Juan Schoemaker dan menceritakan rencananya. Juan bersedia datang ke Bandung pada hari Minggu (22/2) untuk menghadiri tabur bunga di Pemakaman Kristen Pandu yang diselenggarakan oleh PAF.

Yang membuat kisah pencarian ini semakin menarik adalah ternyata tidak hanya Solihin dan PAF yang sibuk mencari keturunan Wolff Schoemaker. Juan pun ternyata sudah sejak lama mencari “akar keturunannya” yang ada di Indonesia.

Seperti dituturkan kepada “PR”, saat tabur bunga di Pemakaman Pandu, Minggu (2/2), Juan sebenarnya sangat penasaran mengenai keberadaan kakeknya atau kerabat lainnya yang ada di Indonesia. Berbagai upaya telah ia lakukan untuk menelusuri garis keturunannya, namun selalu menemukan jalan buntu. Informasi yang ia ketahui hanya sebatas bahwa Wolff Schoemaker adalah seorang arsitek dan pernah tinggal di Indonesia.

Sampai suatu saat, ia berkunjung ke New Zealand dan menginap di sebuah hotel. Kebetulan, saat itu ia bertemu dengan seorang arsitek dan mereka terlibat dalam sebuah obrolan. Secara iseng Juan menanyakan tentang Wolff Schoemaker. Orang tersebut ternyata mengenal nama Wolff Schoemaker dan memberi tahu bahwa Wolff Schoemaker merupakan arsitek ternama di Indonesia dan dimakamkan di Bandung.

Pada sebuah akhir pekan di bulan Juni 2003, Juan sengaja berkunjung ke Bandung hanya untuk mencari informasi tentang keberadaan makam kakeknya. Setiba di Bandung ia langsung menanyakan di mana letak pemakaman Kristen. Akhirnya ia dibawa ke Pemakaman Pandu. Namun, betapa kecewanya dia ketika di dalam arsip Pemakaman Pandu nama Wolff Schoemaker tidak tercatat.

Juan nyaris meninggalkan Bandung hari itu juga, namun ia merasa penasaran untuk menanyakan kepada pedagang bunga di Pemakaman Pandu. Ia berpikir siapa tahu para pedagang ini lebih tahu tentang orang-orang yang dimakamkan di Pandu. Ternyata para pedagang bunga itu memang mengetahui makam Wolff Schoemaker.

Akhirnya pencarian Juan mendapat hasil, ia dapat berdiri di hadapan pusara kakeknya, Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker di Pemakaman Pandu Bandung.

Pada bulan Agustus 2003, Juan kembali berangkat ke Indonesia. Kali ini untuk menjalankan tugasnya sebagai peneliti masalah sosial.

**

LALU bagaimana Juan Schoemaker bisa tahu PAF sedang mencari keturunan Wolff Schoemaker? Prosesnya pun terjadi secara kebetulan juga. Seperti dituliskan di atas, Juan pernah mengunjungi New Zealand dan bertemu dengan seorang arsitek. Arsitek tersebut kebetulan teman dari orang Belanda yang dihubungi Solihin. Ia memberi tahu temannya itu bahwa ada seseorang yang juga bernama belakang Schoemaker sedang mencari kakeknya yang bernama Wolff Schoemaker. Akhirnya diketahui bahwa orang Belanda itu ternyata saudara sepupu Juan. Arsitek itu kemudian memberi informasi keberadaan Juan.

Dua anggota keluarga yang pareumeun obor itu akhirnya melakukan kontak dan Juan kemudian tahu bahwa dirinya sedang “dicari” untuk menghadiri perayaan hari PAF. “Ini kedua kalinya saya datang ke makam kakek saya. Banyak kejadian yang terjadi secara kebetulan dalam perjalanan saya mencari garis keturunan dan kerabat saya. Dengan berbagai peristiwa ini membuat saya semakin bersemangat untuk terus mencari keberadaan kerabat-kerabat saya,” ujarnya.

Juan mengisahkan, ia dilahirkan di Paraguay dan sudah ditinggalkan ayahnya sejak usia tiga tahun. Ia kemudian bersekolah di Amerika Serikat dan menjadi warga negara di sana. Sejak masih muda Juan selalu penasaran tentang garis keturunannya. Yang ia tahu, ayahnya adalah keturunan Belanda yang lahir di sebuah negara bernama Indonesia, kemudian pindah ke Paraguay dan menikahi ibunya, seorang perempuan Paraguay asli. “Tetapi saya punya akar yang cukup kuat di Indonesia. Ayah saya lahir di Indonesia, kakek saya juga lahir di Indonesia, begitu juga nenek buyut saya lahir di Batavia. Saya juga merasa sangat bangga ternyata kakek saya merupakan tokoh terkenal,” tuturnya.

**

SIAPAKAH Wolff Schoemaker? Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, selain salah seorang pendiri PAF, ia adalah seorang arsitek Belanda yang terlibat dalam membentuk wajah Bandung tempo dulu. Berbagai bangunan bersejarah di Bandung merupakan hasil karyanya. Gereja Kathedral di Jln. Merdeka, Gereja Bethel di Jln. Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Gedung Asia Afrika dan Gedung PLN Bandung merupakan sebagian dari hasil karyanya. Wolff Schoemaker juga dikenal sebagai salah seorang guru Ir. Soekarno, saat proklamator kemerdekaan itu belajar di ITB.

Menurut David B. Soediono dari Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau Bandung Heritage, karya Wolff Schoemaker memiliki ciri-ciri khusus. Schoemaker, ujar David, selalu memasukkan unsur tradisional Indonesia ke dalam bangunan bergaya Barat. “Coba saja lihat di Bioskop Majestic, unsur tradisional terlihat relief di pintu masuknya. Contoh yang sama terlihat di Gedung Landmark,” jelasnya.

Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jabar, Ir. Ridwan Kurnia, karya Schoemaker di Bandung seharusnya tetap dipertahankan karena merupakan bagian dari sejarah. Menurutnya, ada beberapa karya Schoemaker yang telah diruntuhkan, termasuk bekas tempat tinggalnya di Jln. Sulanjana. Namun untung, walaupun sempat diratakan dengan tanah, pemilik baru lahan itu rela membangun kembali bangunan yang diratakan sesuai dengan aslinya setelah Ridwan memberi penjelasan tentang nilai sejarahnya. (Zaky/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 01 Maret 2004