Archive for the 'Pengumuman' Category

Siaran Pers Pembongkaran Gedung Tua Karawaci

Wednesday, December 10th, 2008

Mohon bantuan rekan2 untuk memposting siaran pers ini di site / blognya masing2 untuk membantu menyelamatkan warisan budaya dan sejarah bangsa ini.

Sekedar informasi, meskipun telah membahas gedung ini dengan detail dibukunya, walikota Tangerang kepada Jakarta Post tgl 11 Desember 2008, mengatakan kalau tidak mengetahui keberadaan gedung ini. Nyatakan partisipasi anda dengan mengunjungi gedung ini.

SIARAN PERS

Tangerang Terancam Amnesia Sejarah

Rumah Perkebunan Karet di Karawaci Tangerang dalam kondisi kritis. Dalam pertemuan yang diadakan WALIBATU (Warga Peduli Bangunan Tua) di Bakoel Koffie, Jl. Cikini Raya, Rabu 10 Desember kemarin, banyak orang menyuarakan agar pemerintah dan masyarakat segera beraksi menyelamatkannya. Sejauh ini, media seperti Kompas, Jurnal Nasional, Media Indonesia, Warta Kota, dan The Jakarta Post telah menuliskan. Bahkan laporan atas kasus ini ada yang dibuat sampai tiga edisi (misalnya The Jakarta Post). Demikian pula jaringan Radio CVC, sebuah radio Australia berbahasa Indonesia (www.cvc.tv) yang siarannya dapat didengar melalui streaming internet di www.cvc.tv, radio gelombang SW, dan dipancarkan oleh 20 radio dari Aceh sampai Papua. Namun hingga sekarang belum nampak langkah konkret Pemerintah Kota Tangerang untuk menyelamatkannya.

Budi Lim (arsitek), Pia Alisyahbana (tokoh masyarakat yang menaruh perhatian pada pelestarian budaya), Adolf Heuken (pernulis buku Historical Sites of Jakarta), dan Yori Antar, arsitek yang dikenal pula sebagai fotografer, dengan kalimat masing-masing, dalam pertemuan itu, menekankan posisi penting bangunan ini karena nilai sejarahnya. Demikian pula sejumlah wartawan dari berbagai koran, majalah, radio, dan televisi, serta warga masyarakat maupun pengajar sebuah universitas, yang hadir dalam pertemuan itu.

WALIBATU berpendapat bahwa dari sisi arsitektur, bangunan ini merupakan bagian dari jejak sejarah arsitektur di Indonesia. Rumah utama bergaya arsitektur China, sedang rumah lain bergaya indis (gabungan unsur Eropa dan tropis). Mona Lohanda dalam buku “Kapiten Cina of Batavia 1837-1942” mengungkapkan rumah ini dibangun pada awal abad ke-18 oleh Letnan China Oey Djie San yang menguasai perkebunan di Karawaci, Cilongok. Selain itu, rumah ini merupakan landhuis terakhir yang masih bersisa di sekitar Jakarta, dan kondisinya terbilang utuh. Bangunan ini mulai dibongkar sekitar September 2008 atas suruhan ahli waris; elemen-elemen bangunannya telah dijual ke pihak lain.

Yori Antar bahkan mengingatkan, “Tangerang akan amnesia sejarah jika bangunan ini hilang.” (amnesia dikenal sebagai salah satu penyakit kehilangan ingatan/memori). Ia mendorong masyarakat agar melaporkan jika terdapat arsitek yang terlibat, ke IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). Heuken memastikan bahwa bangunan ini masuk Cagar Budaya karena usianya lebih dari 50 tahun. Di samping meninggalkan jejak arsitektur, bangunan itu juga menandai pembukaan Tangerang sebagai kawasan perkebunan, dan kelak pemukiman. Ia mengingatkan betapa pentingnya peninggalan bersejarah untuk mengenal asal-usul suatu warga. “Jangan nanti kita hanya bisa melihat dari potretnya,” kata Heuken. Pia Alisyahbana, yang juga seorang penerbit dan menjadi inisiator penggalangan dana untuk penyelamatan Gedung Arsip Nasional, mendorong agar pemerintah kota mencari upaya agar pengusaha di Tangerang dapat ikut menyelamatkan bangunan ini. Budi Lim, yang dikenal sebagai arsitek yang bersama Han Awal memugar gedung Arsip Nasional dan mendapat award dari UNESCO, mengatakan, saat ini masyarakat perlu mengambil langkah konkret. Peraturan pemerintah dan UU perlu, bahkan sangat perlu, namun tidak cukup. Diperlukan gerakan masyarakat untuk menghimpun dana, dari jumlah berapapun, agar gedung tersebut dapat diselamatkan dengan cara dibeli.

“Ibaratnya, ada seseorang yang dimutilasi satu per satu bagian tubuhnya di hadapan kita. Apakah kita menunggu suatu aturan? Kita harus menyelamatkannya,” ujar Budi Lim. Ia mengajak menempuh aksi donasi masyarakat. “Kalau dulu kita ketok pintu konglomerat, sekarang ketok semua pintu. Yang mau nyumbang 100.000 atau 50.000 rupiah juga silakan.” Budi Lim mengingatkan, style bangunan itu masih lengkap dengan situs-nya. Bangunan jenis ini dibuat di Indonesia dan kemudian “turunannya” nampak di Sri Lanka dan beberapa kota di belahan dunia yang lain. “Masakan kita malah membongkarnya, sementara di negara lain malahan bisa merawatnya?”

Seorang wartawan mengatakan, bagunan tsb, karena usia dan style-nya, sudah dapat dimasukkan sebagai benda cagar budaya. Karena dilindungi oleh UU, pembongkaran atas bangunan tesebut akan berhadapan dengan hukum. UU Cagar Budaya (BCB) No. 5 Tahun 1992 memang menyebutkan definisi benda cagar budaya itu.

WALIBATU juga memperlihatkan sebuah surat dari Ronald G. Knapp, SUNY Distinguished Professor and Chairman Departement of Geography, State University of New York at New Paltz. Knapp adalah penyusun buku Chinese Houses: The Architectural Heritage of Nation (2005) dan Chinese Bridges: Living Architecture from China’s Past (2008). Knapp pernah mengunjungi Rumah Perkebunan Karet di Karawaci. “It is very, very sad to see these efforts to destroy an historically – and architecturally – significant residence. This is especially painfull for those who value the multi-cultural and multi-ethnic heritage in Indonesia. It is a tragedy to see that the demolition has already begun!,” demikian antara lain bunyi surat Knapp.

Sejauh ini Walikota Tangerang, Wahidin Halim, belum menunjukkan langkah konkret untuk menyelamatkan bangunan tersebut. Di dalam situs resmi Pemkot Tangerang, Wahidin Halim menulis sebuah buku dengan judul Ziarah Budaya Kota Tangerang, di mana di dalamnya terkandung situs Rumah Perkebunan Karet di Karawaci sebagai salah satu jejak sejarah kota Tangerang.

WALIBATU sejauh ini telah menghimpun 22 tanda tangan warga. Jumlahnya diharapkan akan bertambah banyak lagi. Petisi untuk penyelamatan Rumah Perkebunan Karet Karawaci ini akan dikirimkan ke Walikota Wahidin Halim pada Jumat besok. Tembusan dikirim ke Menteri Budpar, Menteri Diknas, dan Gubernur Jawa Barat. “Kami memberi kesempatan kepada warga yang peduli untuk ikut serta menandatangi surat ini,” ujar Mahandis Yoanata, dari Walibatu.

Sejumlah rekan wartawan yang hadir, mengingatkan bahwa surat saja tidak cukup. Diperlukan suatu aksi yang lebih konkret. Misalnya, ada yang mengusulkan, membuat demo. WALIBATU, yang merupakan forum cair warga yang merasa peduli dengan bangunan tua, sedang memikirkan langkah lanjutan setelah mengirim surat. WALIBATU menunggu dan menyambut partisipasi Anda. Dimana pun Anda berada. Akankah Anda menatap masa depan, dengan menghilangkan sejarah Anda?

WALIBATU adalah forum cair dimana terhimpun warga yang menaruh kepedulian terhadap pelestarian bangunan tua, dengan partisipan dari beragam profesi dan usia. Alamat milis: walibatu@yahoogroups.com. Kontak Person: Yoanata HP 08159958115

Kliping Berita:
1. Gedung Tua di Tangerang Dibongkar, Ong, KOMPAS, 4 Desember 2008.
2. Unprotected Chinese, Indisch Buildings Razed in Tangerang, Mariani Dewi, THE JAKARTA POST, 7 Desember 2008
3. Sebelum Tinggal Puing, Silvia Galikino, JURNAL NASIONAL, 7 Desember 2008
4. Tangerang Belum Punya Perda Cagar Budaya, Pembongkaran Rumah ‘Si Pitung’ di Karawaci, Cel, WARTA KOTA, 6 Desember 2008.
5. Rumah Tuan Tanah yang Hampir Punah, David Christian, Corysha FP Akmalsyah, MEDIA INDONESIA, 5 Desember 2008.
6. Public Want Houses Saved, Govt Shrugs, Mariani Dewi dan Multa Fidrus, THE JAKARTA POST, 10 Desember 2008.
7. Daerah Harus Punya Penilik Kebudayaan, Sidik Pramono, MEDIA INDONESIA, 9 Desember 2008.
8. Stop Pembongkaran! Rumah Tua Perkebunan Karet Karawaci, Pra, WARTA KOTA, 11 Desember 2008.
9. Petition Signed to Save Heritage Buildings, Mariani Dewi, THE JAKARTA POST, 11 Desember 2008.

Stop Pembongkaran! Rumah Tua Perkebunan Karet Karawaci

Wednesday, December 10th, 2008

Cikini, Warta Kota
Atas nama hukum, Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu) mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menghentikan pembongkaran rumah tua perkebunan karet di Karawaci, Tangerang.

Rumah tua berarsitektur campuran Indische-Belanda dan Tionghoa itu terletak di Jalan Imam Bonjol RT 04/03 No 142, Karawaci, Kota Tangerang.

Dasar penghentian pembongkaran itu tak lain adalah payung hukum berupa UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB). Jika pembongkaran tak segera dihentikan, Walibatu khawatir Tangerang akan menjadi kota yang amnesia. Kamis (11/12) ini, surat permohonan itu diharapkan sudah diterima Wali Kota Tangerang Wahidin Halim.

Demikian hasil diskusi yang digelar Walibatu di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (10/12). Diskusi ini menghadirkan dedengkot Walibatu Adolf Heuken yang adalah penulis buku-buku sejarah Jakarta, Pia Alisyahbana, Budi Lim (arsitek yang biasa mengonservasi bangunan), Yori Antar (arsitek), dan Mahandis Yoanata.

“Ini adalah kasus klasik. Kita selalu saja kehilangan contoh arsitektur luar yang sudah menjadi arsitektur Indonesia. Kita nggak bisa lagi bergantung pada pemerintah atau aturan hukum. Kita harus bergerak mengampanyekan penyelamatan bangunan tua, termasuk bangunan kebanggaan Oey Djie San ini,” kata Budi Lim.

Kampanye penyelamatan yang sudah sangat mendesak ini tak lain adalah dengan mengirimkan surat kepada pemilik wilayah tersebut. “Kita memohon kepada wali kota untuk menghentikan pembongkaran dan menjamin terpeliharanya bangunan cagar budaya, karena itu adalah bagian dari sejarah Tangerang dan peradaban Kota Tangerang,” tutur Dharmawan Handonowarih, anggota Walibatu, saat membacakan surat permohonan.

Dalam diskusi juga terlontar agar Walibatu mengajak semua elemen yang peduli pada bangunan bersejarah untuk ikut menyuarakan antipembongkaran bangunan bersejarah. Menghimpun tanda tangan adalah salah satu cara meski cara lain, yaitu menduduki kawasan bangunan bersejarah di Karawaci, menjadi cara paling efektif.

“Itu hak kita dan memang ada UU-nya bahwa bangunan bersejarah dilindungi. Jangan sampai kita terlambat bertindak dan Tangerang menjadi kota amnesia, kehilangan sejarah,” timpal Yori Antar.

Membiarkan
Alasan Pemkot Tangerang yang terkesan ‘membiarkan’ pembongkaran karena belum memiliki peraturan (Warta Kota, 6/12), seperti yang sudah dimiliki Provinsi DKI (SK Gubernur No 475 Tahun 1993 tentang Bangunan Cagar Budaya dan Perda No 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya), tak bisa diterima begitu saja. Sebab, ada UU BCB yang sudah ada sejak 16 tahun lalu.

Adolf Heuken menekankan pentingnya pemahaman nilai sejarah bangunan perkebunan karet itu. Pasalnya, bangunan tersebut punya tiga gaya arsitektur yang unik, yakni China, Indische, dan Jawa. Bangunan itu menandakan titik perkembangan pembukaan hutan.

“Gedung atau bangunan ini bisa bercerita, karena menjadi bukti sejarah yang nyata bagaimana dulu hutan dibuka dan dijadikan perkebunan di luar Jakarta. Kalau hilang, kita menjadi bangsa yang bodoh, tidak punya ingatan akan sejarahnya,” tandas Heuken tentang bangunan yang kepemilikannya juga belum jelas itu. (pra).

Sumber: Harian Warta Kota, 10 Desember 2008